Hari Merah Putih yang Terganti Merah Muda

F. G. Tangkudung
15 Feb 2019 16:19
Pustaka 0 497
3 menit membaca

Tak salah jua, kini banyak generasi muda merayakan hari kasih sayang. Tapi sudah seharusnya, ada porsi untuk mencurahkan kasih sayang buat para pejuang dulu. Memperingati Hari Merah Putih.

Sepasang muda-mudi bergandengan tangan berjalan melintasi kerumunan orang. Tampak jelas keduanya sedang kasmaran. Kostumnya pun sama merah muda. Sesekali keduanya saling merapatkan pipi dan berpelukan.

Terdengar tanya dari sang cewek.

“Upacara apa ini, memangnya hari ini peringatan apa?,” tanyanya.

Sang pasangan pun hanya mengangkat bahu dan mengernyitkan kening tanda ketidaktahuannya.

Hari itu tanggal 14 Februari yang begitu terkenal dengan Valentine Day. Budaya asing yang masuk ke Indonesia untuk memperingati hari kasih sayang.

Menurut cerita, ini merupakan peringatan hari eksekusi Pastor Valentine yang  pada waktu itu menentang kebijakan Kaisa Romawi. Dia tetap memperjuangkan kasih sayang antar anak manusia yang waktu itu tidak boleh karena para laki-laki harus menjadi tentara kerajaan.

Namun, di tanggal yang sama, di tahun 1946 di Sulut terjadi sebuah peristiwa heroik, Hari Merah Putih.

Mungkin banyak yang tidak tahu, bahkan di kalangan warga Sulut, hari tersebut sama halnya tanggal 10 November 1945 di Surabaya, dimana masyarakat Sulut mempertahankan kemerdekaan dari penjajah.

Kala itu, para pejuang daerah pimpinan Komandan Taulu dan Wuisan Cs, mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan bangsa penjajah.

Peristiwa ini tidak boleh terlupakan, karena pasca kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 lalu, sebagian besar wilayah Indonesia timur masih di bawah kekuasaan bangsa penjajah. Demi mempertahankan kemerdekaan RI yang baru seumur jagung itu, kaum nasionalis Sulut menghimpun seluruh potensi kekuatannya.

Dengan gagah berani, tepat pukul 01.00 tengah malam, Taulu dan Wuisan bersama komandan Frans Bisman dan Freddy Lumanau mulai melakukan aksi penyerangan dan menangkap seluruh tentara beserta komandan penjajah mulai dari Manado, Tomohon hingga Tonsea.

Bukan hanya itu, para pejuang nasionalis lainnya yang jadi tawanan seperti Nani Wartabone, OH Pantouw, Geda Dauhan termasuk John Rahasia dan Chris Pontoh berhasil bebas.

Keesokan harinya, KNIL mengakui kemerdekaan Indonesia dan merelakan bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya di Sulawesi Utara.

Kini tak banyak lagi generasi muda yang tahu akan sejarah tersebut. Sebagian besar generasi muda kehilangan nasionalisme dan patriotisme akibat kurangnya pendidikan yang berbasis sejarah. Sejumlah nama pahlawan besar bahkan kini terasa asing di telinga mereka. Parahnya, teknologi kini membuat mereka lebih banyak menyerap budaya asing alih-alih mencintai budaya sendiri.

Tak salah memang, saat masa kemerdekaan Bung Karno mempopulerkan istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Mungkin kala itu, Bung Karno sudah memprediksi suatu saat nanti, banyak generasi muda yang tak lagi peduli dengan sejarah dan perjuangan bangsanya.

Tak salah jua, kini banyak generasi muda merayakan hari kasih sayang. Tapi sudah seharusnya, ada porsi untuk mencurahkan kasih sayang buat para pejuang dulu. Memperingati Hari Merah Putih.

Syafruddin dan Assaat, Presiden RI yang Terlupakan

Tanpa perjuangan mereka, kini kita tak bisa menikmati keromantisan bersama orang-orang tersayang.

Selamat Hari Merah Putih… Selamat Hari Valentine…

Penulis: Kayla Carissa

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *