11 Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara

Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Utara

Pahlawan Nasional Sulawesi Utara

Robert Wolter Mongisidi 

Robert Wolter Mongisidi lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 14 Februari 1925. Dia merupakan Pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Bote, panggilan akrabnya, berasal dari suku Bantik, sub suku Minahasa.

Pada 28 Februari 1947, Bote tertangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan.  Namun, pada 17 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Bote berhasil menyelundupkan 2 granat dengan menyisipkannya dalam roti.

Bote dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri melalui cerobong asap dapur setelah sebelumnya meledakkan dengan granat.

Belanda yang makin marah, kemudian menawarkan hadiah besar bagi siapa yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Bote dan kawan-kawannya.

Sayang, hanya sepuluh hari sejak pelariannya, pasukan Belanda kembali menangkap Bote karena tempat persembunyiannya dibocorkan.

Dia gugur di usia masih sangat muda, 24 tahun ketika dieksekusi oleh regu tembak Belanda. Pada tanggal 6 November 1973, Bote mendapat gelar Pahlawan Nasional oleh RI . Sang ayah, Petrus Mongisidi menerima langsung gelar pahlawan itu.

Baca Selengkapnya: Robert Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

John Lie 

Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan kemudian hari kemudian berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma.

John Lie lahir di Manado, pada tanggal 9 Maret 1911 dari orang tua Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Dia mendapatkan gelar pahlawan Pahlawan Nasional Tahun 2009.

Keturunan Tionghoa ini, terkenal sebagai ‘Hantu Selat Malaka’ karena kehebatannya mengarungi keganasan laut tanpa terlihat. Pahlawan nasional Sulawesi Utara ini mengajarkan arti pengorbanan dan cinta tanah air.

Baca Selengkapnya: John Lie, Hantu Selat Malaka yang Jadi Pahlawan Nasional

Lambertus Nicodemus Babe Palar 

Lambertus Nicodemus Palar lahir di Rurukan, Kota Tomohon, pada 5 Juni 1900 dari pasangan Gerrit Palar dan ibunya bernama Jacoba Lumanauw. Dia kemudian lebih populer dengan nama Babe Palar.

Babe Palar mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat handal. Babe Palar mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2013.

Palar adalah diplomat Indonesia pertama di PBB serta menjadi satu-satunya tokoh diplomasi yang pernah menjabat  Duta Besar di tujuh negara.

Baca Selengkapnya: Babe Palar, Diplomat Indonesia Pertama di PBB

Bernard Lapian 

Bernard Wilhelm Lapian terlahir tanggal 30 Juni 1892 di Kawangkoan Minahasa. Dia sering disebut sebagai pejuang tiga zaman, karena berjuang saat pemerintahan Belanda, saat penjajahan Jepang hingga masa kemerdekaan.

Dia turut mendirikan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933 sebagai bentuk penolakan bentuk kolonialisme.

Lapian pernah menjabat Gubernur Provinsi Celebes kedua periode 17 Agustus 1950 sampai 1 Juli 1951. Dia mendapat gelar Pahlawan Nasional tanggal 5 November 2015.

Baca Selengkapnya: Bernard Lapian, Si Kritis Pendobrak Tirani Kolonial

 Alex A. Maramis 

Alex Maramis menjadi tokoh yang mengusulkan perubahan butir pertama dari rumusan yang terkenal dengan Piagam Jakarta tesebut.

Alex Maramis juga menjadi anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.

Tim ini bertugas membuat perubahan tertentu sebelum rumusan disetujui pleno BPUPKI.

Alex juga nantinya bersama Moh Hatta, AG Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo menjadi Panitia Lima untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.

Baca Selengkapnya: AA Maramis, Tokoh Perumus Pancasila dan Pencetak Uang RI

Arnold Mononutu

Bernama lengkap Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, dia lebih familiar dengan nama Arnold Mononutu.

Dia dikenal lantang bersuara dalam setiap forum yang melibatkannya.

Persahabatannya dengan Mohammad Hatta sejak masih kuliah di belanda, membuatnya menjadi tokoh sentral perwakilan Indonesia Timur.

Arnold Mononutu memang pernah menjadi Ketua Parlemen Negara Indonesia Timur.

Pasca berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, Arnold mengganti nama Batavia menjadi Jakarta.

Pria kelahiran Sulawesi Utara 4 Desember 1896 ini kemudian menjabat Menteri Penerangan tiga periode.

Arnold Mononutu menjabat Menteri Penerangan dalam kabinet RIS menggantikan Mr. Sjamsuddin sejak tanggal 20 Desember 1949 hingga tanggal 6 September 1950.

Ketika kabinet Sukiman-Suwiryo, dia kembali menempati jabatan tersebut sejak 27 April 1951-3 April 1952.

Kemudian saat Wilopo menjabat sebagai perdana menteri, Arnold kembali menjabat Menteri penerangan tanggal  3 April 1952 -30 Juli 1953.

Arnold Mononutu kemudian menjadi anggota Majelis Konstituante (1956–1959) mewakili Partai nasional Indonesia (PNI), setelah selesai bertugas sebagai Dubes Indonesia pertama untuk RRC (1953–1955).

Hal unik, adalah ketika Arnold yang merupakan seorang tokoh Kristen lebih memilih PNI ketimbang Partai Kristen Indonesia (Parkindo) yang juga partai besar saat itu.

Meski begitu, Arnold Mononutu terkenal gigih memperjuangkan idealismenya meski tokoh Kristen waktu itu tergolong minoritas.

Baca Selengkapnya: Arnold Mononutu, Kristen Idealis Penegak Pancasila

Bataha Santiago

Santiago lahir di Bowongtiwo (sekarang bernama Desa Kauhis Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe) pada tahun 1622 dari pasangan Raja Tompoliu dan Permaisuri Lawewe.

Bernama lengkap Don Jugov Santiago, ia adalah raja ketiga Kerajaan Manganitu yang memerintah pada tahun 1670-1675.

Pada November 2023, Bataha Santiago mendapat gelar Pahlawan Nasional bersama 5 pahlawan lain lewat Keputusan Presiden Nomor 115-TK-TH-2023 tertanggal 6 November 2023.

Santiago yang mendapat gelar Bataha (sakti), naik takhta menggantikan ayahnya yang mangkat pada tahun 1670.

Pahlawan Lain

SAYANG, ada beberapa nama yang jasanya juga tak kalah penting untuk kemerdekaan RI belum mendapat gelar Pahlawan.

Mereka yang belum masuk daftar Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Utara seperti  Daan Mogot, Frans Mendur dan Alex Mendur.

Penulis: F. G. Tangkudung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *