STROKE sering datang tiba-tiba, tetapi akarnya tidak selalu tiba-tiba. Ia kerap tumbuh pelan dari kebiasaan harian: tekanan darah yang dibiarkan tinggi, konsumsi garam yang berlebihan, makanan tinggi lemak, kurang sayur dan buah, kurang aktivitas fisik, serta obesitas. Di Indonesia, stroke masih menjadi persoalan kesehatan publik yang serius. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stroke berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023 sebesar 8,3 per 1.000 penduduk, dan stroke menjadi salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, mencapai sekitar Rp5,2 triliun pada 2023.
Bagi Kota Manado, isu ini perlu dibaca bukan hanya sebagai urusan rumah sakit, tetapi juga sebagai urusan dapur, pasar, keluarga, dan kebijakan pangan lokal. Manado memiliki kekayaan pangan yang kuat: ikan laut seperti cakalang dan tuna, sayur-sayuran dalam tinutuan, daun gedi, kangkung, bayam, labu kuning, jagung, ubi, pisang, serta buah tropis. Pangan lokal ini sebenarnya dapat menjadi modal pencegahan stroke jika diolah dengan prinsip gizi seimbang: cukup protein, tinggi serat, kaya kalium, rendah garam, rendah lemak jenuh, dan tidak berlebihan dalam penggunaan minyak, santan, gula, serta makanan ultra-proses.
Masalahnya, makanan lokal yang sehat dapat berubah menjadi faktor risiko bila cara pengolahannya tidak dikendalikan. Ikan cakalang, misalnya, adalah sumber protein dan asam lemak baik. Meta-analisis menunjukkan konsumsi ikan dan asupan omega-3 rantai panjang berhubungan dengan penurunan risiko stroke, walaupun manfaat ini lebih tepat diarahkan pada konsumsi ikan sebagai pangan utuh, bukan sekadar suplemen. Namun, ketika ikan diolah terlalu asin, diasap berlebihan, digoreng berulang, atau dipadukan dengan sambal tinggi garam dan minyak, manfaat gizinya dapat berkurang.
Demikian pula tinutuan: secara konsep ia adalah pangan lokal kaya sayur dan serat, bahkan penelitian tentang tinutuan menyebutnya sebagai makanan khas Manado/Sulawesi Utara yang dibuat dari berbagai sayuran dan dapat dianalisis kandungan gizinya. Tetapi manfaatnya akan lebih optimal bila tidak “ditenggelamkan” oleh lauk pendamping tinggi garam, gorengan, atau porsi nasi/karbohidrat yang berlebihan.
Secara ilmiah, jalur gizi menuju stroke paling kuat berjalan melalui hipertensi.
Asupan natrium yang tinggi dan rasio natrium-kalium yang tidak seimbang dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke; sebaliknya, pola makan kaya kalium dari sayur dan buah membantu mendukung pengendalian tekanan darah. Pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) juga konsisten dikaitkan dengan penurunan tekanan darah dan risiko kardiometabolik. Meta-analisis pada Nutrients tahun 2023 menyatakan kepatuhan yang lebih tinggi terhadap diet DASH berhubungan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah. Studi meta-analisis lain juga melaporkan bahwa peningkatan kepatuhan terhadap DASH berkaitan dengan penurunan mortalitas, termasuk mortalitas akibat stroke.
Dalam konteks Manado, prinsip DASH tidak harus diterjemahkan sebagai pola makan “asing”. Ia bisa diterjemahkan menjadi DASH berbasis pangan lokal Manado: lebih sering makan tinutuan kaya sayur, memperbanyak ikan laut segar yang dibakar/kuah/asam daripada digoreng, memperbanyak buah lokal, memilih kacang-kacangan dan umbi sebagai variasi karbohidrat, serta membatasi garam, penyedap, makanan olahan, daging berlemak, dan gorengan. Dengan kata lain, pencegahan stroke tidak harus memusuhi kuliner lokal; yang perlu diperbaiki adalah frekuensi, porsi, dan teknik pengolahannya.
Dari sisi pembiayaan kesehatan, stroke adalah penyakit yang mahal karena tidak berhenti pada fase akut.
Setelah serangan pertama, pasien sering membutuhkan rawat inap, pemeriksaan penunjang, obat jangka panjang, fisioterapi, kontrol rutin, alat bantu, serta dukungan keluarga. Beban biaya tidak hanya ditanggung oleh JKN/BPJS Kesehatan, tetapi juga keluarga: biaya transportasi, pendamping pasien, kehilangan pendapatan, dan perawatan jangka panjang. Karena itu, pencegahan melalui gizi bukan sekadar pesan moral, tetapi strategi ekonomi kesehatan.

Estimasi di atas masih konservatif. Pada kasus stroke berat, biaya per pasien bisa jauh lebih besar karena rawat inap lebih lama, komplikasi, ICU, rehabilitasi berulang, disabilitas, dan kebutuhan pendampingan jangka panjang. Kajian terbaru tentang biaya stroke di Indonesia juga menekankan bahwa data biaya diperlukan untuk merumuskan kebijakan karena stroke menimbulkan dampak finansial besar bagi sistem kesehatan dan rumah tangga.

Pencegahan stroke di Manado harus dimulai dari pendekatan yang dekat dengan budaya makan masyarakat. Edukasi gizi tidak cukup hanya mengatakan “kurangi garam” atau “makan sayur”. Pesannya harus lebih kontekstual: tinutuan jangan kalah oleh gorengan; ikan laut jangan rusak oleh garam berlebih; rica boleh, tetapi minyak dan garam harus terkendali; sayur lokal harus naik kelas dari pelengkap menjadi menu utama.
Kota Manado memiliki modal pangan yang kuat untuk membangun gerakan pencegahan stroke. Yang dibutuhkan adalah perubahan kecil tetapi konsisten: mengurangi garam, membatasi makanan olahan, memperbanyak sayur dan buah, memilih protein ikan dengan cara masak yang lebih sehat, menjaga berat badan, serta melakukan skrining tekanan darah dan gula darah secara berkala.
Riset lokal juga mendukung pentingnya edukasi gizi dan perilaku konsumsi; Jurnal GIZIDO Poltekkes Kemenkes Manado pada 2024–2025 memuat artikel terkait literasi label gizi untuk pencegahan PTM, konsumsi sayur-buah, serta faktor konsumsi yang berhubungan dengan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Pada akhirnya, stroke bukan hanya urusan neurologi. Stroke adalah urusan gizi, urusan ekonomi keluarga, dan urusan kebijakan publik. Bila satu serangan stroke dapat mengubah hidup satu keluarga, maka satu piring makan sehat setiap hari dapat menjadi investasi kesehatan masyarakat. Manado tidak kekurangan pangan bergizi; tantangannya adalah menjadikan pangan lokal sebagai benteng, bukan pintu masuk, bagi penyakit katastropik.
Penulis:
Steven Jacub Soenjono
Mahasiswa S3 Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Unhas Makassar

