Kajian Ekonomi Penyakit Diabetes Mellitus di Kota Manado Sulawesi Utara

Kajian Ekonomi Penyakit Diabetes Mellitus di Kota Manado Sulawesi Utara

Hubungannya dengan Kekayaan Bahan Pangan Lokal sebagai Landasan Strategi Pencegahan Berbasis Pangan

PERSOALAN Diabetes Mellitus (DM) telah bertransformasi menjadi darurat kesehatan publik di Kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Mengacu pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka kejadian DM yang telah ditetapkan secara klinis oleh tenaga medis di Sulawesi Utara tercatat sebesar 2,1% — posisi ini menempatkan provinsi tersebut sebagai peringkat kelima paling terbebani DM di seluruh Indonesia.

Kota Manado secara khusus menanggung 12.991 kasus, di mana Puskesmas Tuminting saja mencatat lonjakan dari 1.561 kasus pada 2022 menjadi 1.909 kasus setahun kemudian. Implikasi finansialnya — baik yang bersifat biaya medis langsung maupun kehilangan produktivitas jangka panjang — menggerogoti kemampuan bertahan sistem jaminan kesehatan nasional, mengingat tiga perempat (74%) dari keseluruhan pengeluaran DM secara nasional terkonsentrasi pada pengelolaan komplikasi penyakit.

Dokumen kebijakan ini menyoroti dua hal sekaligus: pertama, seberapa besar beban ekonomi yang ditimbulkan DM di Kota Manado; dan kedua, bagaimana potensi sumber bahan pangan yang ada di Sulawesi Utara — di antaranya Jagung Manado Kuning (varietas Zea mays endemik lokal), hasil tangkapan laut, sagu, kelapa, serta produk hortikultura dari dataran tinggi Minahasa — dapat dikerahkan sebagai strategi pencegahan yang hemat biaya berbasis pangan.

Seluruh rekomendasi yang dihasilkan ditujukan kepada Pemerintah Kota Manado, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, serta para pemangku kepentingan di sektor pangan dan gizi.

 

Konteks dan Gambaran Epidemiologi

Peta Epidemi DM: Dari skala Global hingga Regional

Pada tataran global, DM menempati posisi sebagai salah satu penyakit tidak menular paling membebani sistem kesehatan dunia. Federasi Diabetes Internasional (IDF) mencatat bahwa pengeluaran untuk penanggulangan DM secara global telah menyentuh angka USD 760 miliar pada 2019, dan tekanan ini diproyeksikan akan terus meningkat mengikuti lonjakan jumlah penderita yang diperkirakan mendekati 700 juta jiwa pada 2045.

Khusus untuk Indonesia, angka prevalensi DM diperkirakan akan meningkat dua kali lipat lebih — dari 9,19% atau setara 18,69 juta penderita pada 2020 — menjadi 16,09% atau sekitar 40,7 juta penderita pada 2045, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban DM terbesar di Asia Tenggara.

Runtutan data Riskesdas secara konsisten memperlihatkan eskalasi yang tak berhenti: prevalensi DM nasional merangkak naik dari 5,7% pada 2007, meningkat menjadi 6,9% pada 2013, lalu mencapai 8,5% di tahun 2018. Kemudian SKI 2023 merekam angka prevalensi agregat nasional sebesar 11,7%.

Situasi di Sulawesi Utara bahkan lebih memprihatinkan. Provinsi ini secara konsisten masuk dalam kelompok daerah dengan prevalensi DM tertinggi di Indonesia — bertengger di peringkat keempat pada Riskesdas 2013 dengan angka 2,27% — dan meski peringkatnya bergeser satu tangga ke posisi kelima pada SKI 2023, nilai prevalensinya masih jauh di atas rata-rata nasional.

Wajah Diabetes Melitus di Kota Manado

Sebagai pusat pemerintahan Sulawesi Utara, Kota Manado kini berhadapan langsung dengan tekanan epidemi DM yang kian menguat. Catatan Dinas Kesehatan Kota Manado merekam total 12.991 kasus, dengan laju pertambahan yang tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Puskesmas Tuminting — salah satu fasilitas primer terkemuka di kota ini — membuktikan tren tersebut secara nyata dengan pertambahan kasus sebanyak 22,3% hanya dalam rentang satu tahun: dari 1.561 kasus pada 2022 menjadi 1.909 kasus pada 2023. Eskalasi serupa terjadi di Kota Tomohon yang berbatasan langsung dengan Manado, di mana jumlah kasus melonjak hampir dua kali lipat dari 2.988 kasus pada 2017 menjadi 5.055 kasus pada 2022.

Sejumlah determinan lokal turut memperparah situasi ini. Pola konsumsi masyarakat Manado yang masih sangat bergantung pada nasi putih — sumber karbohidrat berindeks glikemik tinggi — menjadi faktor risiko utama. Faktor-faktor lain yang memperburuk adalah konsumsi alkohol yang relatif lebih tinggi pada sebagian kelompok populasi, pergeseran ke gaya hidup kurang gerak seiring proses urbanisasi yang pesat, dan beban genetik keturunan.

Riset yang dilakukan di Puskesmas Tuminting menegaskan bahwa riwayat DM dalam keluarga serta pola kebiasaan makan merupakan dua prediktor terkuat kejadian DM di kalangan masyarakat Kota Manado.

Profil Komplikasi dan dampak Terhadap Kualitas Hidup

Komplikasi DM menambah lapisan kegawatan tersendiri pada beban penyakit ini. Penelusuran basis data JKN mengungkapkan bahwa gangguan kardiovaskular mendominasi sebagai komplikasi paling sering dijumpai (24%), disusul kerusakan saraf perifer atau neuropati (14%), kelainan fungsi ginjal atau nefropati (7%), penyakit pembuluh darah otak (6%), dan kerusakan retina atau retinopati (5%). Angka yang lebih mengejutkan adalah bahwa lebih dari separuh — tepatnya 53% — dari total pengeluaran medis seorang pasien DM sepanjang hidupnya dihabiskan semata-mata untuk mengatasi komplikasi, bukan untuk penanganan penyakit dasarnya.

Riset terbaru yang dipublikasikan di Lancet Regional Health (2025) menemukan bahwa sebagian besar penderita DM Tipe 2 di Indonesia gagal mencapai angka HbA1c yang dipersyaratkan panduan klinis, dan dari seluruh pasien yang telah terdiagnosis, hanya 66% yang mendapatkan terapi lengkap yang memadukan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis.

Studi lintas-seksional terbaru di Sulawesi Utara menambahkan perspektif bahwa kualitas hidup penderita DM Tipe 2 mengalami degradasi signifikan akibat komplikasi, utamanya pada aspek kemampuan fungsional fisik dan persepsi kesehatan diri secara umum.

Kondisi ini secara kolektif menegaskan betapa mendesaknya intervensi gizi berbasis pangan lokal sebagai pelengkap terapi konvensional yang telah ada.

Kajian Ekonomi Beban Penyakit DM (Cost of Illness)

Kerangka Pemikiran Analisis Biaya

Pendekatan ekonomi beban penyakit atau Cost of Illness (COI) membagi pengeluaran terkait DM ke dalam dua blok besar. Blok pertama adalah biaya yang dikeluarkan secara langsung (direct costs), mencakup seluruh pengeluaran medis seperti pemeriksaan diagnostik, pengobatan farmakologis, kunjungan rawat jalan, perawatan di bangsal rumah sakit, dan pengelolaan komplikasi.

Blok kedua adalah biaya tersembunyi yang bersifat tidak langsung (indirect costs), antara lain kerugian produktivitas yang timbul akibat sakit berkepanjangan maupun kematian dini, ongkos transportasi bolak-balik ke fasilitas kesehatan, dan pengeluaran untuk perawatan yang dilakukan oleh keluarga atau pendamping (informal care).

Kajian ini menggunakan pendekatan berbasis prevalensi dari perspektif pembayar jaminan kesehatan, selaras dengan metode yang diterapkan dalam analisis klaim BPJS Kesehatan tahun 2023.

Biaya Medis Langsung (Direct Medical Costs)

Di level nasional, DM menempati posisi sebagai salah satu penyakit dengan nilai klaim tertinggi kepada BPJS Kesehatan. Penelusuran data klaim BPJS tahun 2023 mengonfirmasi bahwa pengeluaran medis langsung untuk pasien DM Tipe 2 yang telah mengalami komplikasi jauh melampaui mereka yang belum berkomplikasi, dengan komplikasi ginjal sebagai pemicu biaya terbesar di antara seluruh jenis komplikasi.

Kajian di rumah sakit tipe B selama periode 2019–2022 mencatat bahwa pengeluaran medis langsung penderita DM yang dirawat inap karena komplikasi ginjal dan jantung — didominasi peserta BPJS laki-laki (57,8%) dalam rentang usia 45–64 tahun — paling banyak tersedot oleh layanan penunjang medis.

Rekam kunjungan pasien DM ke fasilitas rujukan tingkat lanjut dalam basis data BPJS periode 2018–2022 mencakup hampir tiga juta kunjungan (2.989.618 kunjungan dari 34 provinsi). Menariknya, pandemi COVID-19 sempat menekan angka ini secara dramatis — persentase klaim turun dari 97,1% pada 2019 menjadi hanya 63,0% pada 2021 — namun kembali melonjak tajam pada 2022. Dinamika ini mencerminkan betapa besarnya tekanan yang diemban oleh sistem kesehatan, baik dari sisi administrasi maupun kapasitas klinis pelayanan.

Biaya Tidak Langsung dan Dampak Makroekonomi

Di luar pengeluaran medis yang terukur, DM juga menyeret kehilangan ekonomi yang lebih luas dan sulit dikuantifikasi secara langsung. Kajian beban ekonomi penyakit tidak menular di Indonesia memproyeksikan bahwa total beban DM — jika dijumlahkan antara pengeluaran tunai sendiri (out-of-pocket) dan kerugian tidak langsung — akan membengkak sebesar 56% pada 2020 dibandingkan angka 2010, menembus angka Int$ 1,27 miliar. Pada skala planet, DM diproyeksikan menciptakan beban makroekonomi senilai USD 2,2 triliun pada 2030.

Bagi Indonesia, proyeksinya mengkhawatirkan: penggandaan lebih dari dua kali lipat jumlah penderita antara 2020 dan 2045 akan memberikan tekanan fiskal yang eksponensial terhadap keberlangsungan sistem JKN. Dengan mengekstrapolasi data nasional ke konteks Kota Manado yang memiliki 12.991 kasus tercatat, estimasi kasar menunjukkan beban ratusan miliar rupiah per tahun bahkan hanya dari layanan rawat jalan dasar — belum memperhitungkan biaya perawatan komplikasi yang jauh lebih mahal.

Dominasi Biaya Komplikasi: Temuan yang Tidak Bisa Diabaikan

Tiga perempat (74%) dari total pengeluaran DM secara nasional tersedot habis untuk menangani komplikasi penyakit — bukan untuk terapi DM itu sendiri. (Lancet Regional Health, 2025)

Tiga komplikasi utama penyebab biaya terbesar berdasarkan prevalensi: gangguan jantung-pembuluh darah (24%), kerusakan saraf (14%), dan kelainan fungsi ginjal (7%). (Database JKN 2016)

Selama hidupnya, seorang penderita DM rata-rata menghabiskan 53% dari total biaya medisnya semata-mata untuk mengatasi komplikasi — bukan penyakit dasarnya. (DISCOVER Cohort Study, 2021)

Implikasi langsung: setiap satu rupiah yang diinvestasikan untuk pencegahan primer melalui intervensi gizi berpotensi menghindari pengeluaran tiga hingga empat kali lipat yang akan muncul akibat komplikasi di kemudian hari.

Studi Value in Health Regional Issues (2021) mencatat bahwa wilayah Sulawesi justru memiliki prevalensi komplikasi yang lebih rendah (<50%) dibanding Jawa dan Bali (>50%) — sebuah peluang emas yang harus segera dimanfaatkan melalui intervensi dini.

Inventarisasi Potensi Pangan Lokal Kota Manado

Kota Manado dan wilayah Sulawesi Utara secara keseluruhan menyimpan khazanah sumber daya pangan lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pencegahan DM berbasis nutrisi. Kajian ini berhasil mengidentifikasi lima rumpun pangan lokal strategis yang memiliki relevansi ilmiah terhadap pengendalian kadar gula darah, disertai profil gizi dan mekanisme kerjanya masing-masing.

Jagung Manado Kuning (Varietas Endemik) Sulawesi Utara

Jagung Manado Kuning adalah varietas jagung berpigmen yang tumbuh secara khas di Sulawesi Utara dan telah terbukti secara ilmiah memiliki keunggulan gizi yang menonjol. Analisis proksimat mengkonfirmasi kandungan protein, lemak baik, karotenoid, dan senyawa fenolik yang lebih melimpah dibanding jagung hibrida komersial biasa, keseluruhan senyawa ini berkontribusi pada kapasitas antioksidan yang terbilang tinggi.

Lebih dari itu, jagung secara umum memiliki kandungan serat pangan (12%) yang jauh melampaui beras putih (1,3%), serta mengandung senyawa antidiabetik berupa polifenol, feruloylated arabinose, dan fraksi fenolik bebas yang secara biologis mampu menghambat kerja enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase — dua enzim yang menentukan seberapa cepat makanan terurai menjadi glukosa di dalam saluran pencernaan.  Nilai Indeks Glikemik (IG) jagung berada di kisaran 48 — tergolong kategori rendah — yang secara praktis berarti respons kenaikan gula darah setelah mengonsumsi jagung berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan nasi putih yang ber-IG sekitar 73. Produk bihun dari jagung pun terbukti memiliki IG lebih rendah dari bihun beras.

Kajian terkini pada jagung pulut varietas Damahu — salah satu varian lokal Sulawesi — semakin mengukuhkan posisinya sebagai pangan fungsional potensial bagi penderita DM. Dari sisi ketersediaan, Sulawesi Utara masuk dalam daftar lumbung jagung nasional dengan produksi mencapai 108.360 ton per tahun berdasarkan data BPS 2025.

Hasil Laut: Ikan dan Produk Perikanan Sulawesi Utara

Keistimewaan geografis Manado yang berada di tepi Laut Sulawesi memberikan akses yang sangat mudah ke sumber protein laut berkualitas tinggi. Konsumsi ikan secara teratur secara konsisten dikaitkan dengan kandungan asam lemak omega-3 jenis EPA dan DHA yang terbukti mampu mempertajam sensitivitas jaringan terhadap insulin, meredam peradangan sistemik kronis, sekaligus menekan risiko komplikasi jantung-pembuluh darah pada penderita DM.

Selain itu, protein ikan dengan nilai biologis tinggi berperan penting dalam mempertahankan massa otot, yang secara langsung mendukung kemampuan tubuh mengatur kadar glukosa darah. Riset pengembangan produk berbasis tepung ikan gabus — diolah menjadi penambah nilai gizi dalam kue tradisional bagea — telah mengidentifikasi produk ini sebagai alternatif berprotein tinggi dan berlemak rendah yang sangat relevan bagi penderita DM.

Sagu (Metroxylon Sago) dan Turunan Produknya

Sagu adalah tanaman pangan warisan budaya yang tumbuh subur di Sulawesi Utara dan kawasan timur Indonesia. Secara nutrisi, tepung sagu mengandung 94 gram karbohidrat per 100 gram namun memiliki nilai IG di bawah 55 — masuk kategori rendah. Produk tradisional bagea berbahan sagu khas Sulawesi telah dikaji sebagai pangan fungsional potensial bagi diabetesi, termasuk melalui strategi fortifikasi dengan wortel dan tepung ikan gabus yang menghasilkan produk berIG rendah yang layak dikonsumsi penderita DM Tipe 2. Peluang pengembangan snack berbasis sagu yang terfortifikasi zat gizi mikro merupakan ceruk industri pangan lokal yang menjanjikan sekaligus kontributif bagi penanganan DM.

Umbi-umbian Tradisional: Ubi Jalar, Singkong dan Talas

Masyarakat Minahasa dan sekitar Kota Manado memiliki tradisi mengonsumsi berbagai jenis umbi-umbian yang kaya serat, polifenol, dan senyawa fitokimia aktif. Singkong, misalnya, mengandung senyawa fenolik yang terbukti secara biokimia menghambat kerja enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase, di samping serat pangan dan pati resisten yang memperlambat absorpsi glukosa.

Ubi jalar ungu secara khusus telah diteliti oleh Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado dan hasilnya menunjukkan pengaruh nyata terhadap pengendalian kadar glukosa darah pada penderita DM Tipe 2. Indonesia menempatkan ubi jalar, beras merah, dan jagung sebagai tiga pilihan karbohidrat terbaik bagi pasien DM, berdasarkan nilai IG yang secara konsisten lebih rendah dari beras putih.

Sayuran segar, Buah dan Rempah-Rempah Khas Sulawesi Utara

Sulawesi Utara memiliki komoditas perkebunan dan hortikultura bernilai tinggi yang turut berkontribusi pada pengendalian DM. Kelapa — terutama dalam bentuk Virgin Coconut Oil (VCO) — mengandung asam lemak rantai menengah (MCT) yaitu asam laurat dan asam kaprilat yang berperan dalam regulasi metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin.

Cengkeh (Syzygium aromaticum) yang tumbuh melimpah di Sulawesi Utara mengandung eugenol — senyawa yang telah terbukti secara farmakologis memiliki aktivitas hipoglikemik. Sementara pala (Myristica fragrans) mengandung myristicin dengan potensi antidiabetik yang terus dieksplorasi.

Sayuran dan buah-buahan segar lokal, dengan kandungan serat, vitamin, dan mineralnya yang melimpah, melengkapi pola diet rendah-IG yang ideal bagi penderita DM.

https://newsantara.id/2026/05/12/kanker-dan-beban-katastropik-kesehatan-saatnya-fokus-pada-pencegahan/

Identifikasi Kesenjangan Kebijakan

Disparitas Antara Beban Penyakit dan Kesiapan Kebijakan Gizi

Tingginya dan konsistennya angka prevalensi DM di Kota Manado dan Sulawesi Utara ternyata tidak berbanding lurus dengan kematangan respons kebijakan gizi yang ada. Setidaknya terdapat empat celah kritis yang teridentifikasi.

Pertama, program pengendalian DM di Puskesmas masih sangat terkonsentrasi pada penatalaksanaan farmakologis, sementara intervensi gizi yang ada baru sebatas pemberian informasi tanpa struktur terapeutik yang kuat.

Kedua, kekayaan bioaktif antidiabetik yang terkandung dalam pangan lokal Sulawesi Utara hingga kini belum diintegrasikan secara sistematis ke dalam protokol gizi klinis penanganan DM di fasilitas kesehatan Kota Manado.

Ketiga, meskipun data komplikasi DM di Sulawesi saat ini masih relatif lebih rendah dari Jawa-Bali, laju pertumbuhan kasus yang cepat di Manado menunjukkan bahwa tanpa intervensi gizi yang terstruktur, angka komplikasi dan beban biaya yang menyertainya akan meningkat secara dramatis dalam waktu dekat.

Keempat, rendahnya capaian target HbA1c di kalangan penderita DM Indonesia — dengan hanya 66% yang mendapat terapi lengkap — menandakan adanya defisit besar dalam manajemen gizi klinis yang mendesak untuk diisi oleh intervensi berbasis pangan lokal yang terjangkau dan sesuai konteks budaya setempat.

Kalkulasi Efisiensi Biaya Intervensi Gizi Lokal

Secara ekonomi, menanamkan investasi pada intervensi gizi preventif berbasis pangan lokal menawarkan rasio manfaat-terhadap-biaya yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan membiayai penanganan komplikasi. Mengingat tiga perempat pengeluaran DM bermuara pada komplikasi, keberhasilan mencegah atau menunda satu kasus rawat inap dengan komplikasi kardiovaskular — yang membutuhkan kateterisasi atau bahkan hemodialisis — berpotensi menghemat puluhan hingga ratusan juta rupiah per pasien. Program edukasi gizi berbasis pangan lokal yang memanfaatkan jagung Manado Kuning, ikan laut, dan ubi jalar yang tersedia melimpah dan terjangkau di pasar lokal, dapat diimplementasikan dengan biaya awal yang jauh lebih kecil.

Estimasi Skenario Beban Biaya DM Kota Manado

Jumlah kasus DM aktif yang tercatat di Kota Manado: sekitar 12.991 kasus (periode 2022–2023). Perkiraan biaya rawat jalan per penderita per tahun berdasarkan rerata nasional: Rp 3–5 juta. Total estimasi biaya rawat jalan DM seluruh Kota Manado: Rp 38–65 miliar per tahun.

Untuk penderita yang sudah berkomplikasi dan perlu rawat inap (estimasi 50% kasus): biaya per episode mencapai Rp 15–50 juta. Total proyeksi beban biaya DM Kota Manado (langsung dan tidak langsung): di atas Rp 200–400 miliar per tahun.

Catatan penting: Angka-angka ini merupakan estimasi kasar dari ekstrapolasi data nasional. Studi beban biaya berbasis data klaim BPJS yang spesifik untuk Kota Manado sangat diperlukan guna menghasilkan angka yang lebih presisi untuk keperluan advokasi kebijakan.

Rekomendasi Kebijakan Berbasis Bukti

Bertolak dari seluruh bukti epidemiologis, kalkulasi beban biaya, dan inventarisasi potensi pangan lokal yang telah dipaparkan, kajian ini mengajukan delapan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy recommendations). Masing-masing rekomendasi ditujukan kepada aktor kebijakan yang paling relevan.

 

Rekomendasi ke Pemerintah Kota Manado dan Dinas Kesehatan

  1. Perkuat dan Padukan Skrining DM dengan Konseling Gizi Klinis Terstruktur di Seluruh Puskesmas: Setiap program skrining DM perlu dilengkapi dengan sesi konseling gizi klinis yang menggunakan pendekatan Dietary Approaches to Stop Hyperglycemia (DASH-DM) yang telah diadaptasi dengan pilihan pangan khas Sulawesi Utara. Setiap penderita DM yang baru terdiagnosis wajib menerima sesi konseling gizi dari tenaga gizi terlatih minimal tiga kali dalam setahun.
  2. Susun dan Sebarluaskan Panduan Diet DM yang Berpijak pada Kekayaan Pangan Lokal Manado: Pemerintah Kota perlu mengembangkan panduan diet DM yang secara eksplisit mengangkat jagung Manado Kuning, ikan laut Sulawesi, sagu, ubi jalar ungu, dan sayuran lokal sebagai sumber utama karbohidrat, protein, dan mikronutrien. Panduan tersebut wajib dilengkapi tabel nilai indeks glikemik serta petunjuk cara pengolahan yang tidak merusak keunggulan gizi bahan pangan.
  3. Dirikan Klinik Gizi Diabetes Terintegrasi sebagai Pusat Rujukan: Bangun setidaknya satu Klinik Gizi Diabetes Terintegrasi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado yang menyediakan layanan konseling gizi mendalam, edukasi manajemen mandiri diabetes (DSME/S), dan pemantauan glukosa darah secara berkala — semuanya difasilitasi oleh dietisien yang telah tersertifikasi.
  4. Luncurkan Gerakan ‘Manado Sehat Bebas Diabetes’ Secara Lintas Sektor: Kampanye terpadu yang menjangkau seluruh elemen masyarakat — dari promosi pola makan sehat berbasis pangan lokal, program peningkatan aktivitas fisik, hingga skrining komunitas — perlu dieksekusi melalui platform berbasis kelurahan dan Posyandu PTM.

 

Untuk Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian Sulawesi Utara

  1. Revitalisasi Budidaya dan Rantai Nilai Jagung Manado Kuning sebagai Pangan Fungsional Unggulan: Dorong peningkatan produksi dan pengolahan Jagung Manado Kuning melalui paket insentif pertanian dan kemudahan akses pasar. Bangun ekosistem kemitraan antara petani lokal, pelaku industri pangan, dan institusi kesehatan untuk memastikan pasokan pangan antidiabetik lokal yang terjangkau dan berkelanjutan.
  2. Implementasikan Program Diversifikasi Karbohidrat untuk Menggantikan Dominasi Beras Putih: Jalankan program One Day No Rice secara sistematis di kantin pemerintah, kafetaria sekolah, dan fasilitas kesehatan Kota Manado, dengan mensubstitusi sebagian asupan beras putih menggunakan jagung, sagu, atau umbi lokal yang nilai gizinya telah tervalidasi.

 

Untuk Institusi Pendidikan Tinggi dan Lembaga Riset

  1. Gelar Studi Cost of Illness DM yang Spesifik untuk Kota Manado: Rancang dan laksanakan penelitian beban biaya DM berbasis data klaim BPJS Kesehatan di Kota Manado dan Sulawesi Utara, dengan tujuan menghasilkan angka yang akurat dan dapat dijadikan amunisi advokasi kebijakan di tingkat lokal.
  2. Rancang Uji Klinis Acak Terkontrol (RCT) untuk Intervensi Gizi Pangan Lokal: Desain dan jalankan randomized controlled trial yang mengkaji secara ilmiah efektivitas pola makan berbasis Jagung Manado Kuning dan pangan lokal Sulawesi Utara lainnya terhadap pengendalian HbA1c, kadar gula darah puasa, dan kualitas hidup penderita DM di Kota Manado.

Matriks Skala Prioritas Implementasi

https://newsantara.id/2026/05/11/pangan-lokal-sulawesi-utara-sebagai-strategi-pengendalian-diabetes-melitus-dan-efisiensi-pembiayaan-kesehatan/

Kesimpulan

DM bukan lagi sekadar persoalan kesehatan individu di Kota Manado — ia telah berkembang menjadi ancaman nyata bagi ketahanan fiskal sistem kesehatan kota. Dengan 12.991 kasus yang tercatat, posisi Sulawesi Utara sebagai provinsi dengan prevalensi DM tertinggi kelima di Indonesia berdasarkan SKI 2023, ditambah temuan bahwa tiga perempat pengeluaran DM terserap habis oleh komplikasi, maka penundaan intervensi preventif bukan sekadar pilihan buruk — melainkan sebuah kerugian yang dapat dihitung secara ekonomi.

Namun, di balik tantangan ini tersimpan sebuah keistimewaan: Kota Manado dan Sulawesi Utara dikaruniai ragam sumber daya pangan lokal yang — bila dimanfaatkan secara cerdas dan strategis — dapat menjadi fondasi utama pencegahan DM berbasis gizi. Jagung Manado Kuning dengan profil antioksidan dan aktivitas antidiabetiknya yang telah terverifikasi ilmiah; ikan laut Sulawesi dengan asam lemak omega-3 yang mempertajam sensitivitas insulin; sagu dengan indeks glikemik rendah yang memperlambat lonjakan gula darah; ubi jalar ungu dengan antosianin hipoglikemik; singkong dengan serat dan fenolik yang menghambat pencernaan karbohidrat; serta cengkeh dan pala dengan aktivitas farmakologis yang semakin banyak dibuktikan — semuanya tersedia, terjangkau, dan secara budaya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Manado.

Mengintegrasikan pangan-pangan luar biasa ini ke dalam protokol klinis, program edukasi gizi masyarakat, dan kebijakan diversifikasi pangan daerah adalah sebuah langkah yang secara ilmiah kokoh, secara ekonomi bijaksana, secara budaya sesuai, dan secara lingkungan berkelanjutan. Dengan demikian, berinvestasi dalam pencegahan DM berbasis gizi pangan lokal hari ini adalah cara paling rasional untuk menghindari tagihan komplikasi DM yang akan jauh lebih mahal di masa yang akan datang.

Lima Pesan Kunci Untuk Para Pemangku Kepentingan

  1. Beban biaya DM di Kota Manado diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah per tahun, dengan 74% di antaranya terserap untuk menangani komplikasi yang sejatinya dapat dicegah.
  2. Sulawesi Utara memiliki aset pangan lokal yang kaya nilai gizi — jagung Manado Kuning, ikan laut, sagu, umbi-umbian — yang secara ilmiah sudah terbukti memiliki mekanisme kerja antidiabetik.
  3. Memasukkan pangan lokal ke dalam protokol gizi klinis DM adalah strategi berbiaya rendah namun berdampak tinggi yang dapat segera dilaksanakan tanpa infrastruktur baru yang mahal.
  4. Basis bukti ilmiah perlu diperkuat melalui studi beban biaya DM spesifik Kota Manado dan uji klinis intervensi gizi lokal yang terancang dengan baik.
  5. Tidak ada satu institusi pun yang dapat menuntaskan persoalan ini sendirian — keberhasilan pengendalian DM di Kota Manado membutuhkan sinergi Nyati antara sektor kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, pendidikan, dan pemerintahan.

 

Penulis:

Nonce Nova Legi, SST, MSi
Dosen Poltekkes Kemenkes Manado
(Mahasiswa Program Doktoral FKM Universitas Hasanuddin Makassar)

 

 

1 Comment

  1. Jane Kojongian

    DM adalah salah satu penyakit kronis serius yang memerlukan perhatian khusus karena dampaknya yang luas terhadap tubuh, untuk itu dibutuhkan cara prngobatan yang dapat mencegah dan mengobatinya secara lebih serius…apa yang ada diKota Manado berupa pangan pangan yang dapat diintergasikan kiranya lebih mengedukasi serta sebagai bentuk pencegahan DM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *