KANKER perlu menjadi prioritas kesehatan masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara karena penyakit ini tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga menguras pembiayaan kesehatan keluarga dan negara. GLOBOCAN 2022 mencatat Indonesia memiliki sekitar 408.661 kasus kanker baru dan 242.988 kematian akibat kanker, dengan kanker payudara, paru, serviks, kolorektal, dan hati sebagai penyumbang utama beban penyakit (IARC, 2024).
Dengan jumlah penduduk Sulawesi Utara sekitar 2,7 juta jiwa pada 2024, estimasi kasar berbasis proporsi penduduk menunjukkan potensi sekitar 3.900 sampai 4.000 kasus kanker baru per tahun di Sulawesi Utara. Angka ini bukan data registri kanker provinsi, tetapi estimasi kebijakan untuk menunjukkan skala beban penyakit daerah berdasarkan beban nasional dan jumlah penduduk (BPS Sulawesi Utara, 2025; IARC, 2024).
Beban biaya kanker sangat besar. BPJS Kesehatan melaporkan bahwa pada tahun 2024 kanker menjadi salah satu penyakit katastropik terbesar, dengan sekitar 4,2 juta kasus layanan dan biaya Rp 6,48 triliun secara nasional (BPJS Kesehatan, 2025). Jika dihitung menurut proporsi penduduk Sulawesi Utara, maka estimasi beban biaya kanker yang dapat terkait dengan wilayah ini mencapai sekitar Rp 62 sampai Rp 65 miliar per tahun. Angka ini belum memasukkan biaya tidak langsung, seperti kehilangan produktivitas, biaya transportasi, pendamping pasien, dan kehilangan pendapatan keluarga.
Estimasi Efisiensi Jika Pencegahan Diperkuat

Jika Sulawesi Utara mampu menurunkan beban kanker sebesar 10% saja, maka potensi penghematan biaya kesehatan dapat mencapai sekitar Rp 6,2 miliar per tahun. Jika program pencegahan berjalan lebih kuat dan mampu menekan beban hingga 20%, maka efisiensi dapat mencapai sekitar Rp12,4 miliar per tahun. Deteksi dini dapat mengurangi kebutuhan pengobatan stadium lanjut yang biasanya lebih mahal. Jika dari estimasi 3.919 kasus baru per tahun di Sulawesi Utara, sebanyak 20% kasus atau sekitar 784 kasus dapat ditemukan lebih awal, maka potensi penghematan menjadi besar.
Efisiensi tersebut dapat dicapai jika pemerintah daerah memperkuat pencegahan primer, skrining, edukasi gizi, pengendalian rokok, aktivitas fisik, vaksinasi HPV, dan deteksi dini kanker serviks, payudara, serta kolorektal. WHO dan lembaga kanker internasional menegaskan bahwa banyak kanker dapat dicegah melalui pengendalian tembakau, pembatasan alkohol, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan (WHO, 2025; WCRF, 2025).
Alternatif Solusi Gizi untuk Pencegahan Kanker
Strategi pencegahan kanker yang lebih luas dapat difokuskan pada pola makan preventif berbasis evidence-based nutrition yang menargetkan penurunan inflamasi kronis, stres oksidatif, obesitas, dan gangguan metabolik sebagai faktor risiko utama kanker.
WHO dan World Cancer Research Fund menegaskan bahwa sekitar 30–50% kasus kanker sebenarnya dapat dicegah melalui modifikasi faktor risiko, terutama pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan (WHO, 2024; WCRF, 2025).
- Pola Diet Tinggi Serat. Peningkatan konsumsi serat merupakan salah satu strategi paling penting dalam pencegahan kanker, terutama kanker kolorektal. Sumber utama: sayur hijau, buah, oat, whole grain, kacang-kacangan, biji-bijian. WCRF menyatakan bahwa konsumsi makanan tinggi serat berkaitan dengan penurunan risiko kanker usus besar secara signifikan (WCRF, 2025).
- Pengurangan gula dan minuman berpemanis. WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10% dari total energi harian dan idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan (WHO, 2023).
- Diet Rendah Ultra-Processed Food. Penelitian epidemiologi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi ultra-processed food berkaitan dengan peningkatan risiko kanker gastrointestinal dan obesitas (Lane et al., 2024).
- Peningkatan Konsumsi Antioksidan Alami. Antioksidan membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif yang dapat memicu mutasi DNA. Contoh sumber: buah beri, tomat, wortel, brokoli, teh hijau, citrus, sayur berwarna gelap.
- Pengendalian Berat Badan. Strategi gizi: defisit kalori moderat, pengurangan makanan tinggi energi, peningkatan aktivitas fisik, pengaturan porsi makan. Menurut WHO, overweight dan obesitas meningkatkan inflamasi sistemik serta gangguan hormonal yang memicu perkembangan kanker (WHO, 2024).
- Pembatasan Daging Olahan dan Makanan Gosong. Strategi: membatasi konsumsi daging olahan, mengurangi teknik memasak dengan pembakaran ekstrem, memilih metode rebus, kukus, atau panggang ringan.
- Diet Anti-Inflamasi. Diet ini membantu: menurunkan marker inflamasi, menjaga metabolisme, memperkuat sistem imun.
- Edukasi Gizi Berbasis Komunitas
- Skrining dan Nutrisi Preventif. Pola makan sehat perlu dikombinasikan dengan: skrining kanker, aktivitas fisik, berhenti merokok, pembatasan alkohol. Karena nutrisi saja tidak cukup jika faktor risiko lain tidak dikendalikan.
Perbaikan SDM melalui Gizi dan Pencegahan Kanker
Pencegahan kanker akan memperbaiki kualitas SDM Sulawesi Utara melalui tiga jalur. Pertama, masyarakat usia produktif dapat tetap bekerja karena risiko kanker stadium lanjut menurun. Kedua, keluarga tidak kehilangan pendapatan akibat biaya pengobatan, rawat inap, dan pendampingan pasien. Ketiga, anak dan remaja mendapat lingkungan makan sehat sehingga risiko obesitas, diabetes, dan kanker pada usia dewasa dapat ditekan. Rencana Kanker Nasional 2024 sampai 2034 juga menempatkan pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan tata kelola kanker sebagai strategi utama pengendalian kanker di Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Rekomendasi untuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara
Perkuat skrining kanker serviks melalui HPV DNA atau IVA, skrining payudara melalui SADANIS, dan edukasi deteksi dini kanker kolorektal pada kelompok risiko. Integrasikan data Dinas Kesehatan, BPJS, rumah sakit, dan puskesmas untuk menghitung beban kanker per kabupaten/kota.
Batasi promosi rokok, alkohol, minuman berpemanis, dan makanan ultra-proses di ruang publik, sekolah, dan fasilitas pemerintah. Libatkan perguruan tinggi untuk meneliti hubungan pola makan lokal Sulawesi Utara dengan risiko kanker, status gizi, dan kualitas hidup pasien.
Kesimpulan
Pencegahan kanker membutuhkan pendekatan gizi yang lebih luas dan berbasis bukti ilmiah. Strategi utama meliputi peningkatan konsumsi serat dan antioksidan, pengurangan gula dan makanan ultraproses, pengendalian berat badan, serta pembatasan daging olahan. Pendekatan ini mampu menurunkan inflamasi kronis dan faktor risiko metabolik yang berkaitan dengan perkembangan kanker. Jika diterapkan secara konsisten melalui edukasi masyarakat dan kebijakan kesehatan preventif, maka beban kanker dan biaya katastropik kesehatan dapat ditekan secara signifikan.
Penulis:
Sandra Gerce Jelly Tombokan
(Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin)
