Pangan Lokal Sulawesi Utara Sebagai Strategi Pengendalian Diabetes Melitus dan Efisiensi Pembiayaan Kesehatan

Pangan Lokal Sulawesi Utara Sebagai Strategi Pengendalian Diabetes Melitus dan Efisiensi Pembiayaan Kesehatan

PEMANFAATAN pangan lokal Sulawesi Utara layak menjadi strategi utama pengelolaan diabetes melitus, bukan sekadar program tambahan. Sulawesi Utara memiliki beban diabetes yang cukup tinggi. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter di Sulawesi Utara sekitar 2,1%, lebih tinggi dari nasional 1,7% (SKI, 2023), dan Manado dilaporkan sebagai wilayah dengan prevalensi tinggi sekitar 3,45%. Dengan penduduk Sulawesi Utara pada 2024 sekitar 2,70 juta jiwa (BPS Provinsi Sulawesi Utara, 2024), maka estimasi kasar penderita diabetes terdiagnosis dapat mencapai sekitar 58 ribu orang.

Beban biaya diabetes tidak kecil. IDF mencatat biaya penanganan diabetes di Indonesia sekitar USD 323,8 per orang per tahun pada 2021. Jika angka ini dikonversi kasar Rp16.000/USD, maka biaya rata-rata sekitar Rp5,18 juta per pasien per tahun. Dengan estimasi 58 ribu pasien di Sulawesi Utara, beban biaya langsung diabetes dapat mendekati Rp300 miliar per tahun. Angka ini belum memasukkan kehilangan produktivitas, komplikasi ginjal, stroke, penyakit jantung, dan biaya keluarga.

Mengapa Pangan Lokal Penting

Sulawesi Utara memiliki sumber pangan lokal yang kuat untuk mendukung diet diabetes, seperti daun gedi merah dan hijau, kangkung, bayam, daun pepaya, daun singkong, kacang panjang, terong, pare, labu, pisang goroho, ubi, jagung, kacang-kacangan, ikan laut, dan hasil kebun rumah tangga. WHO menegaskan bahwa pola makan sehat perlu berbasis sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber protein sehat untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes. Kementerian Kesehatan juga menekankan konsep “Isi Piringku” sebagai pedoman gizi seimbang.

Daun gedi layak menjadi ikon pangan lokal Sulawesi Utara. Studi eksperimental terbaru menunjukkan Abelmoschus manihot memiliki potensi antioksidan dan antidiabetes, walaupun bukti klinis pada manusia masih perlu diperkuat. Karena itu, pemerintah tidak boleh mengklaim gedi sebagai “obat diabetes”, tetapi dapat menempatkannya sebagai pangan fungsional lokal dalam pola makan tinggi serat, rendah gula, dan rendah lemak jenuh.

Potensi Efisiensi Biaya

Jika intervensi pangan lokal mampu membantu 20% pasien diabetes terdiagnosis di Sulawesi Utara tetap terkendali dan terhindar dari komplikasi berat, maka sekitar 11.600 orang dapat masuk kelompok “terkendali”. Review ekonomi diabetes di Indonesia menunjukkan biaya tahunan pasien diabetes dengan komplikasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa komplikasi, sekitar USD 1.607,7 dibandingkan dengan USD 427,3 per pasien per tahun.

Selisihnya sekitar USD 1.180,4 atau sekitar Rp 18,9 juta per orang per tahun.

Dengan simulasi sederhana:

Angka ini merupakan estimasi kebijakan, bukan angka klaim resmi BPJS Sulawesi Utara. Nilainya menunjukkan bahwa pengendalian diabetes melalui pangan lokal, edukasi gizi, skrining, dan Prolanis berbasis komunitas dapat menghasilkan efisiensi besar bila berhasil menekan komplikasi.

https://newsantara.id/2026/05/12/kanker-dan-beban-katastropik-kesehatan-saatnya-fokus-pada-pencegahan/

Solusi Gizi Berbasis Daerah

Pemerintah daerah dapat membuat paket “Piring Diabetes Sulut” berbasis pangan lokal:

Kunci diet diabetes tetap 3J, yaitu jumlah, jenis, dan jadwal makan. Kemenkes menekankan bahwa diet merupakan salah satu pilar pengelolaan diabetes.

Dampak terhadap SDM

Jika diabetes lebih terkendali, Sulawesi Utara dapat memperoleh tiga manfaat SDM:

  1. Produktivitas pekerja meningkat karena komplikasi kronis, kelelahan, rawat inap, dan absensi kerja menurun.
  2. Beban keluarga berkurang karena pasien tidak cepat masuk fase komplikasi mahal seperti gagal ginjal, stroke, dan penyakit jantung.
  3. Kualitas hidup usia produktif dan lansia membaik karena pola makan lokal sehat lebih mudah diterima secara budaya.

Rekomendasi untuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara

  1. Tetapkan program “Pangan Lokal untuk Kendali Diabetes Sulut” di puskesmas, Posbindu, Prolanis, sekolah, kantor pemerintah, dan komunitas gereja atau desa.
  2. Masukkan gedi, kangkung, bayam, daun pepaya, kacang-kacangan, ikan laut, jagung, ubi, dan pisang goroho rebus ke dalam modul edukasi diet diabetes lokal.
  3. Buat pilot project di Manado, Minahasa, Tomohon, Bitung, dan kepulauan dengan indikator jelas: HbA1c, gula darah puasa, lingkar perut, tekanan darah, kepatuhan diet, dan biaya rujukan.
  4. Kembangkan kebun gizi keluarga dan pasar pangan sehat lokal agar intervensi tidak bergantung pada produk mahal.

Kesimpulan
Pangan lokal Sulawesi Utara dapat menjadi instrumen strategis untuk mengendalikan diabetes melitus. Jika pemerintah mampu mengubah pangan lokal menjadi program gizi berbasis data, maka manfaatnya bukan hanya penurunan gula darah, tetapi juga efisiensi anggaran, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas SDM. Estimasi konservatif menunjukkan potensi efisiensi dapat mencapai ratusan miliar rupiah per tahun bila komplikasi diabetes berhasil ditekan secara bermakna.

Penulis :
Elisabeth Natalia Barung
(Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *