Gubernur Yulius Selvanus Paparkan Potensi Sulut dan Peluang Kerja Sama di Hadapan Delegasi Politik Uni Eropa

Gubernur Yulius Selvanus Paparkan Potensi Sulut dan Peluang Kerja Sama di Hadapan Delegasi Politik Uni Eropa

MANADO, NEWSANTARA – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, SE , menggelar jamuan makan malam strategis bersama delegasi diplomatik Uni Eropa serta perwakilan KFW Development Bank dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, bertempat di Wisma Negara Bumi Beringin Manado, Jumat (19/07/2026).

Kegiatan untuk memperkuat komitmen kolaborasi global dalam agenda pembangunan ekonomi biru berkelanjutan serta konservasi laut ini dihadiri Duta Besar Uni Eropa, Denis Chaibi, dan Ibu Elena BoggioChaibi, Duta Besar Belgia untuk Indonesia, H.E. Frank Felix, dan Ibu Cigdem Bagci Felix, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E. Sten Frimodt Nielsen, dan Ibu
Pamela Alberta Mondino, Duta Besar Lithuania untuk Indonesia, H.E. Darius Gaidys, Duta Besar Republik Czech untuk
Indonesia, H.E. Petr Kopriva, Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, H.E. Sharon Lennon, Duta Besar Austria untuk Indonesia, H.E. Alexander Rieger, Deputy Head of Mission Kedutaan
Finlandia, Teemu Laakkonen, Deputy Head of Mission, Embassy of Portugal, Luis Filipe da Cunha, Head of Cooperation, EU Delegation to Indonesia, Jerome Pons Country Director KfW Development Bank Indonesia, Burkhard Hinz, Perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS RI, Perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, Perwakilan Kementerian Kehutanan RI, Country Director WCS Indonesia Program, Noviar Andayani, beserta jajaran, FORKOPIMDA Provinsi Sulawesi Utara, Para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkup Pemprov Sulawesi Utara, Koordinator dan Tim Ahli Gubernur Sulut, Para Pejabat Sipil.

Di hadapan para tamu delegasi Uni Eropa, Gubernur Yulius memaparkan profil singkat Sulawesi Utara dihuni oleh 2,77 juta jiwa dengan pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 5,66% pada tahun 2025.

“Wilayah kami sangat strategis karena 73% wilayahnya terdiri dari perairan. Laut bagi kami bukanlah pemisah, melainkan urat nadi kehidupan dan masa depan,” tutur Gubernur Yulius.

Atas dasar itu, lanjut Gubernur, visi pembangunan Sulut selaras dengan kebijakan Ekonomi Biru nasional.

“Saat ini, Sulawesi Utara telah menetapkan Kawasan Konservasi Perairan seluas 239.373,79 hektar demi menjaga kelestarian terumbu karang dan keanekaragaman hayati laut.,” terang Gubernur.

Komitmen konservasi ini, kata Yulius, berjalan beriringan dengan pemanfaatan ramah lingkungan.

Pemprov Sulut, lanjutnya, merasa bangga karena nelayan, mayoritas menggunakan alat tangkap tradisional seperti HUTATE (hand line, pull and line, long line), yang menghasilkan tangkapan berkualitas tinggi (seperti ikan tuna, cakalang, dan skipjack), sekaligus menjaga ekologi laut tetap seimbang.

Sektor perikanan, imbuhnya lagi, berkontribusi nyata pada ekspor perikanan kami yang mencapai 140 juta USD dengan Nilai Tukar Nelayan yang sangat baik di angka 112 pada tahun 2025.

“Kami menyadari bahwa upaya besar ini tidak dapat dilakukan sendiri. Kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Pemerintah Daerah, dan mitra pembangunan seperti WCS, melalui dukungan pendanaan dari Uni Eropa dan KfW sejak tahun 2020, telah terbukti nyata dampaknya di lapangan.,” papar Yulius .

Program ini, kata Gubernur, berhasil memberdayakan 29 desa dan melatih 37 kelompok masyarakat pesisir untuk mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga memperkuat sektor ekowisata lokal, salah satunya terbukti dari keberhasilan Desa Budo yang meraih penghargaan desa wisata terbaik nasional.

Di samping itu, kata Gubernur, kapasitas Sulawesi Utara kian diperkuat dengan keberadaan Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) di Manado yang menjadi pusat kolaborasi perlindungan terumbu karang regional.

Acara makam malam ini setidaknya menghasilkan sejumlah poin penting dalam rangka kemajuan pembangunan di daerah.

1. Dorongan Sektor Ekonomi Biru (Blue Economy) Optimalisasi Maritim:

Gubernur Yulius menekankan Sulawesi Utara memiliki potensi laut yang sangat melimpah.

Kemitraan dengan Uni Eropa diarahkan untuk mengelola sumber daya pesisir tanpa merusak ekosistem.

Keberlanjutan Lingkungan, Investasi dan bantuan teknis dari lembaga internasional diprioritaskan pada program-program ekologi laut yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan lokal.

2. Penguatan Konservasi dan Pemberdayaan Pesisir

Gubernur Yulius mengapresiasi kontribusi WCS Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir konsisten mendampingi pemerintah daerah dalam menjaga keanekaragaman hayati bawah laut.

Rencana kerja sama ke depan akan lebih banyak menyentuh edukasi dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

3. Sinergi Investasi Hijau bersama KFW BankPendanaan Berkelanjutan:

Kehadiran perwakilan bank pembangunan Jerman (KFW Development Bank) membuka ruang bagi Pemprov Sulut untuk mengakses pembiayaan proyek-proyek ramah lingkungan demi mempercepat target net zero emission daerah.

4. Kebijakan Satu Komando untuk Sektor Pariwisata dan Kelautan

Jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait (Dinas Kelautan, Dinas Pariwisata, dan Lingkungan Hidup) diinstruksikan untuk bergerak cepat menindaklanjuti poin-poin kesepakatan dari jamuan tersebut.

Pemprov Sulut menjamin transparansi serta kemudahan koordinasi birokrasi bagi para investor dan mitra internasional yang ingin membangun daerah.

(DArK)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *