oleh

Pers, Disrupsi dan Kehadiran BuzzeRp

Insan pers nusantara merayakan Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2021. Latar belakangnya, keputusan pelaksanaan Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke-28 tahun 1978 di Padang, Sumatera Barat.

Satu poin keputusan, mengusulkan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi momen peringatan Hari Pers Indonesia.

Baca: Ini Sejarah Hari Pers Indonesia

Tujuh tahun berselang, 23 Januari 1985, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 tahun 1985. Isinya tentang penetapan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN).

Keppres juga menjelaskan jurnalis Indonesia mempunyai sejarah perjuangan. Jurnalis punya peranan penting dalam pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Jauh ke belakang, Tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berdiri di Surakarta. Ketuanya, Sumanang Surjowinoto dan sekretaris Sudarto Tjokrosisworo. Organisasi ini terbentuk sebagai wadah ajang tukar pikiran antar jurnalis se-Indonesia.

KINI, 75 tahun berlalu. Wartawan masa kini tetap menjadi pilar penting pengawal kebenaran dan terus menjadi ‘anjing penyalak’ pengawas pemerintah.

Sayang, dalam perjalanan sejarah, masih banyak tragedi kekerasan terhadap para jurnalis, yang melibatkan oknum penguasa. Catatannya berseliweran dalam jejak digital.

Kecuali itu, pers masa kini harus melawan arus disrupsi, konsekwensi dari kemajuan teknologi. Pun begitu, kehadiran media sosial dengan jurnalisme warga, secara tak langsung mereposisi kedudukan pers.

Juga, menjamurnya media dadakan pelaku plagiat (baca: Copypaste), praktik Jurnalisme Lher dan Negative Clickbait,  makin menyudutkan posisi jurnalis.

Belum lagi, kehadiran para pendengung (Buzzer), yang seakan mendapat lampu hijau, tanpa perlu memenuhi kode etik jurnalisme.

Mungkin rambunya, hanya pasal karet dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektornik (UU ITE).

Sementara di sisi lain, jurnalis dan media, harus memenuhi persyaratan, Verifikasi Dewan Pers juga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) berjenjang.  

Meski bekerja dalam presisi dan profesionalitas, selalu saja ada celah para oknum untuk menjeratnya ke ranah pidana.

Belum cukup, sedikit kesalahan meski tak substansial, akan ada banjir celaan dan hinaan publik untuk wartawan termasuk profesinya.

Baca Juga:  Mengenang SHS, Antara SBY, Jokowi, Jafar dan Duterte

Masukan untuk Dewan Pers, perlu ada strategi khusus untuk keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan para jurnalis Indonesia.

PADA Akhirnya, teruntuk semua wartawan Indonesia. Teruslah berjuang. Jangan pernah gentar dengan intimidasi dan cercaan.

Jurnalis sejati ikhlas membaktikan hidup untuk kepentingan publik, membela kebenaran dan melawan tirani kekuasaan.

Wartawan sedari awal sadar risiko dan konsekwensi, ketika memilih profesi ini.

Tuhan bersama orang-orang berani…

Selamat Hari Pers Nasional. Kita satu Keluarga. (redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed