oleh

5 Tipe Pemilih dalam Pilkada, Anda Masuk yang Mana?

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), sudah menjadi sebuah keniscayaan, masyarakat pasti akan terkotak dan terbelah demi menjagokan pasangan calon pilihan masing-masing.

Tak jarang, persahabatan atau persaudaraan menjadi renggang akibat beda pilihan. Masing-masing punya alasan dan argumen sendiri memilih pasangan calon.

Awal masalah adalah ketika dua pihak beda pilihan adu argumen, memaksakan kebenaran masing-masing.

Parahnya, ketika satu pihak tak mau menerima, akan dicap bodoh atau sejenisnya, bertengkar dan saling menyalahkan.  

Ada hal yang terlupakan, pola pikir setiap orang menyikapi Pilkada itu berbeda-beda. Paradigma individu itu terbentuk jauh hari sebelum Pilkada digelar.

Tak bisa dipungkiri, jelang Pilkada dari tahun ke tahun, masyarakat secara otomatis akan terpola dan terbagi dalam beberapa tipologi pemilih.

Dari hasil observasi, Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Newsantara.id memetakan tipe pemilih dalam masyarakat menghadapi Hari H Pilkada dalam lima tipe.

  • Pemilih Ideologis/ Fanatik

Mereka yang ada di golongan ini adalah pemilih tradisional fanatik.

Seolah sudah bercampur di darah, tak ada yang bisa mengubah pilihan mereka. Hal ini banyak dipengaruhi nostalgia atau dendam di masa silam.

Siapapun pasangan calon yang akan diusung partai tersebut, sudah otomatis akan menjadi pilihan masyarakat tipe ini. 

Tipe ini, dalam penelitian susah dipengaruhi para tim sukses atau pasangan calon dengan visi dan misi.

Umumnya mereka adalah pemilih parpol tua dan lama seperti Golkar, PDIP dan PPP.

Masyarakat kelompok ini umumnya sudah berusia lanjut. Tapi jangan salah, ada juga generasi berikut setelah mereka yang terdoktrin dengan cerita dan pengalaman masa lalu.

  • Pemilih Sosiologis/ Identitas

Pemilih yang berada di kelompok ini tidak melihat ideologi, partai ataupun visi misi yang ditawarkan para pasangan calon.

Kelompok tipe ini lebih condong menjatuhkan pilihan karena kedekatan atau kesamaan latar belakang dengan pasangan calon yang diusung.

Hal itu beragam, mulai dari kesamaan suku, agama, wilayah, organisasi, dan kelompok.

Mereka berpendapat, calon yang punya kesamaan latar belakang akan lebih memperhatikan dan berpihak kepada mereka jika terpilih.

  • Pemilih Psikologis/ Visual
Baca juga:  Berdamai dengan Corona, Pemerintah Pilih Herd Immunity?

Pemilih tipe ini menjatuhkan pilihannya karena faktor psikologi melihat para calon. Mereka terkesan secara visual dengan kharisma, kecantikan, kegantengan, tutur, dan sikap calon atau pendukungnya.

Kebanyakan tipe ini adalah para pemilih muda yang kurang pengetahuan politiknya.

Kategori pemilih ini bisa dipengaruhi dengan pendidikan politik yang baik dan penjelasan program dan visi misi calon.

  • Pemilih Kompromi/ Transaksional

Pemilih tipe ini adalah mereka yang sudah mengambil keuntungan atau  dijanjikan keuntungan jika pasangan calon pilihannya terpilih.

Kelompok ini kebanyakan mereka yang sudah nyaman dengan posisi yang ada atau melihat peluang mendapatkan keuntungan jika jagoannya terpilih.

Kelompok ini banyak datang dengan latar beragam seperti pengusaha, ASN yang sudah dalam posisi nyaman dan para simpatisan parpol.

Seringkali, pemilih kelompok ini tidak fair, condong kompromi dan cenderung menutup mata, ketika melihat ada hal negatif atau kesalahan yang dilakukan calon pilihannya.

Para pemilih yang terpengaruh dengan ‘serangan fajar’ juga diklasifikasikan dalam kelompok ini.

  • Pemilih Rasional/ Kritis

Pemilih kelompok ini lebih menggunakan nalar dan intuisi. Umumnya mereka datang dari kalangan terdidik dan punya wawasan politik.

Acapkali, mereka sering berada di kelompok ‘swing voters’ hingga detik terakhir jelang pencoblosan. Kelompok ini kritis melihat program, visi misi yang ditawarkan para calon.

Kategori ini kerap menganalisa segala kemungkinan dengan logika, lengkap dengan masuk akalnya janji yang dilontarkan para calon.

Bukan hal aneh, mereka berpindah pilihan usai analisa dan segala dasar pertimbangannya lengkap.

===

PILKADA tinggal menghitung hari, masyarakat diharapkan menggunakan hak pilihnya sesuai nurani dengan segala pertimbangannya.

Tidak masalah menjadi kelompok pemilih yang mana, yang terpenting esensi pesta demokrasi itu bisa terlaksana.

Pesta untuk rakyat, mencari pemimpin yang bisa mensejahterakan dan membawa ke arah lebih baik.

Karena setelah amanah rakyat dititipkan, para pemimpin terpilihlah yang akan bertanggung jawab.

Bukan sekadar tanggung jawab kepada masyarakat, namun yang terpenting dan terberat adalah tanggung jawab kepada Tuhan nantinya. (redaksi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed