oleh

Makam Imam Bonjol, Cagar Budaya Peringkat Nasional

-Manadopedia-1.465 kali dibaca

Makam Tuanku Imam Bonjol akhirnya menjadi sebagai Cagar Budaya peringkat nasional pada tahun 2016.

Sulawesi Utara memiliki sebuah cagar budaya yang kini hampir terlupakan, yakni makam Tuanku Imam Bonjol di Desa Lota, Pineleng Minahasa.

Makam ini dulunya ramai menjadi lokasi wisata ziarah para wisatawan domestik dan turis mancanegara.

Tahun 2016, pemerintah menetapkan makam Tuanku Imam Bonjol sebagai Cagar Budaya peringkat nasional bersama makam Kiai Modjo yang juga berada di Sulawesi Utara.

Baca: Tulude, Warisan Leluhur Nusa Utara yang Sarat Makna

Sekadar informasi, Tuanku Imam Bonjol lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo/ Bonjol Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat dengan nama asli Muhammad Shahab.

Tuanku Imam Bonjol merupakan pemimpin pejuang melawan Belanda dalam Perang Padri di Sumatera Barat periode 1821-1837.

Sebetulnya, Perang Padri berkecamuk sejak tahun 1803. Namun hingga tahun 1833 Perang Padri masih merupakan bentrokan sesama suku lokal.

Ketika perlawanan dengan Belanda, Tuanku Imam Bonjol menjadi sosok penting yang mampu menggerakkan massa.

Pihak kolonial Belanda yang waktu itu menerapkan politik pengasingan terhadap sejumlah tokoh yang dianggap penting, kemudian menargetkan menangkap pemimpin bergelar Peto Syarif ini.

Pihak Belanda yang ingin mematahkan semangat juang perlawanan rakyat Sumatera Barat, kemudian mengajak Tuanku Imam Bonjol melakukan perundingan.

Tuanku Imam Bonjol yang tak awas dengan strategi Belanda, mendapat pengkhianatan dari Residen Belanda Kolonel G.P.J. Elout.

Dia tertangkap di Palupuh Kabupaten Agam pada tanggal 28 Oktober 1837 ketika menghadiri undangan perundingan.

Tuanku Imam Bonjol kemudian terasing dari pasukannya hingga setahun kemudian menuju ke Batavia kemudian ke Cianjur, Jawa Barat.

Tak lama berselang, Tuanku Imam Bonjol kembali menuju ke daerah yang lebih jauh yakni ke Ambon pada Pada 19 Januari 1839.

Dua tahun berada di Ambon, mereka membawanya ke pulau Sulawesi tepatnya ke Manado Sulawesi Utara tahun 1841.

Tuanku Imam Bonjol lalu terasing di daerah bernama Desa Lota, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Dia mendapat sebuah rumah yang letaknya berada di samping makamnya sekarang.

Baca Juga:  Kaidipang, Kerajaan Kaya yang Disegani VOC

Bekas kediaman Tuanku Imam Bonjol tersebut, kini sudah mengalami pemugaran menjadi sebuah Musala. Dalam pengasingannya, Tuanku Imam Bonjol bersama beberapa pengawal, yaitu Apolos Minggu, Pangeran Buyung dan Bagindo Magek.

Tuanku Imam Bonjol sudah menjadi orang tua sekaligus guru bagi masyarakat sekitar, karena wawasan dan kepribadiannya. Dia bahkan menjadi warga kehormatan di tempat tersebut.

Lebih dari satu dasawarsa berinteraksi dengan masyarakat setempat, Tuanku Imam Bonjol mengakhiri hayatnya pada tanggal 6 November 1854 di usia usia 80 tahun.

Belanda sempat menyembunyikan tahun kematian pejuang yang digelari Pahlawan Nasional ini selama 10 tahun. Hal ini untuk mencegah kembali terjadinya perlawanan mantan pengikutnya di Sumatera Barat.

Makam Tuanku Imam Bonjol berukuran 15 meter x 7 meter dibangun menyerupai arsitektur rumah adat Minangkabau, untuk mengingatkan tanah kelahirannya. Makamnya berada di lahan sebesar 75 meter x 20 meter.

Satu hal yang menarik, dulu sempat ada permintaan Bupati Pasaman untuk memindahkan makam Tuanku Imam Bonjol ke tanah kelahirannya.

Namun, permintaan tersebut langsung mendapat penolakan dari masyarakat Sulawesi Utara. Mereka menganggap Tuanku Imam Bonjol sudah menjadi bagian dari Sulawesi Utara.

Makam Tuanku Imam Bonjol akhirnya menjadi sebagai Cagar Budaya peringkat nasional pada tahun 2016.

Saat itu, makam Tuanku Imam Bonjol masuk kategori cagar budaya peringkat nasional bersama beberapa situs bernilai sejarah tinggi.

Cagar Budaya peringkat nasional yang ditetapkan pada 2016 yaitu, Makam Tuanku Imam Bonjol, Makam Kiai Modjo, Makam Raja-raja Tallo, Istana Bung Hatta, Istana Bima ‘Asi Mbojo’.

Ada juga Masjid Raya Al-Ma’shun, Masjid Agung Kauman Solo, Candi Badut, Candi Kidal, Candi Jabung, Candi Singosari, Candi Jago. Selain itu, ada Prasasti Cidanghiang, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Jambu, dan Prasasti Muara Cianten.

Penulis: F. G. tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

News Feed