GM Susanto Megaranto dan IM Irene Kharisma Sukandar gagal mendapatkan tiket ke piala dunia, usai hasil buruk di Asian Continental Chess Championship 2023, (3-9/6/2023) di Almaty, Kazakhstan. Kegagalan ini jelas sebuah tamparan telak buat induk olahraga catur Indonesia, Percasi.
Kejuaraan ini menyediakan enam tiket sebagai akses menuju Piala Dunia Catur Baku, Azerbaijan, Agustus mendatang. Ada empat tiket untuk empat pemenang di kelompok open dan dua di bagian putri.
Indonesia sendiri mengirimkan Susanto Megaranto, Irene Kharisma Sukandar dan IM Aditya Bagus Arfan untuk mencoba peruntungannya meski terkesan berat.
Hasilnya, GM Susanto Megaranto hanya mendapatkan 5/9 poin hasil 3 kali menang, 4 remis dan dua kali kalah. Megaranto tercecer di peringkat 29 dari 88 peserta.
Sementara itu, Irene Kharisma Sukandar yang menjadi unggulan ketiga di bagian putri juga tak bisa berbuat banyak. Dia hanya mendapatkan 5/9 poin dan berada di posisi 12 klasemen akhir.
Pecatur muda Indonesia Aditya Bagus Arfan justru meraih hasil lebih baik dari Susanto dan Irene. Dia mengemas 5,5/9 poin dari 5 kali menang dan sekali remis.
Kegagalan ini melengkapi kegagalan sebelumnya ketika menjadi tuan rumah kualifikasi Asia Zone 3.3 Chess Championships 2023 di Jakarta, Mei lalu.
Waktu itu, tampil dengan semua pecatur andalannya, Indonesia gagal membendung GM Bilguun Sumiya (Mongolia) dan GM Le Tuan Minh (Vietnam) pada kategori terbuka dan WGM Vo Thi Kim Phung (Vietnam) di bagian putri meraih tiket piala dunia.
Catatan penting usai turnamen ini, sudah saatnya Percasi berani melakukan perombakan total.
Tanpa mengecilkan prestasi Susanto Megaranto (36) dan Irene Kharisma Sukandar (31), kini waktunya Percasi lebih memprioritaskan pemain yang lebih muda.
Keduanya juga harus legowo, kini lebih tepat menjadi pelatih atau mentor buat generasi di bawahnya.
Mereka memang menjadi raja dan ratu catur Indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun, sorry to say, tak lagi memiliki prospek ke depan.
Mari mencontoh India yang kebanjiran pemain muda hebat. Sudah tepat, memberi kesempatan IM Aditya Bagus Arfan ke Kazakhstan.
Kini perbanyak kesempatan pemain angkatan Aditya Bagus Arfan, Nayaka Budhidharma atau Satria Duta Cahaya Cs. Mereka akan menjadi pelapis yang tepat buat GM Novendra Priasmoro, IM Yoseph Taher, IM Muhammad Lutfi Ali dan IM Jodi Setyaki.
Pun begitu di bagian putri. Orbitkan pemain-pemain muda generasi Laysa Latifah, Diajeng Theresa Singgih, Samantha Edithso dan Cecilia Natalie Liuviann. Mereka pelapis yang pas bagi IM Medina Warda Aulia, WIM Shanti Nur Abidah, WIM Dita Karenza dan WIM Ummi Fisabilillah.
Perhatikan juga pemain dengan kemampuan khusus seperti pecatur cantik WIM Chelsie Monica Sihite sebagai ratu catur kilat Indonesia.
Hanya perombakan total, Indonesia bisa bersaing dan menghasilkan pecatur hebat lima tahun ke depan. Kuncinya, perbanyak turnamen luar negeri untuk pemain muda.
Lakukan kompetisi promosi dan degradasi untuk menentukan siapa yang berangkat, jika memang budget terbatas.
Jangan lagi, bakat besar seperti Susanto Megaranto akhirnya terkubur seiring waktu karena kurangnya fasilitas.
Bayangkan, Hikaru Nakamura pernah menyesali kekalahannya atas Susanto Megaranto di Kejuaraan Junior belasan tahun silam. Dia tak ragu memuji permainan hebat Susanto. Kini Hikaru Nakamura menjadi pemain nomor dua dunia per Juni 2023.
Mungkin, jika waktu itu Susanto Megaranto memilih pindah kewarganegaraan seperti Wesley So, Fabiano Caruana dan Alireza Firouzja, tak terbantahkan Susanto sekarang sudah berada di jajaran elite catur dunia.
Ada juga cerita Irwin Irnandi Juara Dunia Junior Kelompok U-9 di Puerto Rico tahun 1989 yang sudah pensiun. Atau kisah Masruri Rahman Juara Dunia Junior Kelompok U-13 di Yunani 2009, yang kini harus pasrah menjadi konten kreator catur karena keterbatasan dana.
Belum lagi memori The Rising Star, Taufik Halay dan Andrean Susilodinata. Alih-alih meraih gelar GM, semuanya perlahan tapi pasti, meredup, layu sebelum berkembang.
Publik Catur Indonesia berharap Percasi sudah berada di tangan yang tepat, Utut Adianto Wahyuwidayat, legenda catur Indonesia. Seperti halnya Vishy Anand di India, Utut tak ragu membagikan pengalamannya untuk motivasi pecatur muda Indonesia.
Duet Utut Adianto bersama Bapak Catur Indonesia, Eka Putra Wirya di Percasi adalah garansi kemajuan catur Indonesia.
Menarik menunggu langkah dan program keduanya untuk berani memprioritaskan pemain muda.
Sekadar saran. Pada era permainan catur online ini, sudah saatnya Percasi memberikan hiburan bermutu buat publik catur Indonesia.
Buat turnamen online catur cepat 25 menit khusus pemain elite Indonesia yang terbagi beberapa divisi dengan sistem degradasi dan promosi rutin setiap pekannya. Gandeng sponsor agar turnamen lebih menarik.
Baca: Titik Balik Berakhirnya Era King Magnus Carlsen
Semoga Percasi akan melahirkan pecatur handal dari Indonesia. Mengikuti jejak Vishy Anand (India) dan Ding Liren (China). Maju Catur Indonesia. (BangKipot)
