oleh

Mengenang Opa Owik, Maestro Tari Kabasaran Minahasa

Sekadar pengingat, ada sosok yang berjasa dalam pengembangan Tari Kabasaran hingga begitu terkenal. Namanya, Lodywik Dirk Ngantung atau Opa Owik asal Paslaten Tomohon, Sulawesi Utara.

 

Lodewijk Ngantung
Lodywik Dirk Ngantung (dok.YISBSU)

Tari Kabasaran adalah tarian perang dari suku Minahasa, Sulawesi Utara. Tarian ini kerap terlihat kala penyambutan tamu penting yang datang ke tanah Toar Lumimuut tersebut.

Dengan pakaian khas merah plus aksesorisnya, tari Kabasaran memang menampilkan suasana perang lewat karya estetik.

Selain seni dan budaya, jelas terlihat ada unsur spiritual dan daya magis dalam tarian keprajuritan itu, seolah para penari berada di medan laga.

Memang, sebelum pentas, para penari Kabasaran akan melaksanakan beberapa ritual agar penampilannya berlangsung sukses. Intinya, mereka akan memohon kepada Opo Empung (Tuhan) dan para leluhur agar selalu menyertai dan memberkati dalam pementasan.

Sayang, seiring waktu, justru para generasi muda asli Minahasa mulai acuh tak acuh soal kelestarian tarian ini. Sama nasibnya, dengan Tari Maengket dan Musik Kolintang.

Ironisnya, banyak pihak yang tergerak ingin belajar dan melestarikan budaya Minahasa justru datang dari suku berbeda, bahkan negara luar.

Sekadar pengingat, ada sosok yang berjasa dalam pengembangan Tari Kabasaran hingga begitu terkenal. Namanya, Lodywik Dirk Ngantung atau Opa Owik asal Paslaten Tomohon, Sulawesi Utara.

Maestro Kabasaran kelahiran 29 Juni 1929 itu bahkan layak mendapat predikat maskot pariwisata dan duta bangsa.

Pose khasnya, mata melotot menggigit bibir, memegang tombak dengan baju merah menjuntai, topi burung lengkap dengan aneka pernik di dada, begitu kesohor.

Entah berapa banyak majalah luar negeri dan kartu pos yang beredar memuat sosok Opa Owik tersebut. Belum lagi, jepretan kamera turis asing yang kagum dengan pendalaman karakternya saat pentas.

Pun, suara lantangnya begitu menggelegar ketika memekikkan kalimat pembangkit semangat dalam perang, I Yayat U Santi (Angkat Pedangmu).

Hentakan kaki, bola mata melotot dan beputar hingga teriakannya dalam tarian, selalu membuat penonton merasakan suasana perang sungguhan.

Opa Owik memang begitu menjiwai setiap pertunjukannya. Lebih dari 50 tahun, dia membaktikan hidupnya sebagai penari, sekaligus pelestari tari Kabasaran.

Banyak daerah yang dia kunjungi, bukti kontribusi Opa Owik dalam misi mengenalkan budaya Sulawesi Utara di mata dunia.

Tak terhitung jua berapa banyak para penari kabasaran baru yang sudah dia ajarkan.

Baca Juga:  Ini Fakta Lengkap Ajang Nyong Noni Sulut 2018
“Tari Kabasaran begitu saya cintai, …” katanya.

 

Yang menarik, bagi Opa Owik, Kabasaran bukan sekadar tarian untuk menjemput tamu atau menghibur orang. Menurutnya, ada filosofi yang terkandung di dalamnya soal potret budaya Minahasa yang sarat makna, termasuk pesan untuk generasi muda.

“Budaya Minahasa terlebih figur Waraney (Ksatria Minahasa), lekat dengan nilai keberanian, kerja keras, perjuangan hidup, cinta tanah air, dan selalu bersyukur kepada Tuhan,” jelasnya.

Tentunya, kata dia, saat ini Waraney Minahasa tak perlu lagi mengangkat pedang secara harafiah, namun berjuang untuk mempertaruhkan kehormatan serta membangun daerahnya dengan nilai agama dan budaya.

“Ada nilai tersembunyi dari warisan ksatria Waraney, yakni keberanian berperang ketika menghadapi ketidakadilan,” pesannya.

Banyak pejabat dan turis sudah dia sambut dengan tombaknya. Tombak yang menurutnya merupakan warisan kakeknya dan turun kepada ayahnya.

Satu waktu, Lodywik Dirk Ngantung sempat menyentil keberadaan pemerintah soal keseriusan melestarikan nilai budaya Minahasa.

“Mereka setengah hati mengembangkan seni budaya daerah. Datang kalau lagi perlu, jika mau jemput tamu atau ada acara. Sesudah itu lenyap,” sentilnya.

 

Baca juga: Jeanne Mandagi, Jenderal Wanita Pertama di Polri

Selasa 28 Oktober 2008, Opa Owik menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Bethesda Tomohon. Hampir tiga bulan lamanya dia terbaring tak sadar akibat terserang penyakit stroke.

 

Tak banyak karangan bunga dari pejabat atau instansi pemerintah. Padahal kiprah dan kontribusinya begitu besar memajukan kebudayaan Sulut di mata dunia.

Lodywik Dirk Ngantung pergi dalam kesunyian dan kesederhanaan. Sesederhana harapannya, soal masa depan tarian Kabasaran dan budaya Minahasa.

“Saya tak butuh penghargaan. Saya ikhlas membaktikan hidup untuk pelestarian budaya Minahasa. Kerinduan saya sederhana, tari Kabasaran tidak punah dari tanah Minahasa,” begitu katanya.

Akhir hayatnya, Opa Owik memang tak mendapat ‘penghargaan’ yang semestinya.

Baca juga: Inggit Garnasih, Minta Cerai Ketika Sukarno Lirik Fatmawati

Padahal, Lodywik Ngantung lama menjadi ikon dari tari Kabasaran di Minahasa. Bahkan, ada pengakuan dari para penari kabasaran senior, kehadiran Opa Owik membuat tari Kabasaran seperti mempunyai jiwa. Dengan komandonya Tari Kabasaran jadi identitas yang unik. (fgt/recky)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

  1. Bangga pernah kenal dekat dgn Om Owik walaupun kami berbeda generasi,
    Kami pernah merasakan indahx kebersamaan saat melakukan pertunjukan Kawasaean bersama walaupun kami masih Kategori Kawasaean Cilik waktu itu ..

    Om Owik dan Om Ber Poluan (saat ini masih jadi Ikon Kawasaean) dan Opa Welem Runtuwene adalah sosok yg begitu menginspirasi kami anak2 utk mau menggeluti tarian Kawasaean sejak kecil…

    Saat ini pelaiku Kawasaran Paslaten Tomohon yg pernah bersama2 dgn Om Owik masih ada yg masih Hidup seperti Om Ber Poluan, Papa Bei Montolalu dan bbrpa lainx..

    Hidup Budaya Minahasa…