oleh

Sejarah Waruga Dilihat Dari Kacamata Seni Budaya

Waruga termasuk klasifikasi Sarkofagus (kubur batu) terdiri dari dua kata yang menjadi satu Wale dan Ruga (Wale = Rumah, Ruga=Roga=Rega= Hancur) adalah tempat jenazah hancur menjadi tulang belulang.

Foto Waruga tahun 1980 di Kema, Minahasa (KITLV-Leiden)
Foto Waruga tahun 1980 di Kema, Minahasa (KITLV-Leiden)

Orang Minahasa mengenal dua kali pemakaman, yang pertama sebelum abad ke-5 jenazah dimakamkan dalam kotak peti kayu yang disebut Walongsong diletakan di hutan kemudian tulang belulangnya dicuci di sungai dan dimasukkan dalam Kotak Kayu kecil lalu disimpan di dalam plafon atap rumah (loteng).

Setelah abad ke-5 tulang belulang dipindahkan ke dalam bejana tanah liat baker yang berbentuk rahim wanita dan di makamkan kedalam tanah seperti yang ditemukan di wilayah selatan Danau Tondano segitiga Kakas, Langowan, Paso.

Sesuai pemikiran Minahasa purba bahwa manusia lahir dari rahim wanita dan meninggal kembali lagi ke rahim wanita yang berbentuk bulat lonjong seperti bentuk rahim wanita yang terbuat dari tanah liat bakar yang disebut kurek.

Pemakaman jenazah kedalam kubur batu waruga di Minahasa baru dimulai sekitar abad ke-12 (mungkin sebelum abad itu), tapi bukti pada waktu itu susah ditemukan karena batu Waruga yang berat cenderung terperosok masuk kedalam tanah karena daya tarik bumi.

Hingga yang masih ditemukan Waruga sekarang adalah Waruga yang berasal dari abad ke-14 dan ke-15 dan yang paling banyak adalah waruga abad ke-16 sampai abad ke-20.

Waruga di Airmadidi, Minahasa Utara
Waruga di Airmadidi, Minahasa Utara

Waruga yang paling akhir setelah tahun 1900-an terdapat di desa Kolongan Tomohon dekat RS Gunung Maria yang telah memiliki pahatan nama dari orang yang telah meninggal dan tertulis angka tahun 1918.

Menurut N Groadland di bukunya berjudul De Minahasa terbitan tahun 1898 dan Ancient Art of The Minahasa oleh DR Hetty Palm tahun 1961, Alfoersche Legenden. N.PH Wilken tahun 1863, Die Minahasser F.S Sarasin tahun 1893, banyak menulis mengenai waruga akan tetapi tulisan khusus tentang waruga di tulis oleh M.R.C Bertling berjudul De Minahasische Waroega (Hocker Bestattung) cetakan tahun 1931.

Bentuk Waruga

Umumnya Waruga berbentuk Rumah segi empat dengan batu penutup bentuk atap rumah segi-tiga. Tapi ada juga Waruga berbentuk bulat seperti terdapat di Nimawanua Tondano model rumah bulat seperti di Papua.

Batu bulat berongga segi empat tempat jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan posisi kedua tangan terlipat di dada seperti posisi bayi dalam kandungan sebagau simbolisasi Wanita.

Sedangkan batu penutup segitiga model atap rumah di beri simbolisasi laki-laki. Pada batu penutup di beri relief pahatan identitas keluarga suami isteri pemilik Waruga.

Bahan batu umumnya diambil dari tepi sungai jenis batu lembut yang dalam bahasa inggris disebut Sand Stone yang akan menjadi lebih keras jika terkena sinar matahari seperti lokasi tempat pembuatan Waruga di Sawangan Tonsea dan tepi sungai Ranowangko Kamasi Tomohon.

Alat pembuat Waruga disebut “Tahak” (peda) golok dari besi dalam berbagai bentuk yang masih dapat kita lihat di kompleks Waruga Airmadidi Tonsea.

Dengan alat itu batu kubur Waruga di bentuk dengan tehnik ukiran kayu, untuk mendapatkan bentuk segi tiga digunakan batu terikat tali yang di gantung sehingga mendapatkan segi tiga sama sisi, untuk bentuk segi empat digunakan dua tangkai bamboo sama panjang yang terikat di bagian tengahnya.

SIMBOLIS MOTIF HIAS Relief ukiran bentuk manusia konsep lama seperti bentuk bayi tidur dengan kedua kaki dan kedua tangan terbuka dan bentuk kemaluan lelaki atau wanita jelas terlihat. Bentuk ukiran manusia konsep baru akan terlihat gambar manusia nampak dari samping, atau topi bukan lagi kain ikat kepala tetapi topi model (cow boy) , seperti pada Waruga di Sawangan Tonsea.

Gambar ukiran manusia manusia lelaki (suami) dan gambar ukiran manusia wanita (istri) dipahatkan pada kedua sisi atap batu penutup Waruga beserta identitas seperti wanita mendukung anak, suami yang ber profesi sebagai Tona’as Mamu’is (tukang potong kepala) memegang pedang di tangan kanan memegang kepala orang di tangan kiri Tona’as “Mengangasu” (Pemburu) ada gambar anjing pemburu, Tona’as “Mengalei” ada gambar tangkai daun sirih, Tona’as “Penguma’an” (Petani) ada 12(dua belas) bulatan perhitungan bulan dalam satu tahun.

Karena hanya pemimpin tokoh masyarakat yang di makamkan dalam batu Waruga yakni para Tona’as dan Walian dan hanya ada 2(dua) jabatan pemimpin masyarakat Minahasa yakni para Tona’as yang memimpin pemerintahan , berperang ,menjaga hutan , membuat rumah,mengolah tanah, dan organisasi mapalus juga para Walian pemimpin upacara pertanian,Pemimpin Agama suku (Walian mangorai,Walian Merarages) umumnya mereke suami isteri.

Komplek waruga Sawangan, Minahasa Utara
Komplek waruga Sawangan, Minahasa Utara

 

Ada tiga bidang tempat motif hias Waruga yang melambangkan dunia atas,dunia tengah pada tebal batu penutup segitiga dan dunia bawah pada dinding batu segi empat ada simbol ular metamorphosa dan yang terletak pada bidang dunia tengah yakni gambar motif tanaman merambat atau tanaman merambat berkepala ular adalah symbol yang merubah dunia nyata kea lam roh ketika manusia meninggal.

Motif hias Waruga Tonsea sangat rumit dan indah tehnik pengerjaannya , Waruga Tombulu gambar-gambarnya memberi kesan menakutkan ada bentuk wajah manusia yang bertaring dan umumnya memegang pedang, Waruga Tontemboan punya hiasan sederhana bahkan ada yang tidak punya motif hias sama sekali. UPACARA ADAT PEMAKAMAN Setelah seseorang Tokoh Masyarakat meninggal maka jenazahnya di-ikat dalam posisi duduk di sebuah kursi selama satu malam dijaga oleh Walian “ Mawasal” membujuk roh si yang meninggal yang enggan berpisah dari badan kasarnya .

Acara pemakaman esok harinya jenazah diturunkan dari lantai rumah yang papan lantainya sengaja dibuka , diletakkan di kursi jenazah disebut “ Lulukeran” dan di gotong mengelilingi rumah tiga kali lalu berkeliling kampung dan akhirnya di bawah ke Waruga yang terletak disebelah kanan halaman belakang rumah alamarhum. Dimaksudkan supaya roh si mati tidak dapat lagi kembali kerumah semasa hidupnya. Ketikah jenazah dimasukkan kedalam Waruga di dudukan diatas piring porselen cina bersama bekal kubur lainnya seperti botol minuman, manik-manik emas disebut “kamagi” padi,pisau,beras,mata tombak dan kepala orang.

Waruga mulai dibuat ketika seseorang mulai sakit berat dan kadang-kadang ukiran Waruga belum selesai si pemilik Waruga sudah meninggal. Waruga hanya dapat digunakan oleh satu keluarga suami-isteri dan anak-anaknya, misalnya pengguna pertama memakamkan suaminya ketika isteri meninggal beberapa tahun kemudian maka kerangka suaminya dipindahkan ke kotak kayu “Balongsong” agar Waruga dapat digunakan untuk jenazah isteri. Ada Waruga kosong tanpa kerangka manusia karena ketika kerangka kedua orang tua sudah dikeluarkan, anak-anak pemilik Waruga sudah masuk Kristen dan tidak lagi mau menggunakan Waruga tapi bekal kubur kalung emas,medallion emas,gelang emas,piring porselin cina tidak dikeluarkan dari dalam Waruga.

Baca Juga:  New Normal, Ruang Isolasi Penuh Dalam Hitungan Hari

MERA WARUGA Ketika jalan-jalan di Minahasa mengalami perubahan karena mulai menggunakan kendaraan roda dua gerobak atau pedati disebut roda sapi dan roda kuda, lahirlah jalan raya utama sehingga jaringan jalan berubah , halaman depan rumah menjadi halaman belakang, lokasi Waruga menjadi pasar. Tahun 1850 ketika Outford Pelengkahu menjadi Hukum Besar Tonsea membuat lokalisasi Waruga-Waruga Tonsea di Airmadidi Sawangan , Kasar Karegesan. Memindahkan Waruga-Waruga dalam satu lokasi khusus di Airmadidi dan Sawangan, hal ini tidak terjadi di wilayah Tombulu karena pemukiman negeri lama disebut “Nimawanua” jauh dari jalan raya yang mulai terbentuk tahun 1850-an Sarongsong-Kinilow,Tomohon-Tanawangko,Tomohon-Tondano.

Sama seperti di kota Tondano “Minawanua” hulu sungai Tondano jauh dari jalan raya. Komplek Waruga di jalur jalan raya Sonder-Kawangkoan yakni di Kiawa tidak dipindahkan malahan ada yang dihancurkan atau dibiarkan terbenam kedalam tanah, ada Waruga tonsea yang di pindahkan ke Museum di Manado tanpa upacara adat.

Hingga tanpa data tahun pemindahan dan data asal Waruga dari Tonsea wilayah mana , milik dotu siapa. Upacara adat menentukan apakah sebuah Waruga boleh dipindahkan atau tidak, seperti Waruga Roland Ngantung Palar di pertigaan Matani Tomohon tidak boleh dipindahkan. Upacara adat pemindahan Waruga disebut ”Mera” Waruga (Mera=Pindah) batu Waruga diangkat dengan tali pohon bambu muda yang dipelintir disebut ”Mules” menjadi tali.Alasan supranatural sulit dijelaskan tapi alasan tekhnis menurut logika bahwa tali ini tidak akan merusak permukaan batu Waruga.

Tona’as yang memimpin upacara ”mengalei” pada pemindahan Waruga harus di kawal Kabasaran yang melindungi si Tona’as dari gangguan roh jahat atau niat jahat sesama manusia karena ada juga Tona’as yang jahat dan yang baik pengertian jahat adalah mengutamakan kepentingan pribadi, sehingga upacara adat pemindahan Waruga tidak lagi mementingkan Roh si pemilik Waruga yang tidak lagi berdiam dalam Waruga. Karena pada waktu pemakaman sudah dilakukan upacara adat ”Zumouk Tanak” roh si mati menjauh dari bumi menuju langit (Kasendukan,Kalawakan,Sinayawan) Upacara adat lebih mengutamakan pada masalah minta ijin.

WARUGA DALAM BUDAYA MINAHASA Waruga dalam budaya Minahasa lama secara pralogis (logika lama) tidak dianggap benda sakral seperti halnya Batu Tumotowa atau batu Pinawetengan yang tempo dulu di keramatkan karena menyangkut kepentingan orang banyak.

Batu Tumotowa jadi pusat berdirinya sebuah pemukiman , Negeri disebut Wanua, batu Pinawetengan tempat melakukan perdamaian antara walak-walak subetnik yang bermusuhan untuk bersatu ”maesa’an” asal kata Minahasa .

Waruga hanya kotak batu tempat merobah jenazah menjadi kerangka milik pribadi satu keluarga, banyak Waruga yang tidak lagi di ketahui milik keluarga siapa pada zaman lampau. Apa dan bagaimana kehidupan pemimpin-pemimpin Minahasa tempo dulu dapat terbaca melalui gambar pada Waruga sekaligus memberi data kebudayaan Minahasa jaman lampau .

Bentuk busana abad 16-17 gambar topi kuningan ”Paseki” jaman spanyol di Minahasa,termasuk gambar senapan yang sudah digunakan orang Minahasa sejak abad 16 memerangi spanyol keluar dari Minahasa tahun 1644. Waruga adalah benda informasi masa lampau mengenai seni budaya Minahasa yang akurat tidak dapat disangkal sebagai barang bukti sejarah,budaya,sistem pemerintahan dan kesenian.

CATATAN SEJARAH : – Keramik cina yang terdapat dalam Waruga ada yang berasal dari dinasti Ming,Sung,Tang abad 11-12 menceritakan sebagai barang bukti bahwa kapal-kapal dagang cina sudah datang ke Minahasa di-abad itu walaupun tidak tercatat dalam sejarah Minahasa dalam bentuk data tertulis.

– Abad 16-17 orang Minahasa banyak menggunakan perhiasan emas, banyak jenis kalung emas berbagai bentuk,gelang emas,anting emas di ketemukan dalam Waruga oleh Spanyol yang datang ke Minahasa.

– Abad 16-17 orang Minahasa sudah menggunakan senapan ”Muskat” dalam perang antar walak dan mengusir Spanyol dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, Minahasa mungkin suku bangsa Indonesia yang pertama menggunakan senjata api.

CATATAN BUDAYA : – Gambar arca perunggu kepala tongkat Tona’as dan Walian yang disebut ”Olad” dan ”Sekad” pada badan Waruga di Kakas dan Sawangan berasal dari jaman abad 15-16. Memberi data bahwa orang Minahasa dapat membuat arca perunggu yang berongga didalamnya dengan menggunakan cetakan, sebelum kedatangan bangsa barat Portugis dan Spanyol ke Minahasa.

– Gambar manusia Waruga Tombulu yang memberi kesan menakutkan memberi gambaran budaya Tombulu berbentuk militeristik sebagai tentara sewaan menjual jasa pada walak-walak Minahasa lainnya seperti mengirim 800 tentara membantu walak Ratahan abad 16.

Bentuk prajurit tradisional ini tercermin pada tari kabasaran Tombulu yang tetap bertahan dari kepunahan hingga sekarang ini. – Keindahan Waruga Tonsea melebihi keindahan Waruga-Waruga subetnik di Minahasa lainnya yang menunjukkan orang Tonsea lebih terbuka menyerap budaya luar masuk Minahasa lebih moderat dan tidak ortodoks seperti Tombulu dan Tontemboan di masa lampau.

SISTEM PEMERINTAHAN Waruga Pemimpin Minahasa adalah milik suami istri bila suami sebagai Tona’as Wangko Kepala Negeri,Kepala Walak maka istrinya adalah Walian Wangko yang mengatur produksi tanaman padi , pengendalian perdagangan beras.

Walau Minahasa tidak mengenal raja tapi pemerintah republik desa berada pada pasangan suami isteri yang pasti berkuasa mutlak sebagai raja-raja kecil di wilayahnya. Waktu atau masa berkuasa sampai dua atau tiga generasi sampai ada suami isteri lain yang menumbangkannya. Contoh pemerintahan Tonsea abad 16 dipegang keluarga Wenas tiga generasi dan kemudian berpindah ke Pelengkahu tiga generasi lalu beralih ke Rotinsulu tiga generasi. Masing-masing Pakasaan Tonsea,Tombulu,Tondano,Tontemboan berkuasa mutlak atas wilayahnya masing-masing.

KESENIAN Motif hias pada batu waruga punya nilai artistik yang tinggi dalam gaya dekoratif sayangnya orang Minahasa tidak mau mengembangkannya sebagai motif hias asli orang Minahasa karena menganggap motif hias kubur orang mati yang sebenarnya motif hias itu ingin mengambarkan profesi si pemilik Waruga semasa hidupnya sebagai pemimpin masyarakat yang kepemimpinannya patut di contohi anak keturunannya.

Gambar manusia pada Waruga Tonsea menjelaskan perkembangan seni berbusana dari model jubah panjang dengan kain ikat kepala sebelum abad 17, lalu berubah menjadi model jas panjang busana eropa dengan topi (cow boy) setelah abad 17 dalam posisi bertolak pinggang gaya menantang seperti tuan – tuan orang Eropa.

Hingga kini banyak kaum cendekiawan Minahasa berpendapat Minahasa tidak punya motif hias dan ingin mengadopsi motif hias Eropa Tinggi rendahnya Kebudayaan sebuah subetnik suku bangsa di Indonesia ditentukan oleh ada tidaknya budaya mengukir pada kayu dan batu.Dalam hal ini Minahasa di wakili oleh ukiran pada batu Waruga karena ukiran kayu Minahasa masa lampau telah hancur dimakan jaman. (alm.JessyWenas)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar