oleh

Mengenang SHS, Antara SBY, Jokowi, Jafar dan Duterte

Sinyo Harry Sarundajang (SHS), meninggal dunia di RS Siloam Jakarta, Sabtu (13/02/2021) dalam usia 76 tahun.

Rencananya, prosesi pemakaman jenazah mantan Gubernur Sulut (2005-2015) berlangsung Kamis, (18/02/2021) di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Baca: Sinyo Harry Sarundajang Meninggal Dunia

Masyarakat Sulut dari ujung Pulau Miangas hingga batas Pinagoluman memasang bendera setengah tiang selama tiga hari. Ini wujud terima kasih dan pertanda berkabung atas kepergian sang pemimpin.

Sarundajang meninggal dunia ketika masih aktif sebagai Duta Besar Indonesia untuk Filipina merangkap Kepulauan Marshall dan Palau.

Hal itu menjadi bukti dedikasi dan loyalitasnya untuk Indonesia. Meski sakit, dia tak menyerah dan masih tulus memberikan pelayanan untuk negeri.

Mengenang Sinyo Harry Sarundajang, Newsantara.Id merangkum beberapa momen yang bisa menggambarkan prestasi, optimisme dan fleksibelitasnya.

Menjadi Pejabat Eselon II Ketika Usianya 32 Tahun.

Tahun 1978, belum 10 tahun menjadi PNS, Sinyo Sarundajang sudah menjabat Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi Sulut.

Sarundajang bahkan menjadi Penjabat Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Minahasa setahun berikutnya, tahun 1979.

Waktu itu Kabupaten Minahasa belum mekar menjadi 5 Kabuaten/ Kota. Sarundajang kemudian kembali menjabat Sekretaris Daerah Minahasa tahun 1983.

Menjadi Walikota Selama 14 Tahun 5 Bulan.

Usai menjabat Sekda Minahasa, Sarundajang menjadi Walikota Bitung pada tahun 1986. Saat itu Bitung masih menjadi Kota Administratif (Kotif).

Jabatannya berlanjut menjadi Penjabat Walikota ketika Kotif Bitung menjadi Kota Madya Dati II Bitung tahun 1990. Selanjutnya, dia menjadi Walikota Bitung periode 1990-2000.

Jabatan itu menjadikan SHS sebagai salah satu Walikota dengan jabatan terlama di Indonesia.

Menjadi Tokoh Perdamaian Maluku dan Maluku Utara.

Selepas menjabat Inspektur Jenderal (Irjen) Departemen Dalam Negeri Irjen, dia menjadi Penjabat Gubernur Maluku (2002-2003) dan Penjabat Gubernur Maluku (2002).

Ketika itu, dua daerah ini porak poranda akibat konflik horizontal. Namun berkat ketulusan dan kegigihannya, dia berhasil melakukan rekonsiliasi para tokoh di dua daerah tersebut. Padahal waktu itu, dia mendapat penolakan keras dan ancaman pembunuhan.

“Ketika sampai di sana, saya berusaha melakukan pendekatan kepada kedua belah pihak. Tidak mungkin mereka membunuh saya, jika niat saya ingin mendamaikan dan membangun daerah mereka,” begitu kesaksian Sarundajang.

Pada akhirnya, SHS justru menjadi karib dengan Panglima Laskar Jihad, Jafar Umar Thalib. Bahkan Sarundajang mengakui, pasca bertugas di sana, hubungan keduanya sangat dekat.

Jafar Umar Thalib dalam berbagai kesempatan juga mengakui, warga Maluku dan Maluku Utara punya hutang kepada Sarundajang.

“Bukan hanya kami, tapi Indonesia berhutang atas jasa beliau. Padahal waktu itu semuanya sudah buntu. Kekerasan hati kami menjadi lunak ketika bertemu beliau. Kami tersadar, beliau ingin memperbaiki dan membangun daerah kami yang sudah hancur,” kenang Jafar Umar Thalib.

Keberhasilan mendamaikan dua daerah tersebut juga membuat Sarundajang mendapat gelar DR HC dari UIN Malang. Pemimpin dalam Masyarakat Majemuk.

Menjadi Gubernur Pertama Pilihan Langsung Masyarakat Sulut

Maju bersama Freddy Sualang, Sarundajang menjadi gubernur pertama di Sulut hasil pemilihan langsung dalam Pilgub 2005. Lima tahun berselang, Sarundajang bersama Djouhari Kansil, kembali mengarungi periode kedua kepemimpinannya.

Baca Juga:  Herkis Mundur, Ricky Nelson Pelatih Baru Sulut United
Wakili Indonesia Timur dalam Konvensi Capres Partai Demokrat

Sebelum Pilpres 2014, tepatnya tahun 2013, SHS menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.

Dia menjadi satu-satunya calon dari Indonesia Timur dan beragama Nasrani. Dia bersaing dengan sejumlah nama seperti Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Gita Wirjawan dan Irman Gusman.

Ada juga Ali Maskyur Musa, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto dan Hayono Isman.

Meski sadar peluangnya berat, dia ingin publik mendengarkan konsepnya Blue Economy (Potensi Ekonomi Maritim) untuk Indonesia.

“Maju konvensi bukan keinginan saya, namun permintaan dan desakan bapak SBY. Saya tahu tak akan terpilih, tapi saya ingin membagikan konsep pemikiran tentang kekuatan maritim untuk Indonesia,” jelasnya waktu itu.

Yang menarik, SHS sempat ingin menggandeng Joko Widodo yang waktu itu Gubernur DKI Jakarta, jika memang terusung dalam Pilpres.

“Saya cukup dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri. Jika jadi maju calon presiden, saya ingin Pak Jokowi jadi wakil,” katanya.

Uniknya, ketika peroleh suara Partai Demokrat tak memungkinkan mengusung calon, Jokowi menjadi capres usungan PDIP tahun 2014.

Sarundajang turut mengantar pendaftaran Jokowi-JK di KPU RI. Dia kemudian menjadi Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK di Sulawesi Utara. Hasilnya, Jokowi-JK memperoleh kemenangan di Sulawesi Utara.

“Saya dan pak Jokowi berteman, sesama Gubernur. Saya mengagumi kepemimpinan beliau, waktu menjabat di DKI,” begitu puji Sarundjang.

Dekat dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Ketika menjabat Dubes, Sarundajang pernah menjadi tokoh sentral dalam pembebasan tiga Warga Negara Indonesia. Sebelumnya, mereka menjadi sandera kelompok garis keras Abu Sayyaf di Filipina.

Tiga WNI nelayan tersebut tertangkap ketika melaut selama 20 bulan lalu tepatnya pada 18 Januari 2017.

Pemerintah RI sangat berhati-hati dalam menyelamatkan para WNI yang menjadi sandera. Sarundajang bahkan sampai menemui Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk memastikan keselamatan mereka.

Hal ini yang jadi langkah Dubes Sarundajang ketika menggelar pertemuan bilateral.

Hebatnya, pembebasan tiga WNI tersebut tanpa uang tebusan seperti kebiasaan penculik. Mereka biasanya meminta kompensasi uang kepada negara asal sanderanya.

SHS dan Duterte memang memiliki hubungan persahabatan sejak lama. Keduanya menjadi sahabat kental ketika Duterte menjabat Walikota Davao di Filipina dan Sarundajang menjadi Gubernur Sulawesi Utara.

Duterte bahkan menganggap Sarundajang sebagai saudara sekaligus mentor. Sarundajang waktu bernostalgia mengingatkan kedekatan hubungan Bitung-Davao sebagai Sister City sejak tahun 1993.

Sekadar informasi, peringatan kemitraan Sister City tersebut ditandai dengan pembuatan patung dua pahlawan kedua negara.

Patung Sam Ratulangi berdiri di freedom park, Davao City. Sedangkan patung pahlawan Filipina Jose Rizal hadir di jalan Sam Ratulangi, Bitung.

Kini, sosok Sinyo Harry Sarundajang sudah berpulang. Namun, semua persembahannya untuk negeri, selalu abadi menjadi kenangan tak terlupakan.

Terima kasih Pak Sarundajang… (fgt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed