oleh

SGBK, Stadion Kebanggaan Visi Sukarno

-Bola, History-1.381 kali dibaca

Tahun 2001 Abdurahman Wahid (Gusdur) menerbitkan Keppres No.7/ 2001 yang menyatakan pengembalian nama stadion tersebut ke nama semula yakni Stadion Gelora Bung Karno (SGBK).

Stadion Gelora Bung Karno (SGBK), menggelar hajatan besar Asian Games tahun 2018. Terakhir kali acara serupa terjadi pada 55 tahun silam.

Baca: Ini Awal Mula 9 Februari Ditetapkan Sebagai HPN

Namun ada hal yang belum banyak kita ketahui tentang sejarah berdirinya stadion yang berkapasitas 85 ribu penonton tersebut.

Pembangunan tersebut banyak terpengaruh situasi politik setelah Indonesia merdeka di tahun 1945.

Empat belas tahun setelah merdeka tepatnya pada tahun 1959, Sukarno yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI yang pertama, mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 113/1959. 

Hal ini menyusul ditetapkannya Indonesia  menggelar Asian games 1962. Isi Keppres tersebut adalah tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI).

Menunjuk Frederik Silaban sebagai arsitek dan Raden Maladi (mantan ketua umum PSSI) sebagai Menteri Penerangan, Sukarno ingin membuat stadion sangat megah berkelas dunia di Indonesia.

Sukarno yang waktu itu terkenal dengan diplomasi luar negerinya, memperoleh kredit lunak sebesar $12,5 juta dari Rusia untuk pembangunan stadion ini.

Sukarno menancapkan tiang pertama pembangunan stadion ini pada 1960, disaksikan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev.

Sejumlah ahli teknik Rusia juga datang membantu arsitek dan pembangunan stadion yang menjadi mimpinya.

Sukarno waktu itu ingin membuat stadion luar biasa yang bisa membuat publik dunia menatap Indonesia.

Dua tahun pengerjaan, tepat tanggal 24 Agustus 1962 bertepatan dengan siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI), Sukarno meresmikan Stadion Gelora Bung Karno.

Mimpi Sukarno terwujud, dunia terbelalak kagum, menatap jauh ke Asia Tenggara.

Ada sebuah negara berdaulat yang sukses melaksanakan Asian Games 1962, Indonesia namanya.

Tak lama setelah itu, Sukarno memutuskan keluar dari Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) karena berseteru dengan anggota PBB lain.

Sukarno kemudian menjalin kerjasama dengan beberapa negara di Asia dan Afrika untuk menciptakan sebuah blok baru.

Baca Juga:  Raja Menyerang Vs Master Bertahan

Blok ini berada di tengah blok barat dengan Amerika Serikat sebagai koordinatornya dan blok timur dengan Uni Soviet sebagai ketuanya.

Sukarno kemudian menjadi pencetus lahirnya New Emerging Forces (NEFOS) yang beberapa tahun berselang namanya berubah menjadi gerakan non blok.

Akibat keluarnya Indonesia dari PBB, Indonesia mendapat tekanan dari dunia internasional dalam beberapa bidang termasuk dunia olahraga.

Tak mau mendapat tekanan, Sukarno kemudian keluar dari IOC (International Olimpic Committee) dan menggelar ajang olahraga antar negara anggota NEFOS yang diberi tajuk GANEFO pada 1964 di SGBK.

SGBK menjadi lambang kebesaran Indonesia dalam menggelar kejuaraan bertaraf internasional.

Setelah Sukarno turun takhta pada 1966, Presiden kedua RI, Suharto kemudian mengganti nama stadion tersebut dengan Stadion Utama Senayan.

Setelah puluhan tahun, kita mengenal stadion tersebut dengan nama Stadion Senayan, tahun 2001 Abdurahman Wahid (Gusdur) menerbitkan Keppres No.7/ 2001 yang menyatakan pengembalian nama stadion tersebut ke nama semula Stadion Gelora Bung Karno (SGBK).

Stadion yang juga sering digunakan untuk menggelar konser grup musik atau kegiatan politik, direnovasi besar-besaran menyambut AG 2018.

Stadion ini mendapat penambahan sejumlah fasilitas modern. Rumput lapangannya  juga mendapat peremajaan dengan menggunakan rumput berkelas dunia dan pruduk terkini.

Kini, rumput SGBK  menggunakan rumput jenis zoysia matrella, rumput yang sama seperti rumput di Stadion kebanggaan klub Bayern Munchen dan timnas Jerman, Allianz Arena.

Dengan daya tampung lebih dari 80 ribu suporter, SGBK kini masuk 10 besar stadion dengan kapasitas terbesar di dunia.

SGBK bersanding dengan Nou Camp, Spanyol,  kandangnya Lionel Messi Cs, dan Stadion Wembley, kebanggaan warga Inggris.

Penulis : F. G. Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

News Feed