oleh

Menyelisik Kampung Jaton Peninggalan Kiai Modjo

Kiai Modjo diangkat sebagai  pensihat spiritual sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro karena kesaktian dan juga pendidikan agamanya.

Minahasa, salah satu Kabupaten di Sulawesi Utara dikenal sebagai masyarakat religius. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan.

Tak heran, hampir setiap satu kilometer selalu ditemukan bangunan gereja yang menunjukkan betapa religiusnya masyarakat Minahasa.

Namun, ada yang menarik ketika kita menyusuri ibukota Kabupaten Minahasa yaitu Tondano. Ada sebuah desa yang dinamakan Kampung Jawa Tondano atau disingkat Jaton.

Desa yang memiliki seratus persen warga beragama Islam ini  berada di tengah-tengah Kabupaten Minahasa.

Jaton menjadi salah satu bukti sejarah Islam masuk ke Sulut, khususnya Minahasa.

Dari sejarah, kampung ini didirikan oleh KH Muhammad Khalifah Modjo atau lebih populer dengan sebutan Kiai Modjo.

Dalam buku sejarah Indonesia, Kiai Modjo memiliki andil besar pada perjuangan Pangeran Diponegoro (1825-1830), yang akhirnya dibuang pemerintahan kolonial Belanda ke Manado.

Kiai Modjo diangkat sebagai  pensihat spiritual sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro karena kesaktian dan juga pendidikan agamanya.

Kiai Modjo kemudian ditangkap Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah.

Sang guru bersama 62 pengikut setianya dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano Minahasa, Sulut, awal 1830.

Baca juga:  Pantai Kinunang, Eksotisme Savana dan Taman Laut

Kiai Modjo wafat di Tondano pada 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Kampung Jaton ini begitu terkenal di Sulut, bukan hanya karena menjadi minoritas di daerah mayoritas, namun menjadi simbol kerukunan antar umat beragama.

Sudah beratus tahun mereka hidup berdampingan tanpa ada konflik antar agama, hal yang patut ditiru masyarakat luar.

Setiap Lebaran ketupat tiba, kampung ini  begitu ramai, semua warga dari segala penjuru Sulut diundang untuk merayakan lebaran di Jaton.

Bukan hanya itu, budaya yang ditinggalkan Kiai Modjo dan pengikutnya begitu mempengaruhi bangunan dan tradisi masyarakat setempat.

Seperti halnya Masjid Al-Falah Kiai Modjo, yang dibangun pada tahun 1854 yang sempat mengalami renovasi beberapa kali pada tahun 1974, 1981 dan 1994.

Masjid ini memiliki banyak keunikan dengan gaya arsitektur mirip Mesjid Agung Demak, Jogyakarta, dengan empat sokoguru, masing-masing 18 meter kayu asli.

Terdapat juga mimbar bertuliskan ayat-ayat suci Al Qu’ran tulisan Kyai Modjo disertai Hadits Nabi Muhammad SAW di ruangannya.

Penulis : F. G. Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed