oleh

Gunung Ambang, Spot Cantik di Atas Awan

Dengan ketinggian 1.795 Mdpl, Gunung Ambang memang dikategorikan tinggi jika diukur dari jarak Mdpl, namun untuk tracking sampai ke lokasi ini anda hanya butuh waktu tidak lebih dari satu jam.
Bagi anda yang suka berpetualang dan punya waktu untuk kegiatan tersebut, tak salahnya jika mencoba tracking dan menikmati keindahan berjelajah di Cagar Alam Gunung Ambang yang masuk dalam wilayah Bolaang Mongondouw dan Minahasa selatan.

Berada di lokasi ini, dijamin anda akan mendapatkan kepuasan sebagai seorang petualang di alam bebas. Betapa tidak, mata anda akan dimanjakan dengan ‘ribuan’ spot cantik yang sayang jika tidak diabadikan.

Berdiri di lokasi ini seakan anda  berada di tempat yang terasing yang dikelilingi dengan keindahan alam, mulai dari  flora yang unik sampai dengan tekstur tanah putih yang jarang ditemukan di tempat lain.

Dengan ketinggian 1.795 Mdpl, Gunung Ambang memang dikategorikan tinggi jika diukur dari jarak Mdpl, namun untuk tracking sampai ke lokasi ini anda hanya butuh waktu tidak lebih dari satu jam, bahkan jika anda berjalan cepat perjalanan bisa ditempuh dengan waktu 45 menit.

Pasalnya jarak antara puncak dengan  dengan titik pertama pendakian yang dimulai dari Desa Bongkudai Baru sangat dekat.

Baca juga:  Alex Kawilarang, Pendiri Kopassus yang Tampar Soeharto

Sebelum anda sampai di puncak dengan keunikan gunung berapi, pemandangan tanaman holtikultura akan menyambut petualangan anda sebelum sampai ke puncak.

Bahkan pada tahap awal perjalanan,  biasanya alam sekitar akan menyuguhkan pemandangan indah Danau Moat dan keindahan beberapa puncak kecil yang sudah masuk dalam wilayah Minahasa Selatan.

Perjalanan di sekitar tanaman holtikultura memang tidak terlalu lama sebelum anda memasuki kawasan hutan, yang memang dilarang untuk dikelola karena sudah masuk dalam kawasan cagar alam.

Masih banyak pohon besar yang terlihat sepanjang jalur pendakian, begitu juga dengan pohon pohon yang dahannya dipenuhi dengan lumut hijau akibat dinginnya cuaca di lokasi tersebut.

Biasanya para pendaki yang ingin bermalam di puncak, bisa menghabiskan waktu di sekitar mata air yang oleh para pendaki disebut “Base Camp”

Namun kebanyakan para pendaki yang bermalam, cenderung bermalam di sekitar kawah lama dekat dengan lokasi yang dinamakan ‘tirbulens’.

Pas berada di sekitar puncak,  anda bisa melihat area hutan yang memang masih hijau dan terkesan ‘perawan’. Dari informasi masih banyak satwa endemik Sulawesi seperti Burung Rangkong, Anoa, Babi Hutan, dan Monyet Hitam.(jws)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed