oleh

Kaidipang, Kerajaan Kaya yang Disegani VOC

-Manadopedia-1.904 kali dibaca

Kecamatan Kaidipang yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, ternyata memiliki nilai sejarah di masa lampau.

Daerah ini merupakan tempat bermukimnya sebuah kerajaan besar pada abad 17, yakni Kerajaan Kaidipang.

Kerajaan Kaidipang terbentuk pada tahun 1630 dengan Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot (1630-1679) sebagai raja pertama.

Dr. Demicher dalam bukunya Bolaang Mongondow Dosch Nederlandse, menyebutkan nama Kaidipang berasal dari nama kayu yang banyak tumbuh di daerah tersebut yaitu Caidipang Kayoe Doepa.

Sebelum berdirinya Kerajaan Kaidipang, daerah ini terkenal dengan nama Negeri Keidupa.

Baca: Bataha Santiago, Raja Pemberani Penakluk VOC

Negeri ini beraa di bawah pimpinan kepala suku bernama Pugu-pugu bergelar Datoe Binangkal.

Tak diketahui pasti, kaitan dan perbedaan penyebutan gelar Datoe Binangkal dengan gelar Datoe Binangkang milik Loloda Mokoagow pada Kerajaan Bolaang Mongondow.

Negeri Keidupa merupakan wilayah yang kaya dengan hasil bumi dan hasil pertaniannya.

Negeri Keidupa sangat lekat dengan budaya Portugis yang terbawa pelaut dan pedagang saat itu.

Datoe Binangkal waktu itu beragama Katolik dan menambahkan nama Maoeritz di depan nama gelarnya.

Ketika kongsi dagang dari Belanda, VOC (1602-1799) mulai melakukan ekspansi ke wilayah Asia, eksistensi Bangsa Portugis perlahan tersingkirkan.

Saat itu, VOC mulai menjalin hubungan dengan sejumlah kerajaan besar Nusantara.

Pada tahun 1630, Pieter van den Broeke melakukan misi lawatan dari Kesultanan Ternate menuju Kerajaan Gowa di Makassar, yang saat itu memiliki pengaruh kuat di timur nusantara.

Pieter van den Broeke Cs, yang melewati daerah Keidipa dalam perjalanannya menuju Makassar, menyempatkan diri bertemu dengan Maoeritz Datoe Binangkal.

Komunikasi singkat yang terjadi ternyata begitu berkesan. VOC kemudian mengusulkan wilayah Keidipa untuk berganti berbentuk kerajaan.

VOC bahkan mengajak Maoeritz Datoe Binangkal untuk berkunjung ke kerajaan terbesar di Sulawesi, Kerajaan Gowa.

Maoeritz menerima tawaran tersebut, setelah meminta pendapat dan izin dari masyarakat Negeri Keidupa.

Ketika berada di Kerajaan Gowa, Maoeritz Datoe Binangkal mendapat persetujuan dan menjadi raja Kerajaan Kaidipang di hadapan Raja Gowa, Raja I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumengga ri Gaukanna (berkuasa tahun 1593-1639).

Kerajaan Kaidipang resmi berdiri dengan raja bergelar Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot.

Nama belakang Korompot menurut cerita, berasal dari kata ‘Crown Pet’, sebuah topi kebesaran dari VOC, sebagai penghormatan tertinggi kepada Raja Kaidipang.

Baca Juga:  Bogani, Tokoh Paripurna Pemimpin Rakyat

Wilayah Kerajaan Kaidipang pada awal berdiri meliputi pesisir pantai utara Sulawesi, mulai dari Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, hingga Kecamatan Sangtombolang Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara.

Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot berkuasa kurang lebih selama 50 tahun (1630-1679). Kerajaan Kaidipang terus berkembang hingga awal abad 20.

Dalam periode 3 abad tersebut, Kerajaan Kaidipang terus berkembang dan berada di bawah pimpinan 14 raja turun temurun.

Ketika masa pemerintahan raja ke-8 yaitu Raja Wellem David Korompot (1779-1817), agama Islam masuk ke Kaidipang.

Raja Wellem David Korompot kemudian menjadi pemeluk Islam dan berlanjut hingga generasi setelahnya.

Saat raja ke-14, Raja Mahmud Manoppo Korompot Antogia (1908-1910) mangkat pada 7 Februari 1910, Kerajaan Kaidipang mengalami kekosongan pemerintahan.

Kekosongan pimpinan kerajaan ini berlangsung cukup lama, hingga kurang lebih dua tahun (1910-1912).

Dalam masa ini terjadi pergolakan antara beberapa putra mahkota untuk menjadi raja pengganti Raja Mahmud Manoppo Korompot Antogia.

Selama masa dua tahun, roda pemerintahan berada di bawah kendali Jogugu (Panglima) Kerajaan Kaidipang yaitu Mbuingo Papeo.

Melihat pergolakan intern yang berlangsung lama tersebut, Kerajaan Bolaang Itang berencana untuk menggabungkan wilayah dua kerajaan.

Kerajaan Bolaang Itang yang saat itu berada di bawah pimpinan Raja Ram Suit Pontoh, berhasil mengunifikasi dua kerajaan bertetangga tersebut.

Kerajaan baru berdiri bernama Kerajaan Kaidipang Besar.

Tanggal 26 April 1913, Raja Ram Suit Pontoh menjadi Raja Kaidipang Besar (1913-1950). Namun, masa Kerajaan baru tersebut ternyata tak berlangsung lama.

Raja Ram Suit Pontoh tercatat menjadi raja pertama sekaligus raja terakhir dari Kerajaan Kaidipang Besar.

Pada bulan Juli 1950 terjadi penghapusan Daerah Swapraja di Bolaang Mongondow sekaligus berakhirnya era pemerintahan Raja Ram Suit Pontoh Kerajaan Kaidipang Besar.

Daerah ini kemudian masuk menjadi Kecamatan di bawah pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow.

Pada 8 Desember 2006, DPR RI menyetujui pemekaran Kabupaten Bolmong Utara.

Pada tanggal 23 Mei 2007, Kabupaten Bolmong Utara resmi menjadi kabupaten di Sulawesi Utara.

Penulis: Fathur Ridho

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

News Feed