Jelas semuanya, STY terlalu songong menjadi alasan PSSI memecat pelatih asal Korsel tersebut dan memilih Patrick Kluivert menjadi penggantinya.
PSSI resmi mengumumkan Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia, Rabu (8/1/2024). Kini drama latar belakang pemecatan Shin Tae-yong (STY) sudah seharusnya berakhir.
Mari melihat jernih semua permasalahan, tinjau dari semua aspek berbagai pihak. STY boleh membela diri, namun PSSI lah yang membuat keputusan.
Dari semua penjelasan pihak PSSI, terbaca jelas ada kekecewaan mendasar karena tak satupun piala yang berhasil STY raih selama 5 tahun kepemimpinan.
Kulminasinya, terjadi saat Indonesia gagal meraih Piala AFF tahun 2024. Turun dengan mayoritas pemain muda, tak bisa menjadi alasan yang kuat bagi STY.
Padahal, semua stakeholder sepakbola di Indonesia menaruh harapan besar, Indonesia menjadi raja ASEAN. Ini adalah waktu yang pas dan momen yang tepat.
Wajar memang, berkiprah jauh di kualifikasi Piala Dunia 2026 sampai putaran ketiga, tak otomatis membuat Indonesia menjadi raja ASEAN. Thailand dan Vietnam juga pernah melakukan hal yang sama.
Bayangkan selama puluhan tahun berkiprah di piala AFF (dulu piala Tiger), puncak prestasi Indonesia adalah enam kali meraih runner up. Agak memalukan memang.
Bandingkan dengan Thailand yang tujuh kali juara, Singapura empat kali juara, Vietnam tiga kali juara dan Malaysia satu kali juara.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengaku sangat kecewa dengan hasil imbang melawan Laos dan kalah dari Filipina di kandang sendiri pada piala AFF 2024 dan gagal lolos ke semifinal.
PSSI jelas membandingkan STY dengan penampilan coach Indra Sjafri yang berhasil membawa medali emas SEA Games 2023. Juga turnamen seputar ASEAN.
Bukan hanya itu, Sjafri mengantar Timnas Indonesia U-19 juara Piala AFF 2013 di Sidoarjo dan juara Piala AFF U-22 2019 di Kamboja.
Namun, akar permasalahan bermula ketika perpanjangan kontrak STY pada Juni 2024. Sudah tercipta faksi di kubu petinggi PSSI.
Ada yang setuju, ada yang menolak. Namun, keputusannya PSSI memberikan kesempatan terakhir buat STY. Termasuk janji STY menjadi juara Piala AFF 2024.
STY membawa 9 asisten pelatih dengan total gaji kisaran Rp2 miliar per bulan. Itu di luar sewa apartemen, kendaraan dan fasilitas penunjang untuk mereka. Fantastis.
Waktu berjalan, banyak pemain naturalisasi dengan teknik mumpuni bergabung dengan Timnas. Mungkin publik sepakbola masih ingat ketika Elkan Balgot tersingkir dari skuat Timnas.
Sejak itu, mulai ada satu dua pemain yang tidak suka dengan keputusan dan cara STY. Mulai ada keretakan kecil di kamar ganti. Sayang, itu tak cepat mendapat perhatian STY.
Kendala utamanya adalah komunikasi. STY tak lancar berbahasa Inggris dan Indonesia. Sudah bisa terbayangkan bagaimana sulitnya STY mengungkapkan ide dan maksud hatinya dengan penerjemah. Bagaimana bisa, pelatih menegur pemain atau harus berbicara dari hati ke hati, memakai orang ketiga (penerjemah).
Sekadar informasi, sebagian besar anggota skuat Timnas, terutama para Diaspora dari Belanda berkomunikasi lewat Bahasa Inggris. Sisanya, pasukan lokal murni dengan bahasa tercinta, Bahasa Indonesia.
Satu hal yang patut menjadi kritikan, adalah dalam kurun waktu 5 tahun berada di Indonesia, STY tak benar-benar serius ingin belajar Bahasa Indonesia.
Puncaknya, ketika kekalahan atas China di kualifikasi Piala Dunia. Meski sempat menjaga asa dengan menang melawan Arab Saudi, namun itu tidak cukup bagi STY.
Enough is enough…
PSSI melihat hal itu hanya akan menjadi bom waktu. Alasannya jelas, tak ada yang menjamin meski STY tetap melatih, Timnas akan lolos ke Piala Dunia 2026. Sama halnya, jika dengan pelatih baru.
Memang itu menjadi mimpi semua rakyat Indonesia.
Namun, ada hal yang harus menjadi perhatian, terutama netizen yang patah pensil. Lebih realistis dan objektif melihat peluang.
Pada putaran ketiga, hanya ada dua tim yang akan otomatis lolos, satu tiket sudah pasti jadi milik Jepang.
Satu tiket lainnya akan menjadi rebutan Australia, Arab Saudi, Indonesia, China dan Bahrain. Dengan empat partai tersisa dan dua di antaranya tandang ke Jepang dan Australia, masihkah itu realistis?
Peluang masih ada, tapi…..
Mari berandai, Indonesia masuk peringkat tiga atau empat. Itu berarti Indonesia masuk ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026. Dua tim peringkat tiga dan empat dari tiga grup yang ada akan terbagi ke dua grup baru.
Mungkin putaran ini paling realistis untuk menciptakan sejarah dan keajaiban dunia ke delapan, tentunya juga berharap keberpihakan Dewi Fortuna.
Calon lawan-lawannya seperti UEA dan Qatar dari grup A serta Irak, Yordania dan Oman dari grup C. Hanya juara grup yang dapat tiket langsung. Now or Never…
Jika gagal, perjuangan selanjutnya di putaran lima sudah sangat berat. Runner up dua grup akan saling hantam untuk menuju ke babak playoff.
Nantinya, wakil Asia akan bergabung bersama wakil Afrika, Oseania, Amerika Selatan dan dua wakil Amerika Utara dan Tengah untuk mencari dua tiket terakhir ke turnamen sepakbola terbesar yang berlangsung di USA, Kanada dan Meksiko.
Sampai di sini, pecinta sepakbola harusnya melihat perjalanan yang tak mudah.
Ini bukan soal optimis buta dengan nasionalisme sempit, tapi soal objektif realistis sambil berharap keberuntungan.
Patrick Kluivert sebagai pelatih baru mungkin punya sisi kelam masa lalu soal keterkaitannya dengan judi. Tapi, dia adalah harapan baru, New Hope Bangsa Indonesia. Asal aja kagak sama si Nganu.
Mungkin hal positifnya, dia berasal dari Belanda, tahu benar kultur mayoritas pemain Timnas yang berasal dari Belanda. Termasuk bahasanya. Belanda oke, Inggris ayoo..
Kluivert dan Thohir juga saling kenal. Mereka mulai berkomunikasi dengan Erick Thohir sejak Januari 2023.
Patrick Kluivert menunjuk dua teman lamanya, Alex Pastoor dan Denny Landzaat sebagai asisten pelatih. Keduanya punya pengalaman bagus. Yang lebih bikin tambah pede, Landzaat tahu sedikit berbahasa Indonesia.
Yang terakhir, tentu saja harganya yang mungkin pas di kantong. Maklum PPN naik 12 persen.
Setiap keputusan pasti punya konsekwensinya. Namun, itu kira-kira adalah solusi terbaik untuk Timnas Indonesia.
Newsantara.id mencatat ada kalimat penting dari pernyataan Erick Thohir yang patut mendapat bold dan Italic dan underscore, pascapemecatan STY.
“Its not a man show,” kata ET.
Dari situ sudah tergambar soal ketegasan (yang berbeda tipis) dengan keegoisan STY. Dia mungkin terlalu songong atau merasa lebih besar dari PSSI.
==
Pada akhirnya, publik sepakbola berharap Kluivert bisa menularkan pengalamannya sewaktu menjadi generasi emas di Ajax Amsterdam tahun 1995.
Dengan nama-nama besar seperti Frank Rijkaard, Clerence Seedorf, Edgar David, Duo de Boer, Nwankwo Kanu, Marc Overmasrs, Jari Litmanen dan lainnya, mereka menjadi juara liga Champion Eropa.
Juga pengalamannya sebagai pemain di sejumlah klub besar seperti AC Milan, Barcelona, Newcastle United, Valencia, PSV dan Lille.
Pun begitu, dengan kecakapannya sebagai asisten Louis Van Gaal di Timnas Belanda saat menjadi semifinalis Pildun 2014 Brazil, Direktur Olahraga PSG dan Kepala Akademi di FC Barcelona.
Terima Kasih Coach Shin, kamu sudah meletakkan dasar yang hebat untuk perkembangan sepakbola Indonesia. Tapi jangan songong lagi ya..
Patrick Kluivert, Duta Situs Judi JohnnyBet Jadi Pelatih Timnas?
Selamat Datang Coach Patrick, kamu punya tugas berat dengan netizen sebagai dewan pengawasnya. Jawab semua keraguan publik dengan prestasi. Tapi jangan main judi lagi ya… (BangKipot)
