Sukarno dan Inggit Garnasih akhirnya resmi menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Surat Keterangan Kawinnya bernomor 1138 bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda.
Sukarno dan Inggit Garnasih mengadopsi Ratna Djuami, anak dari Sumarta dan Muntarsih, kakak Inggit pada bulan Juni 1923.
Sejak itu, Inggit menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dia berusaha membanting tulang agar Sukarno bisa menyelesaikan kuliahnya dan beraktivitas politik.
Inggit berdagang dan menjahit untuk mendapatkan uang. Inggit ikhlas dan tanpa pamrih menjadi Istri, Ibu sekaligus kawan bagi Sukarno muda.
“Setiap kelelahan, ia memerlukan hati yang lembut, tetapi sekaligus memerlukan dorongan lagi yang besar yang mencambuknya, membesarkan hatinya. Istirahat, dielus, dipuaskan, diberi semangat lagi, dipuji dan didorong lagi”
“Waktu sampai rumah aku harus menyediakan minuman asam untuk mengembalikan suara Kusno (Bung Karno) yang sudah parau itu. Aku seduh air jeruk atau asam kawak. Aku sendiri yang harus menidurkan kesayanganku yang besar ini, singa panggung ini. Tak ubahnya ia dengan anak kecil yang ingin dimanja” begitu kata Inggit Garnasih.
Sukarno akhirnya berhasil menamatkan studinya dan meraih gelar insinyur pada tahun 1926. Selepas itu, Sukarno bersama kawan-kawannya terus melanjutkan pegerakan politiknya.
Sukarno lantas mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Namun, pergerakannya lewat PNI tercium oleh Belanda. Dia tertangkap 29 Desember 1929 di Yogyakarta lalu menjadi tahanan di Penjara Banceuy, Bandung. Selanjutnya, tahun 1930, Sukarno berpindah tahanan ke Sukamiskin, Bandung.
Selama masa penahanan Sukarno, Inggit rela menjadi orang tua tunggal bagi Ratna. Meski begitu, dia tak penah alpa mengunjungi dan membawakan makanan bagi Sukano di tahanan.
Dalan sebuah kisah, Inggit rela berjalan puluhan kilometer hanya untuk menjenguk Sukarno di tahanan karena tak punya uang sama sekali. Namun, hal itu tak pernah Sukarno tahu hingga akhir hayatnya.
Inggit juga menjadi sosok penting di balik pledoi fenomenal Sukarno, Indonesia Menggugat dalam pengadilan Landraad Bandung, 18 Desember 1930.
Setiap kunjungannya, selain makanan, Inggit selalu membawakan Sukarno buku dan bahan pledoi, serta menceritakan situasi di luar tahanan. Sukarno akhirnya bebas pada tanggal 31 Desember 1931.
Sukarno kembali tertangkap pada bulan Agustus 1933 dan menjalani masa pengasingan di Ende, Flores. Selanjutnya Sukarno menuju tempat lebih jauh, Bengkulu sejak 1938.
Dalam pengasingan Sukarno, Inggit, anak dan ibunya turut pindah ke Flores dan Bengkulu agar lebih dekat dengan Sukarno. Tak pernah Inggit lelah menopang Sukarno dalam perjuangan dan keterasingannya.
“..apakah artinya aku sebagai istrinya kalau suami dibuang dan aku tidak ikut dengannya?. Aku sudah tahu, meskipun tidak dikatakan berapa lama kami harus hidup dalam pembuangan, aku sudah harus siap untuk hidup disana sampai ajal”, begitu janji Inggit
Sukarno bebas ketika peralihan pemerintahan dari Belanda ke Jepang pada tahun 1942. Inggit yang berharap kembali hidup bersama dengan Sukarno, rupanya harus mendengar hal yang menyakitkan.
Ternyata, pada masa pengasingan di Bengkulu Sukarno melirik dan tertarik dengan wanita lain. Namanya Fatmawati, murid Sukarno yang sudah mereka berdua anggap sebagai anak angkat. Fatmawati bahkan seumuran dengan Ratna Djuami, anak angkat Sukarno dan Inggit.
Naluri lelaki Sukarno kemudian menggeliat, dia meminta izin untuk menikah lagi dengan Fatmawati. Sukarno membujuk dengan syarat Inggit Garnasih tetap jadi istri pertama.
Sukarno beralasan, ingin mendapatkan anak kandung yang tak bisa Inggit berikan.
“Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia.” Begitu kata Sukarno kepada Ratna Djuami.
Namun, Inggit menolak permintaan Sukarno. Dia lebih memilih meminta cerai meski masih mencintai dan mendukung Sukarrno.
Keduanya resmi bercerai di hadapan Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansur, Januari 1943.
Usai sudah masa 20 tahun Inggit selalu hadir dan menopang Sukarno kala susah dan terpuruk. Inggit pasrah, ikhlas dan tetap mencintai Sukarno seperti saat pertama menikah.
“Namun, pada suatu saat, setelah aku mengantarkannya sampai di gerbang apa yang jadi cita-citanya. Berpisahlah kami, karena aku berpegang pada sesuatu yang berbenturan dengan keinginannya. Ia pun melanjutkan perjuangannya seperti yang tetap aku doakan. Aku tidak pernah berhenti mendoakannya”
“..sesungguhnya aku harus senang pula karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah menghantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga”…
Inggit memang mengantar Sukarno ke gerbang hidup megah seorang Sukarno, yang dua tahun pasca bercerai menjadi Presiden pertama Indonesia. Selain itu, Inggit juga menjadi sosok penting dalam persiapan menuju gerbang kemerdekaan Indonesia.
Dia menutup usia pada meninggal di Bandung pada tanggal 13 April 1984 pada usia 96 tahun. Menariknya, dua bulan sebelum meninggal, Fatmawati mengunjunginya lewat bantuan Ali Sadikin.
Hubungan Fatmawati dengan Sukarno juga pada akhirnya bermasalah ketika Sukarno jatuh cinta lagi kepada wanita lain bernama Hartini.
Baca juga: Mengenang Opa Owik, Maestro Tari Kabasaran Minahasa
Kisah cinta Sukarno dan Inggit Garnasih tertuang lengkap dalam sebuah buku best seller non fiksi, Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan Karta Hadimaja.(fgt).
