Frank Caprio: Hakim dengan Kebijaksanaan Laksana Bao Zheng

Frank Caprio: Hakim dengan Kebijaksanaan Laksana Bao Zheng

Frank Caprio bukan sekadar hakim kota. Ia adalah wajah dari keadilan yang berani menyentuh hati, bukan hanya menjatuhkan vonis. Pada Rabu, 20 Agustus 2025, dunia kehilangan sosok yang selama hampir empat dekade menjabat sebagai Hakim Pengadilan Kota Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ia wafat dalam usia 88 tahun setelah berjuang melawan kanker pankreas sejak akhir 2023. Kabar duka ini terkonfirmasi dari putranya dan langsung menyebar luas, termasuk di Indonesia, tempat video-videonya kerap viral dan menginspirasi jutaan penonton.

Caprio terkenal luas lewat acara televisi “Caught in Providence,” sebuah reality show yang menampilkan persidangan kasus-kasus ringan seperti pelanggaran lalu lintas dan parkir. Namun, yang membuat acara ini istimewa bukanlah kasusnya, melainkan cara Caprio memutuskan perkara. Ia tidak hanya membaca pasal, tapi membaca manusia. Ia mendengarkan, memahami, dan memberi ruang bagi cerita di balik pelanggaran. Dalam banyak kasus, ia memilih untuk membebaskan denda atau mengurangi hukuman, bukan karena lemah, tapi karena ia percaya bahwa keadilan sejati lahir dari empati dan kebijaksanaan.

Salah satu momen paling dikenang adalah ketika seorang pria berusia 96 tahun ditilang karena ngebut di zona sekolah.

Ternyata, pria itu sedang terburu-buru mengantar anaknya yang sakit parah ke rumah sakit. Caprio tidak hanya membebaskan denda, tapi juga memuji sang ayah sebagai simbol cinta keluarga dan pengorbanan. “You are a good man. You really are what America is all about,” ucapnya. Putusan itu bukan sekadar hukum, tapi pelajaran hidup. Ia mengingatkan kita bahwa di balik pelanggaran, sering kali ada manusia yang sedang berjuang.

Gaya memutuskan Caprio sering bersanding dengan Hakim Bao Zheng dari Dinasti Song di Tiongkok, yang terkenal karena keberanian dan keadilannya. Seperti Bao, Caprio tidak tunduk pada kekakuan hukum. Ia menempatkan hati nurani di atas teks, dan menjadikan ruang sidangnya sebagai tempat pengharapan, bukan ketakutan. Ia percaya bahwa hukum bisa menjadi alat pemulihan, bukan sekadar hukuman. Dalam wawancaranya, Caprio pernah berkata, “I don’t wear a badge under my robe. I wear a heart.” Kalimat itu menjadi mantra yang menjelaskan seluruh filosofi hidupnya.

Frank Caprio lahir pada 23 November 1936 di Federal Hill, Providence, dari keluarga imigran Italia. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Masa kecilnya diwarnai kerja keras: menyemir sepatu, mengantar koran, dan membantu di truk susu. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan nilai kerja keras dan kepedulian sosial. Setelah lulus dari Central High School dan Providence College, ia mengajar Pemerintahan Amerika di Hope High School sambil kuliah malam di Suffolk University School of Law, Boston. Dari sana, ia meniti karier hukum yang membawanya ke kursi hakim pada 1985.

Selama menjabat, Frank Caprio juga aktif di bidang pendidikan.

Ia pernah menjadi ketua Dewan Gubernur Pendidikan Tinggi Rhode Island selama 10 tahun, mengawasi tiga perguruan tinggi negeri. Ia mendirikan Dana Beasiswa Antonio “Tup” Caprio, dinamai dari ayahnya, untuk membantu mahasiswa dari komunitas kurang terlayani agar bisa mengakses pendidikan hukum. Ia juga mendirikan beasiswa di Providence College dan Central High School, menunjukkan bahwa komitmennya pada keadilan tidak berhenti di ruang sidang.

Setelah pensiun pada Januari 2023, ruang sidang kota Providence resmi dinamai “Caprio Courtroom” sebagai penghormatan atas dedikasinya. Namun, tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-87, ia mengumumkan bahwa dirinya mengidap kanker pankreas. Dalam video terakhirnya pada 19 Agustus 2025, Caprio meminta doa dari para pengikutnya. Ia tetap tampil hangat dan optimis, meski kondisinya memburuk. Keesokan harinya, ia berpulang dengan tenang, meninggalkan istrinya Joyce, lima anak, tujuh cucu, dan dua cicit.

Gubernur Rhode Island, Dan McKee, memerintahkan agar memasang bendera setengah tiang di seluruh instansi hingga hari pemakaman. Ia menyebut Caprio sebagai “harta berharga Rhode Island” dan simbol keadilan yang penuh belas kasih. Di media sosial, jutaan orang dari berbagai negara mengungkapkan rasa kehilangan dan mengenang momen-momen menyentuh dari persidangan Caprio. Di Indonesia, video-videonya sering beredar dengan komentar penuh haru dan kagum. Ia menjadi ikon global dari keadilan yang manusiawi.

Warisan Caprio bukan hanya pada putusan-putusan yang viral, tapi pada nilai yang ia tanamkan: bahwa hukum bisa menjadi jembatan, bukan tembok.

Ia menunjukkan bahwa hakim bukan sekadar pelaksana undang-undang, tapi penjaga martabat manusia. Dalam dunia yang sering kali dingin dan birokratis, Caprio hadir sebagai pengingat bahwa keadilan sejati harusberjalan dengan kebijaksanaan. Ia adalah Bao Zheng versi modern, yang tidak mengenakan topi hitam, tapi mengenakan hati.

Kini, Frank Caprio telah tiada, tapi nilai-nilainya tetap hidup. Setiap kali kita melihat hakim yang memutus dengan empati, setiap kali hukum untuk menyembuhkan bukan menghukum, kita melihat bayangan Caprio. Ia telah menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya soal benar atau salah, tapi soal memahami, memaafkan, dan memperbaiki. Dan untuk itu, dunia berutang rasa hormat yang tak terhingga.

KPK Tangkap Wakil Menteri Tenaga Kerja Immanuel Ebenezer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *