oleh

Budaya Minangkabau, Motor Pariwisata Sumbar

Sumatera Barat secara umum sering kita kenal dengan istilah Minangkabau. Adapun Minangkabau adalah sebutan untuk menggambarkan wilayah, etnis, adat, budaya dan seni secara keseluruhan untuk provinsi yang terletak di pulau Sumatera ini.

Baca : Wisata Halal Sumatera Barat Makin Menggeliat

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terkenal akan keberagaman suku dan budayanya, Minangkabau tentunya memiliki keunikan tersendiri sebagai sebuah entitas yang dimiliki oleh Indonesia.

Keunikan yang Minangkabau miliki merupakan warisan leluhur yang sarat akan makna dan filosofi orang Minang itu sendiri.

Siapa yang tidak kenal dengan sistem matrilineal? Yaitu sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari perempuan atau ibu.

Sistem matrilineal adalah salah satu ciri khas adat orang Minang, dan menurut BBC, Minangkabau adalah penganut sistem matrilineal terbesar di dunia.

Tentunya sistem tersebut hanyalah salah satu bagian dari banyaknya keunikan yang masyarakat Minang miliki.

Keunikan lain yang bisa kita temui atau pelajari dari Ranah Minang ada pada aspek seni dan budaya. Aspek ini juga menjadi andalan dalam mengangkat sektor pariwisata di tanah kelahiran Bung Hatta.

Dan untuk lebih mengenal apa saja yang menjadi potensi andalan pada aspek seni budaya, mari kita simak 4 jenis seni budaya Minangkabau berikut ini.

1. Rabab

Rabab adalah sejenis alat musik tradisional yang awalnya terbuat dari tempurung kelapa, dan memainkannya dengan cara di gesek. Sekarang tampilan Rabab hampir menyerupai biola, tapi saat Rabab dimainkan letaknya berada di depan pemain yang duduk bersila dengan posisi Rabab yang tegak miring.

Adapun suara yang keluar dari alat musik ini begitu khas, apalagi berpadu dengan lantunan suara dari pemainnya. Perpaduan suara keduanya terasa khas Negeri Minang bagi yang pernah mendengarkannya.

Berdasar sejarah, Rabab diperkirakan berasal dari budaya Arab-Persia yang kemudian di adopsi oleh masyarakat Minang yang berada di wilayah pesisir.

Saat ini, kesenian Rabab sering tampil pada pertunjukan ataupun festival yang berhubungan dengan dunia pariwisata. Rabab menjadi kesenian andalan di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Pariaman.

Dan untuk melestarikan Rabab, para tokoh kesenian Rabab sudah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat agar Rabab menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Bahkan Rabab sudah menjadi salah satu warisan budaya milik Indonesia. Setelah sebelumnya berstatus karya budaya, Rabab naik status menjadi warisan budaya setelah ditetapkan oleh Kemdikbud RI.

2. Randai

Randai adalah pertunjukan seni teatrikal khas masyarakat Minang sejak lama yang penuh akan makna dan filosofi. Bahkan Randai menjadi semacam pertunjukan wajib dalam setiap penyelenggaraan upacara adat dalam kebudayaan Minangkabau.

Adapun seni Randai dimainkan oleh beberapa orang yang membentuk kelompok. Kelompok ini membentuk formasi lingkaran, dan kemudian mereka akan melangkah secara perlahan sambil bercerita dalam bentuk syair atau gurindam secara bergantian.

Di dalam satu kelompok Randai, terdapat satu orang pemimpin yang disebut panggoreh. Tugasnya adalah mengatur tempo dan formasi gerakan supaya tetap teratur, dengan komando khasnya berupa teriakan hep, tap, tih.

Gerakan dan senandung para pemain akan diiringi oleh lantunan musik tradisional berupa saluang, gendang dan talempong.

Sementara itu, lantunan syair atau lagu dalam randai berisi kabar ataupun cerita rakyat yang sarat akan pesan dan nasehat kebaikan. Dan untuk gerakan para pemain, bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.

Baca Juga:  Wisata Halal Sumatera Barat Makin Menggeliat

Dengan segala unsur berupa cerita, gerakan, irama dan alat musik khas Minang, Randai merupakan media untuk menggambarkan adat dan budaya Minangkabau dengan segala aspeknya dalam sebuah seni teater.

3. Silek

Silek dalam bahasa Indonesia artinya adalah silat, dan silek merupakan salah satu warisan adat budaya Minangkabau yang cukup melegenda. Salah satu aliran atau gerakan silat terkenal yang berciri khas Minang adalah Silek Harimau.

Adapun Silek awalnya bertujuan sebagai bekal bagi para perantau urang awak untuk menjaga diri dari kemungkinan buruk selama perjalanan ataupun sesudah sampai di tanah perantauan.

Selain sebagai seni bela diri, Silek juga menjadi atraksi hiburan bagi masyarakat Minang dalam pertunjukan randai. Seni beladiri Silek memang sangat menyatu dengan kultur dan budaya Minangkabau.

Dalam filosofi Silek orang Minang, terkandung makna yang mendalam tentang hubungan manusia, alam dan Sang Pencipta. Karena dalam Silek, terdapat istilah “alam takambang jadi guru” (alam terhampar menjadi guru).

Berdasar istilah tersebut, Silek Minang di kenal memiliki banyak kombinasi gerakan serta kepraktisan dalam penggunaan benda sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Salah satu alat yang terkenal sebagai senjata dalam Silek adalah kerambit.

Seni beladiri ini pernah diangkat dalam sebuah film yang cukup fenomenal pada masanya, berjudul “Merantau” dan di perani oleh aktor kelas internasional saat ini, yaitu Iko Uwais. Dari film tersebut tergambar makna dan tujuan silek bagi orang Minang.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Silek merupakan asal kata dari silat. Pendapat ini diperkuat oleh banyaknya gerakan dasar pada silat yang kental akan filosofi orang Minang.

Akan tetapi terlepas dari pendapat tersebut, silat sudah menjadi budaya seni bela diri penting di kawasan Asia Tenggara. Dan Silek Minang tetap memiliki ciri khas tersendiri yang wajib kita lestarikan.

4. Tabuik

Tabuik adalah suatu perayaan lokal masyarakat Pariaman untuk memperingati hari Asyura, yaitu hari gugurnya Imam Husain, cucunya Nabi Muhammad SAW.

Perayaan yang sudah ada sejak abad ke-19 ini, namanya berasal dari kata tabut yang artinya peti kayu atau keranda. Perayaan Tabuik menampilkan kilasan pertempuran Karbala yang berpadu dengan adat istiadat Minang.

Pada zaman dahulu, puncak berlangsungnya perayaan Tabuik adalah setiap tanggal 10 Muharram. Akan tetapi saat ini acara puncak perayaan Tabuik berlangsung antara tanggal 10-15 Muharram, menyesuaikan dengan hari libur akhir pekan.

Sebelum berlangsungnya acara puncak pada 10-15 Muharram, ada beberapa prosesi yang berlangsung sejak tanggal 1 Muharram sebagai pembuka Tahun Baru Hijriah.

Ada tujuh tahapan ritual Tabuik, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut.

Setiap tahun ribuan pengunjung datang menyaksikan perayaan atau Festival Tabuik, dan sejak tahun 1982 Pemerintah Kota Pariaman mengagendakan perayaan Tabuik dalam kalender pariwisata. Tidak hanya warga lokal yang antusias menyaksikan, banyak juga wisatawan mancanegara yang ikut menikmati pertunjukan ini.

Dengan adanya empat keunikan seni budaya tersebut di atas, sudah sepantasnya Sumatera Barat mendapat tempat di hati pelaku pariwisata domestik dan mancanegara. (udaido)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.