oleh

Tak Perlu Malu Terlahir Miskin

Seorang bocah cilik girang bukan kepalang, ketika mendapat hadiah sepasang sepatu bekas yang agak sobek di bagian depan.

Sebut saja namanya Alan.

Baca: Kebaikan itu Selalu Berbalas

Hadiah sepatu bekas itu menjadi hadiah terbesar dalam hidupnya. Semalaman dia tidur memeluk sepatunya. Senyum semringahnya baru menghilang ketika Alan terlelap masuk ke alam mimpi.

Dia tahu perjuangan kedua orang tuanya untuk membelikannya sepatu sungguh luar biasa.

Kedua orang tuanya iba melihat sang anak terus mendapat ejekan di sekolahnya. Bukan itu saja, setiap hari kaki bocah terluka akibat kerikil dan ranting tajam ketika pergi sekolah.

Alan sangat menjaga sepatu pemberian orang tuanya. Dia hanya memakainya hari Senin, ketika upacara bendera.

Ketika berada di luar kompleks sekolah, dia kembali menanggalkan sepatunya. Alan memilih berjalan tanpa alas kaki sejauh 6 Km agar sepatunya tak cepat rusak.

Alan memang terlahir dari keluarga sangat miskin. Saking miskinnya, dia hanya memiliki sepotong celana pendek, sebuah kaos dan selembar sarung.

Sarungnya juga cuma sebuah sarung bekas. Pemberian orang tuanya, setelah menabung sekian lama. Namun sarung itu menjadi hadiah besar baginya, bisa untuk Salat sekaligus berlindung dari dinginnya malam.

Ayah Alan hanyalah seorang petani kecil sekaligus buruh serabutan yang berpenghasilan seadanya. Ibunya mencoba membantu ekonomi keluarga menjadi pengrajin batik di Desa Magetan, Jawa Timur.

Satu ketika, pernah keluarganya harus melego lemari bambu karena tak punya uang. Tragisnya, di balik lemari itu ada catatan dari kapur, tanggal lahir Alan.

Ketika lemari terjual, tanggal lahir Alan tak pernah lagi diketahui. Kala itu, orang tua Alan tak mampu membayar biaya administrasi untuk membuat akte kelahiran.

Keadaan ekonomi keluarga Alan, memupuk tekadnya untuk belajar giat agar kelak bisa mengubah kehidupan keluarganya.

Kehidupan Alan sedari kecil memang begitu memprihatinkan. Sepulang sekolah dia membantu kedua orang tuanya.

Semua hal dia kerjakan sepenuh hati. Menjadi kuli dan menyabit rumput di kebun tebu milik juragan di desanya. Juga menggembalakan kambing milik tetangga. 

Baca Juga:  Kebaikan itu Selalu Berbalas

Ketika Alan menginjak kelas 6 SD, ibunya jatuh sakit. Ayahnya terpaksa berhenti bekerja untuk menjaga sang ibu. Sawah sepetak warisan kakeknya, harus terjual untuk membeli obat.

Alan yang masih bocah, kembali harus merasakan pahitnya hidup ketika sang Ibu meninggal dunia. Waktu itu kondisi ekonomi keluarganya sangat berkekurangan.

WAKTU berlalu, Alan menjadi remaja yang tangguh mentalnya. Selepas SMA, dia lalu merantau ke Kalimantan menjadi seorang wartawan.

Ketekunan dan keuletan ditunjang pengalaman hidupnya yang getir, membuat karirnya melesat. Skill menulisnya terus terasah. Banyak yang suka dengan gaya penulisannya.

Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pengusaha. Alan menjadi pemimpin sebuah media di Jawa Timur yang hampir bangkrut.

Alan yang punya sejuta ide berhasil mengangkat kembali perusahaan itu. Media itu bangkit dari keterpurukan, kemudian menjadi yang terbesar di Indonesia. 

Kini Alan menjadi orang sukses. Bisnisnya banyak, usahanya menggurita. Namanya kesohor namun dia tetap membumi.

Dia tahu, semua itu berkat kemurahan Tuhan, didikan orang tua, serta perjuangan dan kerja kerasnya.

Satu hal, dia tak pernah malu terlahir miskin.

Bocah kecil miskin bernama Alan itu, adalah Dahlan Iskan. Mantan wartawan Tempo, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos, Mantan Dirut PLN dan Mantan Menteri BUMN.

Ketika dia membeli mobil pertamanya, air matanya jatuh tak tertahankan ketika teringat mendiang ibunya.

“Ibu saya tak sempat merasakan naik mobil, bahkan sepeda. Dulu ketika Idul Fitri, ayah dan ibu harus berjalan puluhan kilometer untuk bersilaturahmi,” kenang Dahlan.

Kecintaannya kepada Indonesia, membuat Dahlan memproklamirkan dirinya lahir pada tanggal 17 Agustus.

Untuk tahun lahirnya, dia berhitung sesuai petunjuk tunggal sang Ayah.

“Ketika Gunung Kelud meletus, kamu sudah merangkak” begitu kata Ayah Dahlan.

Sesuai data sejarah, Gunung Kelud meletus tanggal 31 Agustus 1951.

Penulis: Farezell Gibran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

News Feed