oleh

Sultan Hasanuddin, si Ayam Jago dari Timur

Sejak berabad lalu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa pejuang, bangsa yang selalu berani menentang segala tindakan imperialisme.

Baca: Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional dari Papua

Walau perjuangan oleh patriot-patriot bangsa pada abad lalu masih bersifat kedaerahan, catatan sejarah akan hebatnya perjuangan para anak bangsa akan selalu terpatri.

Abad ke-17 Masehi, Makassar Sulawesi Selatan menjadi  saksi betapa hebatnya seorang putra daerah bernama Sultan Hasanuddin. Dia memimpin perjuangan rakyat Makassar melawan aksi imperialisme bangsa Belanda.

Bangsa Belanda menjulukinya ‘De Haantjes van Het Oosten’ yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Timur, sebagai pengakuan atas keberaniannya.

Jiwa kepemimpinan dan patriotisme Sultan Hasanuddin   berasal dari sang ayah yang merupakan Raja Gowa ke-15, yaitu I Manuntungi Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid.

Kerajaan Gowa adalah salah satu kerajaan besar di wilayah Indonesia bagian Timur. Sebuah kerajaan yang sudah ada sejak abad ke-14 di wilayah Gowa Sulawesi Selatan.

Sultan Hasanuddin terlahir dengan nama I Mallambosi yang merupakan anak kedua dari Sultan Malikussaid dan permaisuri I Sabbe To’mo Lakuntu.

Saat beranjak dewasa, nama lengkapnya bertambah menjadi I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.

Nama Sultan Hasanuddin sendiri tersemat sejak I Mallombasi diangkat menjadi Raja Gowa ke-16 dan mendapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Sehingga dikenal sebagai Sultan Hasanuddin sampai saat ini.

Sedari kecil, bakat pemimpin dan kepintaran Sultan Hasanuddin sudah terlihat. Hasanuddin kecil begitu tekun dan bersemangat dalam mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam yang ada di Mesjid Bontoala.

Peran Sultan Malikussaid sebagai seorang ayah turut membentuk sifat dan karakter Hasanuddin.

Ayahnya sering mengajaknya untuk menghadiri acara-acara perundingan dengan warga ataupun bangsa luar. Hal ini sangat berguna agar kelak Hasanuddin memiliki kemampuan dalam pemerintahan serta diplomasi.

Ayahnya juga tidak membatasi pergaulan sang anak, agar memiliki sifat rendah hati.

Selain peran dari sang ayah, peran serta guru pembimbing turut  berjasa dalam menjadikan Sultan Hasanuddin sebagai pemimpin hebat pada masanya.

Dia mendapat bimbingan langsung dari Mangkubumi Kerajaan Gowa yaitu Karaeng Pattingaloang, seorang guru yang juga berjasa dalam mendidik Arung Palakka (Raja Bone).

Sebelum menjadi Raja Gowa, saat I Mallombasi beranjak usia 21 tahun, dia terlebih dahulu mengemban tugas dalam pemerintahan Kerajaan Gowa dengan masuk dalam unsur Pertahanan Kerajaan Gowa.

Saat itu pihak VOC Belanda mulai menunjukkan sifat agresornya dalam memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah timur Indonesia.

Tak berselang lama tepatnya November 1653, I Mallombasi yang waktu itu berusia 22 tahun diangkat menjadi Raja Gowa ke-16.

Dia mendapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, menggantikan ayahnya yang telah wafat.

Ketika menjadi Raja Gowa ke-16, dia meneruskan amanat ayahnya yaitu menentang segala bentuk monopoli dari VOC Belanda dalam perdagangan rempah-rempah.

Sifat keras Sultan Hasanuddin dalam menentang keinginan VOC ini, membuat pihak VOC Belanda menganggap Kerajaan Gowa sebagai penghalang mereka.

Dia merasa bahwa pertempuran besar dengan pihak VOC Belanda akan segera terjadi. Untuk itu Raja Gowa ke-16 ini berusaha untuk menyatukan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Indonesia bagian timur.

Tahun 1660 tercatat sebagai awal terjadinya perang antara Kerajaan Gowa dengan VOC Belanda. Perang periode awal antara Sultan Hasanuddin yang memimpin Kerajaan Gowa melawan VOC Belanda berlangsung sengit.

VOC Belanda yang merasakan kekuatan tempur Kerajaan Gowa begitu kuat karena memiliki armada laut yang besar, mengalami kerugian cukup besar.

Pada abad ke-17 armada laut Kerajaan Gowa sangat disegani di perairan Nusantara khususnya wilayah Timur Nusantara.

Baca Juga:  Benteng Keraton Buton, Warisan Sultan yang Cetak Rekor Dunia

Pihak Belanda pun mencoba cara lain yaitu dengan jalur diplomasi. Adapun Sultan Hasanuddin yang merasa perang hanya akan merugikan kedua pihak menerima tawaran perjanjian damai dengan pihak VOC Belanda.

Akan tetapi perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama, penyebabnya adalah pihak VOC Belanda sering melanggar isi perjanjian dan merugikan masyarakat Gowa.

Sultan Hasanuddin tidak terima dan kembali melancarkan perlawanan dengan menyita 2 kapal penting milik VOC. Aksinya tersebut membuat pihak Belanda murka, perang pun kembali pecah antara Gowa melawan Belanda.

Sengitnya perlawanan rakyat Gowa membuat pihak Belanda mendatangkan bala bantuan besar dari luar terutama Batavia.

Tahun 1666 tercatat sebagai  awal dari Perang Makassar dan berakhir pada tahun 1669. Perang besar ini terjadi antara Kerajaan Gowa melawan VOC Belanda yang mendapat bantuan dari beberapa kerajaan taklukkan Belanda.

Sebuah perang dilematis dan bisa dikatakan sebagai perang saudara, oleh karena keterlibatan saudara sebangsa yaitu antara Gowa dan Bone.

Kekuatan besar VOC Belanda saat pecahnya Perang Makassar (1666-1669) di bawah komando salah seorang jago perang yaitu Laksamana Corneliss Speelman, yang didatangkan dari Batavia.

Speelman yang memiliki kedekatan dengan Arung Palakka, berhasil membujuk ksatria Bone ini bergabung di pihaknya.

Kekuatan VOC akhirnya bisa melemahkan perlawanan rakyat Gowa, serta memaksa Hasanuddin untuk menyetujui perjanjian damai dengan VOC pada tanggal 18 November 1667.

Perjanjian ini dikenal dengan nama Perjanjian Bongaya, sebuah perjanjian damai yang isinya adalah  pengakuan kekuasan atas pihak Belanda di wilayah Gowa dan sekitarnya.

Sultan Hasanuddin yang merupakan pemimpin rakyat Gowa merasa tertekan dan sedih melihat daerahnya mendapat perlakuan semena-mena oleh pihak Belanda pasca-perjanjian.

Semangat berjuang yang sudah tertanam dalam diri Sultan Hasanuddin kembali bergelora untuk menentang kaum imperialisme.

Tanggal 18 April 1668 perang kembali pecah dan berlangsung sengit antara Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin dengan pihak VOC Belanda.

Akan tetapi tanpa bala bantuan yang cukup, kekuatan pasukan Sultan Hasanuddin kembali menjadi lemah.

Pihak Belanda yang selalu bisa mendapatkan bala bantuan dari luar, akhirnya pada tanggal 12 Juni 1669 berhasil menaklukkan Benteng Somba Opu sebagai garis pertahanan terakhir dari Kerajaan Gowa.

Dia merasa bertanggung jawab atas kekalahan ini kemudian mengundurkan diri sebagai Raja Gowa pada tanggal 29 Juni 1669. Dia kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Amir Hamzah.

Hampir setahun setelah melepas jabatannya sebagai raja, pada tanggal 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin wafat pada usia 39 tahun.

Dia dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Gowa, Bukit Tamalate Somba Opu, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Sebelum wafat, sang Ayam Jantan dari Timur menitipkan pesan kepada rakyat Gowa.

 “Bugis dan Makassar adalah saudara, aku dan Raja Bone bukanlah musuh,” pesannya.

Catatan sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin akan selalu abadi dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1973 berdasar SK Presiden RI No.087/TK/1973.

Nama besarnya juga terabadikan sebagai nama universitas, bandara dan Kodam yang ada di Makassar, serta nama jalan di seantero Nusantara.

Nama Lengkap      :    I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape

Gelar                     :    Sultan Hasanuddin (Raja Gowa ke-16)

Lahir                      :    Gowa Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631

Wafat                    :    Gowa Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670

Julukan                  :    De Haantjes van Het Oosten (Ayam Jantan/Jago dari Timur)

Penghargaan          :    Pahlawan Nasional Indonesia

Penulis: Fathur Ridho/ F. G. Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

News Feed