oleh

Menolak Lupa, Demokrat Bukan Hanya Milik Satu Orang

Jelang Pilkada Kota Manado, Partai Demokrat Kota Manado meriuh. Ancaman Pergantian Antar Waktu (PAW) mengapung.

Nama legislator Kota Manado, Franseska Julia Kolanus berkeluh kesah, curhat sambil menahan isak soal ancaman yang mengarah kepadanya.

Kolanus berkisah, jika merasa teraniaya oleh ‘kelicikan’ Ketua DPC Partai Demokrat Kota Manado, Noortje Van Bone.

Baca: Diancam PAW, ini Penjelasan Legislator Franseska Kolanus

Ironisnya, Kolanus merupakan peraih suara terbanyak dari partai Demokrat pada Pileg 2019. (3001 suara). Dia mengungguli perolehan suara 5 legislator terpilih asal Partai Demokrat.

Mereka adalah, Noortje Van Bone (2851), Maikel Towoliu (2452), Royke Anter (2213), Vanda Pinontoan (2117) dan Lily Walanda (2031).

Tak hitung tiga, sejumlah rekan dan simpatisannya langsung membela.

Tudingan dan hujatan saling berbalas menghiasi media sosial. Ada kubu yang membela FJK, ada juga pihak yang membenarkan Van Bone.

Gejolak di Partai Demokrat memang cukup lumrah dan beralasan. Namun jauh di balik itu, dinamika yang terjadi justru karena keunikannya, yang menjadi substansi masalah.

Diketahui, Kolanus merupakan adik ipar dari Walikota Manado, Vicky Lumentut .

Vicky Lumentut dulunya adalah Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Utara sejak tahun 2011.

Proses terpilihnya Lumentut waktu itu juga menunjukkan dia adalah politisi ulung. Lumentut bahkan menghempaskan calon lainnya, Sinyo Harry Sandajang, yang waktu itu menjabat Gubernur Sulut.

Masa kepemimpinan Lumentut, partai Demokrat cukup sukses di perpolitikan Sulawesi Utara. Lumentut banyak merekrut kader potensial yang punya basis massa, termasuk sejumlah kerabatnya.

Namun, seiring konstelasi politik lengkap dengan konsekwensinya, Lumentut akhirnya ‘loncat pagar’. Dia pindah ke Partai Nasional Demokrat (Nasdem) terhitung sejak September 2018.

Saat Lumentut hengkang, KPU sudah menetapkan semua figur yang punya kedekatan dengannya, menjadi calon anggota legislatif 2019 dari partai Demokrat. Tak boleh lagi ada perubahan.  

Yang menarik, kepindahan Lumentut ke Nasdem, hampir berbarengan dengan kepindahan Ketua DPD Gerindra Sulut, Vonny Panambunan. Banyak spekulasi dan ‘opini’ terkait kepindahan dua tokoh tersebut.

DPP Partai Demokrat sempat memaklumi dan paham, Lumentut terpaksa pindah karena ‘di bawah ancaman’.

Sesuai mekanisme, DPP Partai Demokrat akhirnya memecat Lumentut dari partai Demokrat.

Lumentut belakangan akhirnya menjadi ketua DPD partai Nasdem Kota Manado pada November 2018.

Kini, memasuki Pilkada Kota Manado, hal menarik nan unik terjadi.

Partai Nasdem mengusung Julyeta Paulina Amelia Runtuwene sebagai calon walikota Kota Manado. Runtuwene adalah istri dari Vicky Lumentut.

Makin menarik, partai Nasdem memilih Harley ‘Ai’ Benfica Mangindaan sebagai calon wakil walikota mendampingi Runtuwene.

Harley Mangindaan adalah mantan wakil walikota yang pernah bahu-membahu dengan Vicky Lumentut 2010-2015.

Harley merupakan putra dari Evert Ernest Mangindaan, mantan ketua pembina, DPP Partai Demokrat.

EE Mangindaan adalah sahabat sekaligus senior bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pendiri dan mantan ketua umum Partai Demokrat. Kecuali itu, hierarki dalam kemiliteran cukup kental terasa dalam hubungan keduanya.

EE Mangindaan menjadi Anggota DPR RI, Dapil Sulut dari Partai Demokrat, tiga periode (2004-2019). Pernah menjadi menteri dan Wakil ketua MPR.  

EE Mangindaan juga menjadi Ketua DPD partai Demokrat Sulawesi Utara, pasca kekosongan ditinggal Vicky Lumentut.

Baca juga:  Hanif yang Menampar Bangsa Indonesia

Jelang penetapan calon Walikota dan Wakil Walikota Manado 2020 oleh KPU, Timo Pangerang menggantikan EE Mangindaan sebagai Plt Ketua DPD Demokrat Sulut.

Kini, DPD Demokrat Sulut berganti nakhoda, dialah Mor Bastiaan, calon Walikota Kota Manado usungan Partai Demokrat.

Makin unik, Mor Bastiaan adalah Wakil Walikota Kota Manado menjabat, yang berpasangan dengan Lumentut periode 2015-2020. Lumentut  yang memilih Mor untuk menjadi wakilnya.

Lumentut juga yang mengorbitkan sejumlah nama di partai Demokrat Sulut, termasuk Noortje Van Bone, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Manado.

Itulah Politik…

Desas desus menyeruak, selain Kolanus, beberapa nama yang dekat dengan Lumentut mulai terancam.

Nama Kristo Lumentut adalah yang terdepan. Anggota DPRD Provinsi Sulut itu adalah putra tercinta pasangan Vicky Lumentut-Paula Runtuwene.

Secara logika dan nurani, hanya anak ‘durhaka’ yang meninggalkan baktinya ketika orang tuanya sedang berjuang.

Ada juga nama Maikel Towoliu, anggota DPRD Kota Manado, yang ‘dulu’ punya kedekatan sangat kental dengan Vicky Lumentut.

Dia kini adalah ketua tim Rajawali, tim pemenangan untuk pasangan  Mor Dominus Bastiaan-Hanny Joost Pajouw.

Merujuk lima tahun silam, Towoliu merupakan ketua tim Rajawali yang memenangkan Lumentut-Bastiaan (66.913 suara atau 35,57%).

Lumentut-Bastiaan terpilih usai melakoni pertarungan ketat dengan pasangan Harley Mangindaan-Jemmy Asiku (60.727 suara atau 32,28%) dan pasangan Hanny Joost Pajouw-Gregorius Tonny Rawung (60.499 atau 32,16%).

Lebih lama lagi, tahun 2010, Towoliu menjadi pejuang nomor satu ketika Vicky Lumentut-Harley Mangindaan maju dalam kontestasi pemilihan walikota dan wakil walikota tahun 2010.

Kala itu, pemilihan Walikota Manado menghadirkan delapan pasangan calon. Sejumlah pengamat begitu mengunggulkan HJP-Anwar Panawar dan Marhany Pua-Richard Sualang.

Namun, meski sempat diadakan pemungutan suara ulang, strategi ulung tim yang dikomandoi Towoliu, berhasil membawa Lumentut-Mangindaan ke top eksekutif Kota Manado.

Perjuangan Towoliu, berbuah hasil manis. Towoliu masuk calon anggota legislatif partai Demokrat dan berhasil melenggang mulus ke DPRD Kota Manado perwakilan Dapil Sario-Malalayang periode 2019-2024.

Meski saat hari H, Lumentut bukan lagi ketua DPD Demokrat, sudah menjadi ‘rahasia umum’ kekuatan Lumentutlah yang mengantarkan sejumlah kerabatnya mendapat suara signifikan. Termasuk Kolanus, Kristo dan Towoliu.

Towoliu juga dikenal mempopulerkan kalimat perjuangan yang sangat menggugah untuk para militan.

“Kesetiaan adalah kehormatan tertinggi seorang prajurit”

Getirnya, kini semboyan itu membawa dirinya dalam pilihan dilematis, bak memakan buah simalakama.

Memang Towoliu sudah membuat pilihan, meski itu menyisakan keraguan bagi publik.

===

Partai Demokrat sejatinya berdiri untuk kemaslahatan banyak orang. Hal itu juga yang ingin SBY dan juniornya, Agus Harimurti Yudhotono (AHY) ajarkan hingga ke tingkat akar rumput.

Elite partai di daerah bukan pemilik partai dan boleh semena-mena terhadap kader yang lain.

Terlebih, permasalahan yang masih ambigu. Apalagi mereka dulu berkontribusi besar untuk mendulang suara.

Partai Demokrat bukan hanya milik satu dua orang, tidak juga jadi kepunyaan petinggi partai di tingkat daerah.

Apalagi menjadikannya alat untuk saling menyakiti, atas nama penghakiman subjektif.

Pilkada tak seharusnya memutus silaturahmi antar kerabat. (redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed