Thailand Juara AFF, Tamparan Telak untuk Indonesia

Timnas Thailand juara AFF Cup 2022 usai mengalahkan Vietnam dengan agregat 3-2. Pada leg kedua Final yang berlangsung di di Stadion Thammasat, Bangkok, Thailand, Theeraton Bunmathan Cs berhasil unggul 1-0.

Gelar ini merupakan kali ketujuh Thailand menjadi juara piala AFF, atau turnamen wilayah Asia Tenggara. Bandingkan dengan prestasi Indonesia di Piala AFF, enam kali runner up.

Pada edisi sebelumnya tahun 2020, Thailand juga menjadi juara setelah mengalahkan Indonesia dengan agregat 6-2 (4-0 dan 2-2).

Hebatnya, materi pemain Thailand di AFF 2022 sangat berbeda dari skuat juara 20202.

Pelatih Thailand, Alexandre Polking praktis hanya memangggil tujuh pemain dari tim 2020. Selain sang kapten Theerathon Bunmathan, ada juga Teerasil Dangda, Sarach Yooyen, Bordin Phala, Adisak Kraisorn, Weerathep Pomphan  dan Kritsada Kaman.

Melihat sejumlah pernyataan sang pelatih, AFF Cup memang sudah bukan lagi target Thailand. Dengan kata lain, Thailand sudah bosan menjadi raja Asia Tenggara.

Mereka kini membidik masuk jajaran tim elit Asia bersama Jepang, Korsel, Arab Saudi, Iran, Qatar dan Australia.

Bukti nyata, Polkings tak lagi mengganggu konsentrasi pemain bintang mereka seperti Tristan Do, Chanathip Songkrasin, Supachok Sarachat, Philip Roller dan Manuel Bihr untuk bermain di level rendahan.

Hal ini memang seperti tamparan untuk Indonesia. Bayangkan, Indonesia dengan segenap tenaga begitu berambisi meraih gelar AFF. Semua amunisi pemain terbaik sudah turun. Entah itu pemain lokal atau naturalisasi.

Sayang, impian itu belum terwujud. Kembali lagi mendapatkan secarik kertas, ‘coba lagi edisi berikut’.

Publik sepakbola mungkin masih mengingat Kiatisuk Senamuang striker legendaris Thailand yang kemudian menjadi pelatih timnas Thailand periode 90an hingga pertengahan 2000-an.

Sindirannya terhadap timnas Indonesia baru-baru ini, memang cukup menohok. Namun, memang harus menjadi cambukan untuk introspeksi diri.

Menurutnya, saingan Thailand di level Asean cuma Vietnam. Zico Thailand ini menilai Indonesia hanya hebat ketika bermain di kandang.

Baca Juga:  Karma Menolak Pemain Bintang

Hal ini memang benar adanya. Entah siapa yang salah dengan pembenahan sepakbola Indonesia. Sejak era Primavera, Baretti dan sejumlah misi pembinaan sepakbola dini, Indonesia nyaris menjadi tim yang mapan.

Namun, ketika di jenjang senior selalu ada masalah silih berganti menerpa timnas Indonesia. Padahal Indonesia dan Thailand sudah ada di level sama sejak era 1990an.

Ketika Kiatisuk aktif, Indonesia juga punya andalan Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, Rochy Putiray hingga Boaz Salossa. Sayang, bakat-bakat besar mereka tak mampu mengangkat Indonesia ke jenjang lebih tinggi.

25 tahun berselang, Thailand Juara AFF 7 kali, Singapura punya 4 piala, Vietnam dua dan Malaysia satu.  Untuk Seagames, Sejak tahun 1993, Thailand punya 11 emas, Malaysia 2 dan Vietnam 2.

Sementara Indonesia, masih terus berkutat di kubangan minim prestasi. Nol juara.

Pecinta sepakbola Indonesia terlalu mencintai timnas Indonesia dan berharap lahir prestasi membanggakan. Namun, publik sepakbola terus kecewa dengan fakta yang tersaji.

Bahkan publik sepakbola dipaksa memaklumi amburadulnya liga, mafia wasit, pengaturan skor, arogannya oknum pengurus dan faktor lainnya sebagai hal lumrah.

Yang menarik, kalimat sama yang terucap dari ketum PSSI ketika terpilih. Membawa Indonesia lebih Berprestasi dan Menata sepak Bola Indonesia lebih Profesional. Entah sudah berapa ketum yang yakin dengan ucapannya tersebut.

Baca: Kesemrawutan Sepakbola Indonesia

Hasilnya? Biarkan publik sepakbola yang menjawab. (BangKipot)

 

 

1 komentar

Komentar ditutup.