Zidane, Tandukannya Akan Selalu Diingat

F. G. Tangkudung
23 Okt 2020 16:50
Sport 0 151
4 menit membaca

Dua gol Zidane di partai puncak, membawa Perancis menjadi juara dunia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Akhir tahun 90-an, publik Perancis meyakini Youri Djorkaeff akan menyamai kualitas dan menjadi pengganti  Michael Platini.

Namun siapa sangka, di kejuaraan piala dunia 1998 muncul bintang lain asal Perancis yang kehebatannya melebihi Platini.

Zinedine Yazid Zidane tampil membawa Perancis mengungguli Brazil yang saat itu tampil dengan Ronaldo pemain terbaik Dunia.

Dua golnya di partai puncak, membawa Perancis menjadi juara dunia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Zidane yang memulai karier sebagai pemain di klub AS Cannes ditemukan pencari bakat bernama Jean Varraud saat berusia 14 tahun.

Dia kemudian bermain di level profesional saat berusia 17 tahun pada tahun 1991. Saat mencetak gol pertamanya, dia membuat presiden klub terpesona dan membuat sang presiden membelikannya sebuah mobil mewah.

Pada akhir musim Zidane mampu membawa Cannes berlaga di piala UEFA.

Melihat permainannya makin menawan, klub besar Perancis Bordeaux, kemudian membelinya pada musim 1992-93.

Bersama Cristophe Dugarry dan Bixente Lizarazu, Zidane berhasil membawa Bordeauz menjuarai piala Intertoto 1995 dan runner up piala UEFA 1995/1996

Kemampuan mengolah bola Zidane yang memesona, membuat raksasa Italia Juventus meliriknya.

Tahun 1996, Zidane akhirnya bergabung dengan rekan asal perancis Didier Deschamps.

Bersama bintang-bintang besar Juventus lainnya seperti Peruzzi, Ferarra, Montero, Di Livio, Del Pierro, Christian Vierri, Antonio Conte dan Alen Boksic, Juventus menjadi kekuatan menakutkan di Serie A.

Selama berseragam kuda zebra, dia berhasil membawa Juventus meraih dua kali Scudetto. Sayang, dia tak bisa memaksimalkan kesempatan saat dua kali mencapai babak Final liga champion.

Kedua partai itu itu Juventus harus takluk dari wakil Jerman, Borrusia Dortmund di musim 1996/1997 dan Wakil Spanyol Real Madrid setahun berikutnya.

Atas prestasinya tersebut dia dipanggil ke timnas Perancis untuk menghadapi piala dunia 1998. Ajang piala dunia tahun 1998 menjadi ajang Zidane untuk menunjukkan aksi-aksinya, termasuk ciri khasnya berputar dengan bola seperti menari.

Latar belakangnya sebagai seorang pejudo juga membuat kuda-kudanya begitu kokoh. Semua lawan yang berhadapan dengannya pasti akan sangat kesulitan merebut bola darinya.

Dua tahun berselang dia membawa Perancis  menjadi yang terbaik di ajang piala Eropa 2000.

Italia menjadi korban terakhir Perancis setelah di partai final, comeback dari ketertinggalan akibat gole Marco Delvecchio dan membalikkan keadaan lewat gol Thierry Henry dan David Trezequet.

Tahun 2001, Madrid yang sedang membangun proyek Los Galacticos atau tim dari galaksi lain yang mengumpulkan semua pemain bintang berhasil merayu Juventus dengan nilai yang sangat besar.

Kepindahannya dari Juventus ke Real Madrid sempat menjadi rekor sebagai pemain termahal musim 2001-2002 dengan nilai 46 juta poundsterling.

Dia bergabung dengan Luis Figo dan Raul Gonzales untuk mengejar impiannya meraih gelar liga champion.

Musim pertamanya, Zidane langsung membawa Madrid kembali ke final liga champion untuk ketiga kalinya dalam 5 tahun terakhir.

Golnya dengan tendangan voli indah menjadi penentu kemenangan Madrid, langsung menyudahi perlawanan kuda hitam Bayern Leverkusen, dengan Michael Ballack.

Tahun 2002, dia kembali membawa perancis melaju ke piala dunia Korsel-Jepang. Namun Perancis sebagai juara bertahan secara mengejutkan kalah di partai awal melawan Senegal.

Dia mengalami cedera dan tak bisa bermain di dua pertandingan selanjutnya fase grup. Hasilnya, Perancis harus rela pulang lebih dahulu karena tak mampu lolos ke babak berikutnya.

Tahun 2004, Zidane memutuskan untuk pensiun dari Timnas Perancis usai gagal mempertahankan gelar juara piala Eropa di Portugal.

Juara Eropa tahun 2004 diraih tim kuda hitam Yunani.

Sebuah kehilangan besar bagi tim Perancis ketika Zidane mengundurkan diri. Benar saja, Perancis terseok-seok dalam fase kualifikasi grup menembus piala dunia 2006 di Jerman.

Atas permintaan publik dan pelatih Perancis, Raymon Domenech, Zidane bersama Lilian Thuram dan Claudio Makalele bersedia kembali memperkuat Perancis di kualifikasi Piala Dunia 2006 yang saat itu sudah berada di peringkat keempat grup.

Hasilnya, Perancis berhasil menjadi juara grup mengungguli Swiss, Israel dan Republik Irlandia.

Piala Dunia 2006, menjadi piala dunia terakhirnya. Dia berencana menutup karir dengan indah. Hingga babak semifinal semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun sebuah malapetaka hadir di babak Final ketika Perancis bertemu dengan Italia. Sebuah provokasi licik nan pintar dari Materazzi membuatnya lepas kontrol dan menanduk pemain bertahan Italia tersebut.

Akibatnya, dia mendaoat kartu merah. Pola penyerangan Perancis tak lagi menggigit sehingga pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti.

Italia akhirnya menjadi juara dunia tahun 2006. Hingga kini peristiwa itu masih membekas di hati Zidane. Meski Materazzi  sudah meminta maaf atas kejadian tersebut, Zidane enggan menanggapinya.

Itulah Zizou, sapaan akrabnya, dengan segala kehebatan dan penutup karirnya yang kontroversi.

Semua piala yang diraihnya di level Timnas dan klub termasuk tiga kali meraih pemain terbaik FIFA serta sekali mendapatkan Ballon d Or sudah menjadi bukti kehebatannya.

Zidane bahkan masuk dalam Hall of Fame legenda sepakbola.

Kini visi dan kehebatannya bisa terlihat saat dia menukangi timnya semasa muda, Real Madrid.

Baca: Di Stefano, Kunci Kebesaran Real Madrid

Dia berhasil meraih gelar Liga Champion untuk Madrid tiga kali. Zidane memang layak masuk dalam kumpulan pemain terbaik sepanjang masa yang pernah hadir di muka bumi ini.

Penulis: Bang Kipot

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *