Satire Stroke Kuping dan Penolakan RS, Klasik tapi Konsisten

F. G. Tangkudung
9 Mar 2023 13:21
Opini 0 42
3 menit membaca

Istilah Stroke Kuping mendadak jadi populer. Ihwalnya, balasan seorang selibriti, Kiky Saputri terhadap pernyatan Presiden Joko Widodo. Waktu itu Joko sedih karena banyaknya orang lebih untuk berobat ke luar negeri.

Kiky kemudian sedikit curhat soal mertuanya yang berobat ke LN karena penyakit telinganya tambah parah ketika berobat di Indonesia. Dokter Singapura justru tertawa hasil diagnosa di Indonesia.

“Mertua saya didiagnosa stroke kuping karena tiba-tiba pendengarannya terganggu. Disuntik dalemnya malah makin parah pendengarannya. Akhirnya ke RS Spore & diketawain sama dokternya mana ada stroke kuping. Itu cuma flu jadinya bindeng ke telinga & sekarang udah sembuh. Kocak kan? “tulis @kikysaputrii, Selasa (7/3/2023).

Waktu hampir bersamaan, mengapung kejadian kematian ibu hamil (Bumil) dan bayinya ketika mendapat penolakan perawatan di RSUD Ciereng Subang yang terjadi Februari. Alasannya, karena pihak RS belum menerima rujukan dari Puskesmas Tanjungsiang.

Kurnaesih (39) warga Citombe Buniara, Tanjungsiang Subang yang sudah dalam keadaan kritis, akhirnya meninggal dunia bersama bayinya di perjalanan, ketika keluarga mencoba mencari RS lain.

Dua kejadian di atas, sebenarnya bukan hal baru. Hal ini menjadi masalah klasik namun terus berulang.

Malapraktik, salah diagnosa, pilih kasih, arogansi, penolakan RS sampai pasien kehilangan nyawa sudah sering terjadi. Itu belum terhitung karut marut masalah terkait BPJS dan kisruh soal administrasi.

Sudah ada tanggapan dari induk organasisasi profesi soal satire Stroke Kuping.

Sayangnya, itu terkesan membela diri, membanggakan diri dan mengoper kesalahan. Bukan koreksi, evaluasi dan mencari solusi.

Pihak RSUD Ciereng Subang juga sudah memberikan klarifikasi soal kematian bumil dan bayinya. ICU penuh. Intinya, RS membantah tidak melakukan penolakan. Hanya sebuah miskomunikasi dan salah tafsir keluarga.

Pihak istana dan legislator di gedung kura-kura (baca: kepakan sayap) juga kini tegas menyeriusi hal ini. Seperti sebelum-sebelumnya, ketika ada kasus besar, ramai-ramai peduli. Usai itu, pengawasannya memble. Yang pasti, dua nyawa itu tak bisa lagi kembali. Meski cuma rakyat biasa.

Miris memang, jika kejadian-kejadian seperti ini terus terjadi. Dua contoh kasus tersebut hanya yang viral atau ter-blowup.

Andai saja, Kementerian kesehatan membuka aduan layanan pasien di seluruh Indonesia, sudah bisa terbayangkan berapa banyak chat setiap harinya.

Tapi, itu mungkin hanya ulah oknum yang akhirnya menodai citra institusi dan profesi. Masih banyak tenaga kesehatan yang berintegritas, kapabel dan menjunjung tinggi sumpah jabatan.

Ketika memilih profesi tenaga kesehatan, sudah terucap sumpah.

Membaktikan hidup untuk perikemanusiaan, dengan cara terhormat, bersusila dan martabat. Tidak bertentangan dengan perikemanusiaan serta menghormati setiap hidup insani mulai dari pembuahan.

 Inovasi VIO Optical Clinic untuk Penglihatan Lebih Baik

Jangan Panggil Kami Gila

Jangan lupa juga, masih membekas di ingatan publik ketika induk organsisasi profesi mulia berseteru ketika memecat anggotanya yang mantan menteri. Lebih banyak unsur politis dan perang egonya. (fgt)