Proyek Nangis Bareng yang Gagal

F. G. Tangkudung
11 Jan 2024 17:50
Opini 0 224
3 menit membaca

Jelang hari H Pilpres 2024, perang strategi tiga pasangan calon beserta timnya makin panas. Teranyar, muncul taktik playing victim dengan video nangis bareng dari kubu paslon Prabowo-Gibran.

Usai kekalahan telak Prabowo Subianto dalam debat Capres, Minggu (7/172024), muncul konten trending di media sosial. Banyak akun mengirim video ketika menangisi Prabowo saat hanya bisa terdiam dengan wajah sedih dalam debat. Ada suara latar dua capres Anies dan Ganjar ketika saling saling melempar pernyataan menyindir Prabowo.

Strategi ini cukup berhasil, sebagian publik ikut iba dan simpati. Tak seharusnya, Prabowo yang sudah lanjut usia mendapat perlakuan seperti itu dari dua anak muda yang gagah. Begitu narasi dalam semua video netizen.

Bowo disebut tak mau membalas karena menjaga etika dan kesopanan. Bahkan Anies dan Ganjar menjadi tokoh antagonis karena bertanya kritis dalam debat.

Sayang, tak sampai 24 jam trending tersebut langsung berbalik arah. Belakangan terungkap itu adalah proyek nangis bareng, misi khusus untuk para buzzer (pendengung) pendukung paslon 2.

Citra sabar dan sopan yang coba dibangun para pendengung untuk Bowo seketika hancur. Pasalnya, Bowo dalam kampanye di Riau kembali terekam kamera mengucapkan kata tolo* dan goblo* dengan emosi menggebu. Bowo juga tak ikhlas jumlah lahannya berkurang seperti kata Anies. Dia merevisinya, bukan 340 ribu Ha tapi hampir 500 ribu Hektare.

Seketika, pendukung paslon 1 dan 3 langsung membalasnya. Konten balasan sungguh lucu dan nyelekit. Ada yang menyebut Bowo tak menghargai kerja para pendengung yang susah payah mencitrakan dirinya sebagai sosok gemoy dan santuy. Pun begitu, Bowo hanya garang ketika tampil di hadapan pendukung, namun mati kutu waktu debat.

Secara objektif, Bowo memang kalah segalanya di dalam debat. Fisik, mental dan intelektual. Dia tak mampu menangkis pertanyaan kritis dua capres lain. Jelas terlihat, Bowo tak menguasai substansi tema.

Berbeda dengan Gibran pada debat cawapres yang punya persiapan data, jelas terlihat faktor usia Bowo begitu berpengaruh pada memorinya. Dia akhirnya terus berlindung dengan diksi ‘Rahasia Negara’ dan ‘Ketemu di Luar’.

Padahal, maksud pelaksanaan debat agar publik tahu gagasan, retorika intelektual, daya berpikir kritis, karakter dan penguasaan emosi calon pemimpin. Termasuk rekam jejaknya yang bersifat pribadi.

Mungkin ada benarnya, dalam tema pertahanan ada hal bersifat rahasia negara. Tapi, pertanyaan Anies-Ganjar bukan bersifat rahasia yang semestinya bisa menjadi kesempatan Bowo, untuk memamerkan pengetahuannya soal Hankam.

Tim Bowo terlalu memandang remeh dan lupa di kubu Ganjar ada Mahfud MD yang adalah mantan Menteri Pertahanan dan kini menjabat Menko Polhukam yang tahu luar dalam masalah itu.

Belum lagi para penasihat Ganjar sebelum debat seperti mantan Gubernur Lemhanas Andi Wijayanto, mantan Panglima TNI Andika Perkasa, mantan KSAU Agus Supriatna, mantan KSAL Bernard Sondakh dan pengamat pertahanan Connie Bakrie.

Sementara Anies, ada 125 purna jendral dari tiga matra plus kepolisian dengan kapten timnas mantan pilot pesawat tempur M Syaugi yang memberi masukan terkait tema debat.

Lanjut ke hal lainnya, pendukung Bowo melabeli Anies Baswedan orang yang tak tahu berterima kasih karena pernah didukung Prabowo saat Pilgub Jakarta 2017. Mereka abai, pertanyaan Anies bukan soal menyerang pribadi atau tidak tahu berterima kasih.

Akibatnya, muncul sentilan tentang etika dan pengkhianatan. Justru Bowo yang meninggalkan pendukungnya demi mendapatkan jabatan Menhan dengan dalih untuk persatuan Cebong dan Kampret.

Bukan hanya itu, publik turut mencela Joko dan keluarga yang berkhianat kepada PDIP padahal berulangkali mendapat dukungan di Pilwakot, Pilgub dan Pilpres.

Amnesia dan Playing Victim

Memang, jelang dua debat terakhir hingga pasca hari H, keadaan akan terus memanas, apalagi di media sosial. Ketidakhadiran Joko di HUT PDIP, ancaman pembunuhan untuk Anies dan isu pemakzulan makin membuat konstelasi politik makin membara. Kita tunggu… (fgt)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *