Menyelisik Kampung Jaton Peninggalan Kiai Modjo

F. G. Tangkudung
29 Okt 2020 13:34
Manadopedia 0 491
2 menit membaca

Dari sejarah, pendiri kampung ini adalah KH Muhammad Khalifah Modjo atau lebih populer dengan sebutan Kiai Modjo (Kiai Madja).

Minahasa, salah satu Kabupaten di Sulawesi Utara terkenal sebagai masyarakat religius. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan.

Tak heran, hampir setiap satu kilometer selalu ada bangunan gereja yang menunjukkan betapa religiusnya masyarakat Minahasa.

Baca: Makam Imam Bonjol, Cagar Buadaya Peringkat Nasional

Namun, ada yang menarik ketika kita menyusuri ibukota Kabupaten Minahasa yaitu Tondano. Ada sebuah desa yang bernama Kampung Jawa Tondano atau Jaton.

Desa yang memiliki seratus persen warga beragama Islam ini  berada di tengah-tengah Kabupaten Minahasa.

Jaton menjadi salah satu bukti sejarah Islam masuk ke Sulut, khususnya Minahasa.

Dari sejarah, pendiri kampung ini adalah KH Muhammad Khalifah Modjo atau lebih populer dengan sebutan Kiai Modjo (Kiai Madja).

Dalam buku sejarah Indonesia, Kiai Modjo memiliki andil besar pada perjuangan Pangeran Diponegoro (1825-1830). Pada akhirnya Belanda membuangnya ke Manado.

Kiai Modjo menjadi penasihat spiritual sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro karena kesaktian dan juga pendidikan agamanya. Dia kemudian tertangkap Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah.

Sang guru bersama 62 pengikut setianya menuju ke Batavia dan selanjutnya Belanda mengasingkan mereka ke Tondano Minahasa, Sulut, awal 1830. Dia wafat di Tondano pada 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Kampung Jaton ini begitu terkenal di Sulut, bukan hanya karena menjadi minoritas di daerah mayoritas, namun menjadi simbol kerukunan antar umat beragama.

Sudah beratus tahun mereka hidup berdampingan tanpa ada konflik antar agama, menjadi teladan masyarakat luar.

Setiap Lebaran ketupat tiba, kampung ini  begitu ramai, semua warga dari segala penjuru Sulut mendapat undangan untuk merayakan lebaran di Jaton.

Bukan hanya itu, budaya warisan Kiai dan pengikutnya begitu mempengaruhi bangunan dan tradisi masyarakat setempat.

Masjid Al-Falah yang berdiri pada tahun 1854  sempat mengalami renovasi beberapa kali pada tahun 1974, 1981 dan 1994.

Masjid ini memiliki banyak keunikan dengan gaya arsitektur mirip Mesjid Agung Demak, Jogyakarta, dengan empat sokoguru, masing-masing 18 meter kayu asli.

Terdapat juga mimbar bertuliskan ayat-ayat suci Al Qu’ran tulisan Kiai Modjo beserta Hadits Nabi Muhammad SAW.

Penulis : F. G. Tangkudung

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *