Menanti Kejutan dari Prabowo dan Ganjar

F. G. Tangkudung
5 Sep 2023 14:48
Opini 0 87
3 menit membaca

Deklarasi Anies Baswedan yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar, membuat peta politik jelang Pilpres 2024 berubah total. Kini publik menanti kejutan lain dari dua capres lain, Prabowo-Ganjar.

Fakta yang sudah membentang pasca deklarasi Anies-Imin, jelas membuktikan politik itu selalu cair, menjadikan sesuatu yang terlihat mustahil menjadi realitas.

Lantas apa kejutan lain yang bakal terjadi jelang detik-detik pembukaan pendaftaran pasangan Capres-Cawapres, 19 Oktober mendatang? Mari otak-atik, dengan konstelasi terkini.

Prabowo Subianto, kini menjadi calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju. Melihat dua partai yang ada, Prabowo bisa saja menggandeng Airlangga Hartarto (Ketum Partai Golkar) atau Zulkifli Hasan (Ketum PAN). Sayangnya, secara elektoral Airlangga dan Zulhas tak cukup bagus untuk mendongkrak suara Prabowo Subianto.

Hal paling mungkin adalah menggandeng Erick Thohir, jagoan lain dari PAN. Isu tawaran ‘hadiah negoisasi’ dengan nominal fantastis untuk Imin agar mengalah sebagai Cawapres Prabowo Subianto, bisa jadi mengarah ke nama Erick.

Belakangan Imin sudah mengakui adanya tawaran tersebut dan tegas menolaknya. Imin tetap ingin menjadi Cawapres. Sayangnya, Prabowo tetap mengabaikan Imin, hingga pada akhirnya cinta Imin berpaling ke Anies Baswedan.

Keunggulan utama Erick Thohir, tentu saja soal ketersediaan amunisi tak terbatas. Secara elektoral, Erick sebenarnya bisa merepresentasikan NU. Namun, kehadiran Imin di pihak Koalisi Perubahan bakal mereduksi popularitas Thohir di kalangan Nahdliyin. Hal paling mungkin hanya untuk memecah suara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Mungkin ada satu nama yang potensial. Ridwan Kamil, juga asal Golkar. Sebagai mantan Gubernur Jawa Barat, Kang Emil cukup baik dalam hal popularitas, elektabilitas dan kapasitas. Sayangnya, suara Emil dan Prabowo terlalu beririsan, dengan kata lain punya ceruk massa yang hampir sama.

Hal inilah yang tentu saja membuat Prabowo bingung dan gundah gulana, apalagi sepeninggal Imin, yang mungkin menjadi alternatif terakhirnya.

Kini, Prabowo tentu saja sangat sangat berharap, keputusan MK bisa mengantarnya meminang Walikota Solo, Gibran Rakabuming.

Bagaimana Ganjar Pranowo? PDIP sebenarnya tak perlu terlalu pusing ada atau tidaknya rekan partai koalisi. Kabar retaknya hubungan PDIP dan PPP bukan masalah besar. Masalah utama PDIP adalah internal yang tidak gaspol mendukung Ganjar Pranowo.

Tentu saja, itu bermula dari manuver ‘Dewan Kolonel’ yang loyal kepada Puan Maharani.

Meski berulangkali sudah ada penegasan tegak lurus garis partai dari Ketua Umum, nyatanya banyak pihak internal yang belum ikhlas Ganjar adalah Calon Presiden usungan PDIP.

Parahnya, anggota dewan Kolonel yang sangat memfavoritkan Puan, adalah tokoh-tokoh vokal, seperti Johan Budi, Masinton Pasaribu, Trimedya Pandjaitan dan Bambang Pacul Wuryanto. Belum lagi para kader yang mendua hati seperti Efendi Simbolon dan Budiman Sudjatmiko (yang akhirnya dipecat).

Menarik menunggu cara Megawati Soekarnoputri merangkul mereka agar jor-joran mendukung Ganjar. Mungkinkah Megawati nekat mengangkat Ganjar Pranowo-Puan Maharani? Waktu yang akan menjawabnya.

Kondisi Partai Demokrat yang kini seperti layangan putus, bisa saja menjadi pintu masuk untuk duet Ganjar-AHY. Namun, kembali lagi faktor elektoral yang beririsan, plus elektabilitas rendah, membuat hal itu terlalu berisiko.

Nama Gibran Rakabuming juga jelas akan menjadi prioritas utama jika memang putra Presiden VII itu nantinya memenuhi syarat.

Bagaimana jika menggandeng tokoh NU? Mahfud MD, Yenny Wahid atau Khofifah Indar Parawansa? Mari kita tunggu.

Sebenarnya, Ganjar-Sandiaga sudah cukup mentereng, melihat modal yang dimiliki Sandi, plus bendera hijau yang kini dia miliki (Baca: ceruk massa Islam tradisional).

Sayang, saat bersamaan, muncul isu pembentukan koalisi baru yang bakal mengusung Sandiaga-AHY. Apalagi itu membawa nama istana. Menarik ditunggu kelanjutannya.

Namun, di luar otak atik itu semua. Masih terlihat jelas. Joko Widodo masih menginginkan duet Prabowo-Ganjar itu terealisasi. Mungkin masalahnya, ego Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Tak ada yang ingin mengalah menjadi wakil presiden. Keduanya kukuh mengatasnamakan mandat keputusan partai.

Baca: Menakar Konstelasi Politik Usai Deklarasi Anies-Imin

Padahal, duet Prabowo-Ganjar di atas kertas lebih dari cukup untuk memenangkan kontestasi. (fgt)

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *