Ketika PDIP Terlihat Mulai Gamang

F. G. Tangkudung
14 Jul 2023 12:37
Opini 0 61
4 menit membaca

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terlihat mulai gamang dengan sejumlah perkembangan politik terbaru. Teranyar, tentu saja hasil survei 1-8 Juli 2023 soal Pilpres 2024 dari Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Hasil survie LSI itu menunjukkan Capres Jagoan PDIP, Ganjar Pranowo kini tak mampu lagi membendung meroketnya suara Prabowo Subianto. Kini Prabowo ada di posisi 35,8 persen, mengangkangi Ganjar Pranowo (32,2 persen) dan Anies Baswedan (21,4 persen). Meski begitu masih ada sekitar 10,6 persen masyarakat belum menentukan pilihannya.

Wajar memang PDIP mulai gelisah dan gamang soal ini.

Superioritas selama satu dekade kini perlahan namun pasti mulai tergerus. Apalagi Prabowo Subianto bersama Koalisi kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), memiliki posisi tawar jauh lebih baik ketimbang Ganjar Pranowo.

Ya, Prabowo juga kini memiliki akses masuk ring satu Presiden Joko Widodo, kunci utama kemenangan Pilpres 2024 yang selama ini menjadi kebanggaan PDIP.

Belum lagi, faktor pendukung lain milik Prabowo, suara Nahdlatul utama gerbong PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Sudah pasti ini membuat PDIP makin gamang. Terakhir, suara rebound milik Anies Baswedan yang kemungkinan besar mengarah ke Prabowo. Ini tentu dengan catatan jika Anies batal menuju Pilpres atau kalah di putaran pertama.

Bagi publik mafhum PDIP yang gamang sudah makin kentara terlihat. Ada beberapa momen ketika PDIP mulai menyadari posisinya kian melemah. Uniknya, mayoritas beririsan dengan sosok Prabowo Subianto. Mari ulas lebih dalam.

 

  1. MK Tolak Sistem Proporsional Tertutup

Mahkamah Konstitusi (MK) lewat ketuanya Anwar Usman menolak sistem Pemilu proporsional tertutup, Kamis (15/6/2023). PDIP menjadi satu-satunya partai yang menginginkan sistem tersebut di DPR RI berseberangan dengan delapan partai lain yakni Fraksi Gerindra, Golkar, Demokrat, Nasdem, PKB, PPP, PAN, dan PKS.

  1. PDIP Panggil Gibran Rakabuming

PDIP memanggil Gibran Rakabuming, putra sulung Presiden Jokowi yang juga Walikota Solo, Senin (22/5/2023). Pemanggilan ini berkaitan dengan pertemuan Gibran dengan Prabowo Subianto empat hari sebelumnya.

  1. PDIP Terusik Gerindra Dukung Kaesang Pangarep

Dukungan Partai Gerindra yang mendukung Kaesang Pangarep, Putra bungsu Presiden Jokowi dalam Pilkada Kota Depok membuat PDIP terusik. Petinggi partai bahkan harus menegaskan aturan jika satu keluarga harus berada dalam satu partai.

  1. PDIP Panggil Effendi Simbolon

Pemanggilan terhadap kader PDIP, Effendi Simbolon juga terjadi, Senin (10/7/2023). Hal ini berkaitan dengan pernyataan Simbolon yang terkesan tendensius mendukung Prabowo Subianto dalam Rakernas Marga Simbolon (Jumat (7/7/2023).

  1. Jokowi-Prabowo Kian Mesra

Kedekatan dua tokoh yang pernah bersaing dalam Pilpres 2019, membuat PDIP mulai cemburu buta. Berulangkali, Presiden Jokowi tampak berduaan dengan Prabowo.

Terbaru, Prabowo menghadap Jokowi di Istana, Senin (10/7/2023). Tema pembahasan keduanya hanya isu Pertahanan. Meski begitu, banyak interpretasi yang muncul terlebih mendekati kontestasi Pilpres.

==

Sebenarnya langkah PDIP merespon isu tersebut sangat normatif. Sebagai kader, wajib hukumnya untuk mendukung kebijakan partai secara tegak lurus dari tingkatan elite hingga akar rumput.

Namun, entah mengapa aura kegamangan PDIP mulai terlihat publik. Secara kasat mata soal amunisi, tak ada lagi kartu As PDIP untuk mengubah situasi ini dengan waktu yang kian mepet.

Mungkin, satu hal tak boleh terlupa, PDIP merupakan partai terbesar Indonesia yang sudah berpengalaman melewati banyak badai. Tak bisa dipungkiri PDIP jago menempatkan kader-kader terbaik dalam Pileg, Pilwakot/Pilbup dan Pilpres. Pun begitu, mesin politik PDIP terkenal gigih dan militan.

Menarik melihat nasib PDIP pada Februari 2024. Akankah tetap menjadi partai terbesar sekaligus memenangi Pilpres? Waktu yang akan menjawab.

Ramai Kader PDIP Manado Kena Hujat

Ketika sejumlah elite politik tanah air, mati-matian berusaha mewujudkan kondusivitas dan persatuan jelang Pemilu, kader PDIP di Manado bikin ulah. Adalah Richard Sualang, Ketua DPC PDIP Kota Manado yang juga Wakil Walikota Manado membuat heboh lewat akun media sosial miliknya.

Ihwalnya, warga Kota Manado mengritik logo HUT Kota Manado ke 400, 14 Juli 2023, yang terkesan terlalu politis. Dua angka nol di angka 400, berisi mata mirip mata banteng di logo PDIP.

Mungkin bisa dimaklumi, Walikota Manado Andrei Angouw dan wakilnya Richard Sualang adalah kader PDIP. Pemkot Manado juga sudah menjelaskan dua mata tersebut filosofi yang melambangkan Manado selalu terjaga dan waspada dengan semangat membangun masa depan.

Tapi, alih-alih mendengar kritik warga Manado dan menjelaskan dengan bijak, Sualang  malah memantik api perdebatan antar warga Manado. Dia menuliskan kalimat provokasi di akun media sosialnya dengan kalimat “Baru Mata so beking Kadrun Ketar-ketir” (Baru Mata Sudah membuat Kadrun Ketar-Ketir).

Tak hitung tiga, Richard Sualang langsung menjadi sasaran hujatan. Namun,tak sedikit juga pihak yang membela Sualang. Alhasil, Netizen Manado terbelah pro kontra menanggapi postingan tersebut.

Banyak yang menyentil soal arogansi kepemimpinan dan cara berkomunikasi tak elok dari Sualang, sampai imbas kekuasaan PDIP di Sulut yang hampir sepuluh tahun.

“Untuk mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan” begitu salah satu satire netizen.

Istilah Kadrun sendiri adalah singkatan dari Kadal Gurun. Kadrun mulai populer dalam politik Indonesia sejak 2019 menggantikan istilah Kampret sebagai lawan Cebong.

Julukan ini menghakimi lawan politik kelompok tertentu yang berbeda pilihan, sebagai orang berpikiran sempit, menganut ekstremisme, fundamentalisme dan radikalisme ala Timur Tengah.

Baca: Misteri Obrolan Jokowi-Prabowo di MRT 2019

Sayangnya, label Kadrun pada 2019 banyak melekat untuk pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai kontra istilah Cebong untuk pasangan Joko Widodo-Maruf Amin. (fgt).

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *