Kaesang Ketum PSI, Langkah Tarian Perang Jokowi

F. G. Tangkudung
26 Sep 2023 12:27
Opini 0 42
3 menit membaca

Politik Indonesia kembali riuh usai putra bontot Jokowi, Kaesang Pangarep resmi menakhodai Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Senin (25/9/2023). Terpilihnya Kaesang menjadi Ketum PSI, sudah jelas menjadi manuver senyap Jokowi.

Yang menarik, langkah Kaesang tersebut menyiratkan banyak kode politik, hal yang selalu lekat dengan Jokowi. Mari kita bahas lebih dalam.

Pertama dan tentu saja paling utama, ini terbaca sebagai bentuk perlawanan terbuka pertama dari Jokowi terhadap Megawati Soekarnoputri dan PDIP.

Berulangkali elite PDIP menegaskan dalam AD/ART PDIP Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PDIP Nomor 25a, tertuang jelas soal larangan beda partai bagi keluarga inti seseorang yang jadi kader PDIP. Jokowi, anaknya Gibran Rakabuming dan menantunya Bobby Nasution sudah jelas adalah Kader PDIP. Namun kini, Kaesang dengan berani memilih PSI sebagai kendaraan politiknya.

Publik tentu bisa merasakan tamparan keras bagi PDIP soal mbalelonya Jokowi dan Kaesang ini. Jelas PDIP mengalami dilema luar biasa soal penerapan sanksi kepada Jokowi.

Bagi yang maklum dan mafhum, ini pasti berkaitan dengan proses pencalonan Ganjar Pranowo sebagai Capres PDIP. Bukan rahasia umum lagi, wewenang Jokowi untuk mempengaruhi keputusan di internal PDIP terlalu kecil, meski dia adalah Presiden RI. Konon, termasuk penentuan Cawapres dan kabinet Ganjar nanti jika menang.

Hal ini jelas menimbulkan kerisauan Jokowi yang tinggal setahun menjabat. Dia perlu pijakan dan pegangan jelas agar masih bisa tampil dalam perpolitikan nasional setelah lengser. Minimal bisa melanjutkan kebijakan yang sudah dia buat dengan susah payah.

Dengan menggenggam PSI, kini Jokowi punya posisi tawar yang kuat. Dalam bahasa yang agak ekstrem, ini adalah ancaman. Sekali arahan Jokowi, semua relawan dan simpatisannya yang selama ini ada di PDIP bisa saja berpindah ke PSI. Inilah tarian perang ala Jokowi.

Lebih jauh ke konstetasi Pilpres, yang bikin ketar-ketir adalah soal konstituen di Jawa Tengah yang notabene kandang banteng. Bagaimana jika Jokowi memberi kode agar mereka menjatuhkan pilihan ke Prabowo?

Kalimat inti pidato Kaesang soal Jokowi bukan orang sempurna tapi ingin membuat Indonesia maju dan sejahtera, sudah jelas menyiratkan semua hal itu.

Jokowi bisa saja terpaksa bermain dua kaki, ‘mengkhianati’ PDIP untuk kepentingan yang lebih besar, bangsa Indonesia. Menarik menanti langkah Megawati bersama PDIP menyikapi hal ini.

Kedua, tampilnya Kaesang sebagai Ketum PSI secara tidak langsung menabok AHY sebagai Ketum Partai Demokrat. Sudah menjadi fakta yang terbentang, AHY yang ‘hanya’ mewarisi jabatan Ketum dari ayahnya, Presiden VI RI, SBY terus mengampanyekan dirinya sebagai Capres dan Cawapres.

Banyak sindiran dan sarkasme soal itu. Pasalnya, AHY belum melalui proses yang semestinya. Level AHY bahkan disebut hanya pantas untuk level pemilihan gubernur. Minimal lihat anak presiden lain, Puan Maharani. Yang menjadi anggota DPR, menteri, kemudian menjadi ketua DPR baru bersaing di tingkat elite nasional.

Tampilnya Kaesang, sudah pasti mereduksi koar AHY. Termasuk pidato soal perubahan dan keberlanjutan ketika resmi bergabung dengan koalisi Prabowo. Hal yang mungkin mengusik Jokowi.

Dengan bahasa sederhana, Jokowi ingin mengklasifikasikan AHY bersama PD kini cuma setara dengan Kaesang dan PSI.

“Hei anak muda, jangan ngatur-ngaturlah, biarlah keputusan Prabowo itu urusanku,” begitu kira-kira.

Terakhir, bergabungnya Kaesang sebagai Ketum PSI, kini seolah menjadi ultimatum Jokowi kepada PDIP. Paketkan Prabowo-Ganjar atau jalan masing-masing. Tentu saja Jokowi ada di pihak Prabowo, meski itu tidak akan terang-terangan.

Jawaban semua itu, akan terungkap dalam waktu dekat. Pertaruhan PDIP, memilih bersama atau tanpa Jokowi mengarungi Pemilu 2024. Jika mengedepankan kursi senayan plus masih berada di lingkar kekuasaan termasuk menjaga trah Soekarno, mungkinkah Megawati punya opsi lain menghadapi dilema ini?

Baca: Menanti Kejutan Prabowo-Ganjar

Menarik jika opsi Prabowo-Puan yang muncul. Bagaimana konsekwensinya? Kita lihat nanti. (fgt).

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *