Indonesia Batal Tuan Rumah Piala Dunia, Siapa Salah?

F. G. Tangkudung
30 Mar 2023 07:53
Sport 0 41
3 menit membaca

Induk Organisasi Sepakbola Dunia FIFA resmi mengumumkan Indonesia Batal Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2023, Rabu (29/3/2023) tengah malam.

Alasannya, situasi yang terjadi di Indonesia dua bulan jelang rencana kickoff turnamen tersebut. Pengumuman sanksi terkait putusan ini akan menyusul.

Dua hari sebelumnya, FIFA sudah menyiratkan keputusan itu lewat pembatalan Drawing Piala Dunia U-20 2023 yang rencananya berlangsung (31/3/2023) di Bali.

Keputusan final FIFA sudah tersaji, Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia Junior 2023. Status Indonesia sebagai negara peserta di ajang ini juga terancam hilang. Pasalnya, Indonesia berhak mengikuti Piala Dunia U-20 karena hadiah sebagai tuan rumah.

Beruntung, FIFA berjanji tetap komitmen untuk membantu dua presiden, Widodo dan Thohir untuk mengangkat derajat sepakbola Indonesia.

Nasi sudah menjadi bubur, bubur itu bahkan telah gosong. Siapa yang salah?

Satu hingga dua pekan mendatang, sudah tentu akan ada perang pernyataan saling menyalahkan atau membenarkan diri. Temanya, tak jauh dari mencapuradukkan politik dan olahraga, perusak mimpi anak bangsa dan Pencitraan 2024.

Mari fair melihat masalah ini. Memang pro kontra penolakan timnas Israel begitu kompleks, njlimet dan tentu saja politis.

Pidato bersayap Presiden Joko Widodo jelang keberangkatan Erick Thohir sudah menggambarkan dilema buah simalakama posisi Indonesia. Banyak pihak dan aspek yang terlibat.

Bukan sekadar boleh tidaknya atlet Israel tampil di Indonesia. Sebenarnya, beberapa atlet Israel sudah pernah tampil di Indonesia dan tak menjadi soal.

Sebut saja, Misha Zilberman di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015. Ada Yuval Shemla dan Noa Shiran di Panjat Tebing, IFSC Climbing World Cup 2022. Juga begitu, Mikhail Yakovlev dan Rotem Tene di Balap Sepeda, UCI Track Nations Cup 2023. Mereka tak mendapat resistensi serius karena memang ajangnya tak cukup seksi.

Atau tudingan ketidakkonsitenan menghargai perjuangan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Sama seperti pidato Presiden Widodo, saat mengajukan diri, Indonesia belum tahu daftar peserta kejuaraan tersebut.

Pun begitu, narasi membunuh mimpi anak bangsa untuk berjuang di ajang piala Dunia karena mencampuradukkan politik dan olahraga.

Tanya saja bagaimana sakitnya Artem Dzyuba dkk gagal mengikuti Piala Dunia 2022 atau Sergey Karjakin harus terdepak dari Turnamen Kandidat 2022.

Juga perihnya kisah trio Saeid Mollaei, Masoud Shojaei dan Ehsan Hajisafi. Semua karena keputusan politik yang berimbas ke olahraga yang mau tidak mau, suka tidak suka harus terjadi.

Kabar Indonesia Batal Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2023 mungkin menjadi keputusan terbaik bagi semua pihak. Meski banyak pihak juga yang akan tersakiti.

Setidaknya Indonesia lewat pengurus PSSI yang baru sudah berusaha melakukan negosiasi dan lobi dengan sejumlah syarat ke FIFA. Satu hal yang pasti, FIFA tak lebih besar dari Indonesia. Yakinlah, ada penyesalan besar FIFA pasca putusan ini.

Pada akhirnya, sebagai publik sepakbola, pasti ada kekecewaan yang muncul. Namun, sebagai warga negara, tumbuh juga sebuah kebanggaan. Indonesia mampu menjaga kehormatan (sejarah) dan rasa solidaritas dengan gagah. Di atas itu, tentu saja mencegah situasi makin kisruh dan panas.

Baca: Dilema dan Solusi Penolakan Timnas Israel

Terlalu riskan dan berisiko untuk tetap menggelar kejuaraan tersebut terlebih di tahun politik. Apalagi para poli(tikus) kini makin jago menggunakan situasi untuk kepentingan 2024. (BangKipot)