Salah satu tokoh Bridge Nasional, Chris Hombokau meninggal dunia akibat kecelakaan, Kamis (4/12/2025) di Manado, Sulawesi Utara.
Dunia bridge Indonesia menangis. Kabar duka itu datang begitu tiba-tiba: Chris Hombokau berpulang karena kecelakaan, meninggalkan kita semua dalam keheningan yang penuh luka.
Ia pergi bukan hanya sebagai seorang pemain, bukan hanya sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai pejuang sejati yang selama lebih dari dua puluh tahun mengabdikan hidupnya untuk memajukan bridge di tanah air.
Melansir Gambid.id, Chris Hombokau adalah sosok yang menyalakan api cinta bridge di Indonesia. Ia mendirikan Sekolah Bridge Tonaas Wangko (SBTW), tempat lahirnya generasi baru pecinta bridge.
Di sana, ia menanamkan bukan hanya teknik permainan, tetapi juga filosofi: bahwa bridge adalah olahraga pikiran yang membentuk karakter, disiplin, dan kebersamaan.
Dari pikirannya lahir gagasan monumental: Bridge Masuk Sekolah. Ia percaya, masa depan bridge Indonesia ada di ruang kelas, di meja-meja sederhana tempat anak-anak belajar berpikir, berstrategi, dan berkolaborasi.
Dari keyakinan itu, lahirlah Liga Bridge Pelajar serta berbagai turnamen untuk pelajar, mahasiswa, hingga kategori open. Baginya, setiap kompetisi adalah panggung pembelajaran, setiap kartu yang dibuka adalah kesempatan untuk menyalakan semangat baru.
Dedikasi Chris Hombokau begitu besar, begitu konsisten, sehingga namanya layak disejajarkan dengan tokoh besar bridge Indonesia.
Ia bukan hanya mengorganisasi, bukan hanya mengajar, tetapi juga memberikan informasi, membagikan pengetahuan, dan menyalakan api cinta bridge kepada seluruh pecinta olahraga ini.
Bagi publik bridge, ada dua nama yang begitu sibuk dan peduli menggelorakan olahraga ini—terutama lewat informasi dan publikasi: Chris Hombokau dan Bert Toar Polii, tokoh yang masih terus berkarya.
Keduanya selalu ingin agar bridge berkembang, tanpa pamrih, murni karena cinta yang tak pernah padam pada olahraga ini.
Chris Hombokau lahir dari dunia akademik yang kokoh. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), membentuk ketajaman logika dan struktur berpikirnya.
Kemudian, ia mengabdi sebagai dosen di Politeknik Manado, membimbing mahasiswa dengan disiplin dan dedikasi yang sama seperti ia membimbing para pemain bridge muda.
Di ruang kelas, ia menyalakan ilmu. Di meja bridge, ia menyalakan semangat. Dua dunia itu ia satukan, menjadikannya bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga seorang penggerak.
Saking cintanya pada olahraga ini, Chris Hombokau bahkan memberi nama putra tunggalnya dengan sebuah nama yang begitu identik dengan dunia bridge: Stayman.
Nama itu merujuk pada konvensi legendaris yang lahir dari rebid 2♣ setelah pembukaan 1NT—sebuah strategi untuk menanyakan apakah partner memiliki kartu mayor.
Bagi Chris, nama itu bukan sekadar panggilan. Ia adalah doa, harapan, dan warisan. Benar saja, Stayman Hombokau tumbuh dengan semangat bridge yang mengalir dari ayahnya, menekuni olahraga ini sejak muda, bahkan sempat mewakili Indonesia. Seakan darah dan napas Chris benar-benar berpindah ke generasi berikutnya.
Selain putra yang menjadi penerus, Chris meninggalkan istri tercinta, Novriana Amelia Pangemanan, yang selalu mendukungnya dengan penuh cinta dan kesetiaan. Di balik setiap langkah besar Chris, ada sosok istri yang menjadi penopang, dan ada anak yang menjadi alasan untuk terus berjuang.
Kini, rumah mereka dipenuhi bunga duka. Air mata bercampur dengan doa, kehilangan bercampur dengan kebanggaan. Keluarga kecil itu adalah saksi betapa besar cinta Chris Hombokau pada bridge, dan betapa dalam cinta mereka kepadanya.
Kepergian Chris Hombokau adalah luka yang sulit sembuh. Kita kehilangan seorang mentor, seorang sahabat, seorang visioner. Namun lebih dari itu, kita kehilangan jiwa besar yang selalu menempatkan kepentingan komunitas di atas kepentingan pribadi.
Warisanmu Selalu Abadi
Setiap orang yang pernah mengenalnya tahu: ia adalah sosok yang rendah hati, penuh semangat, dan tak pernah lelah memperjuangkan bridge. Ia hadir di setiap turnamen, di setiap pertemuan, di setiap ruang diskusi. Ia hadir dengan senyum, dengan ide, dengan energi yang seolah tak pernah padam.
Hari ini, meja bridge terasa kosong. Hari ini, kita menangis bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena menyadari betapa besar arti hadirnya bagi kita semua. Meski raganya telah tiada, warisan Chris Hombokau akan terus hidup.
Hari ini, kita menundukkan kepala, merasakan kehilangan yang begitu dalam. Namun di balik air mata, ada rasa bangga: karena kita pernah memiliki sosok seperti Chris Hombokau.
Selamat jalan, Sang Pejuang Bridge Indonesia. Dedikasimu adalah cahaya yang tak akan padam.(oka)
