Dilema dan Solusi Penolakan Timnas Israel

F. G. Tangkudung
27 Mar 2023 13:28
Sport 0 124
4 menit membaca

Pro kontra penolakan timnas Israel di Piala Dunia U-20 yang akan berlangsung (20/5-11/6)/2003 di Indonesia, kian runyam. Semua mata pecinta sepakbola dunia kini menyoroti Indonesia.

Indonesia sendiri menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021, kemudian batal dan berganti tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023.

Teranyar, FIFA membatalkan agenda Drawing Piala Dunia U-20 2023 yang rencananya berlangsung (31/3/2023) di Bali.

Bisa jadi, imbasnya Indonesia akan terkena sanksi dari FIFA karena gagal menjadi tuan rumah yang baik, sekaligus mengacaukan agenda resmi FIFA, apalagi ini ajang Piala Dunia Junior.

Ujung-ujungnya, tragedi Kanjuruhan plus semua borok sepakbola Indonesia akan kembali ke permukaan, dengan dalih pertimbangan sanksi.

Penolakan Timnas Israel ini sebenarnya datang karena PSSI sebagai induk organisasi tak peka atas kondisi Ipoleksosbud Indonesia sejak dini.

Potensi percikan api itu sudah bermula ketika Timnas Israel U-19 kalah dari Inggris 0-1, Sabtu (25/6/2022) di Stadion Mestsky, Slovakia pada pertandingan pamungkas Grup B Piala Eropa U-19.

Saat bersamaan, Timnas U-19 Serbia kalah 2-3 dari Timnas U-19 Austria. Itu berarti, Israel tetap menempati posisi runner up Grup B dan lolos ke Piala Dunia U-20 Indonesia.

Israel berhak maju ke Piala Dunia Indonesia bersama Inggris, Prancis, Italia dan Slovakia sebagai wakil Zona Eropa.

Sejak itu mulai ada penolakan meski masih berskala kecil jika Israel tampil di Indonesia. Sayangnya, PSSI tak peka dan abai berkomunikasi. Baik kepada FIFA, negara, terlebih warganet yang terhormat.

Alhasil, dua bulan jelang pergelaran PD U-20, isu Penolakan Timnas Israel makin melebar. Membelah masyarakat Indonesia yang awalnya memang sudah terkotak-kotak. Parahnya, ada yang terkesan menggunakan isu ini sebagai ajang pencitraan untuk kepentingan 2024.

Penolak punya argumen sendiri, tak mengakui Israel karena sebagai negara penjajah sejak era Bung Karno, blablabla… Sisi berseberangan juga punya alasannya, jangan mencampuradukkan olahraga dan politik. Itu urusan FIFA blablabla…

Mari kita bedah…

Semua sepakat jika tak menginginkan segala bentuk penjajahan. Tidak ada pertentangan sampai di titik ini.

Indonesia tak pernah mengakui Israel sebagai negara, sejak Israel memproklamirkan diri menjadi negara tahun 1948. Ada sekitar tiga puluhan negara yang tidak mengakui Israel sebagai negara.

Apa artinya? Jika Timnas Israel tampil di Indonesia dengan nama negara dan bendera, Indonesia secara terbuka mengakui Israel sebagai negara berdaulat, dengan status (Penjajah Palestina) yang melekat.

Jangan mencampuradukkan olahraga dan politik?

Sulit rasanya menepikan politik, ideologi apalagi prinsip negara ketika masuk dalam kompetisi olahraga dunia. Sejarah sudah membuktikan.

Indonesia bahkan pernah berada di posisi lebih sulit dari saat ini.

Tahun 1957, Timnas Indonesia di bawah asuhan Toni Pogacnik ikut kualifikasi menuju Piala Dunia Swedia 1958. Usai melewati atas Taiwan (WO)  di babak prakualifikasi, Indonesia berebut tiket dengan Tiongkok di Grup 1 setelah Australia mundur.

12 Mei 1957, Indonesia membungkam Tiongkok dua gol tanpa balas di di Stadion Ikada (Lapangan Monas), satunya lewat gol salto sensasional Ramang. Beberapa minggu kemudian, Tiongkok berganti menjadi tuan rumah dan menang 4-3.

Kedua tim harus menjalani pertandingan ketiga di tempat netral. Yangon, Burma (Myanmar) menjadi tempat pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol. Indonesia lolos lewat selisih gol lebih baik.

Indonesia maju putaran kedua, bergabung bersama Mesir, Sudan dan Israel. Namun, Indonesia bersama Mesir dan Sudan menolak bertanding melawan Israel, memilih mundur.

Israel lolos tanpa bertanding. FIFA mengubah peraturan, Israel harus bertemu tim  lain. Turki dan Belgia menolak, Wales bersedia. Hasilnya dalam dua pertandingan, Wales unggul total 4-0 dan menggagalkan impian Israel tampil di Swedia.

Piala Dunia Swedia 1958 menghadirkan Brazil sebagai juara dunia. Muncul juga bocah ajaib pemain terbaik saat itu bernama Pele.

Sayang memang, Indonesia dengan materi seperti Ramang, Ramli, Rukma, Danu, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, Sian Liong, Saari, Chaerudin dan kiper Maulwi Saelan sebenarnya begitu kuat. Sangat berpeluang tampil di Piala Dunia Swedia 1958.

Namun, prinsip, kehormatan negara serta solidaritas dan kesetiakawanan di atas segalanya. Indonesia memilih mundur dengan gagah daripada tampil mencoreng harga diri.

66 tahun berselang, situasi serupa kembali tersaji. Kini penolakan Timnas Israel menjadi fakta di tengah Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Menarik apa langkah dari PSSI dan Pemerintah. Memang, tak adil bagi para atlet Israel jika harus menemui kondisi seperti ini. Mereka hanya ingin berprestasi di dunia olahraga.

Satu-satunya solusi, tentu saja butuh keberanian PSSI dan Pemerintah Indonesia. Mengajukan syarat kepada FIFA.

Timnas Israel bisa mengikuti Piala Dunia U-20 di Indonesia tapi tidak boleh menggunakan nama dan bendera Israel. Hal ini sudah lazim di dunia olahraga. Mereka akan menggunakan bendera federasi international saat bertanding. Sama halnya, sejumlah atlet Rusia yang tampil di sejumlah kejuaraan. Mereka tak bisa menggunakan nama negara dan benderanya.

Tapi sekali lagi, ini butuh keberanian PSSI dan Indonesia ‘menekan’ FIFA sebagai syarat membolehkan Israel tampil di Indonesia. Risikonya, tentu saja FIFA menolak dan berujung sanksi berat.

Namun, masih segar di ingatan ketika Qatar sebagai tuan rumah piala Dunia 2022 dengan tegas, menenetapkan sejumlah syarat kepada FIFA. Mengubah tradisi FIFA yang sudah puluhan tahun atas nama syariah dan kehormatan.

Baca: Kesemrawutan Sepakbola Indonesia

Sekali lagi, hanya butuh keberanian, sedikit negosiasi dan siap menerima segala risiko dan konsekwensinya. (BangKipot)