Daya Beli Nasional Lesu, Ekonomi Sulut Meningkat

F. G. Tangkudung
15 Agu 2017 14:44
Berita 0 351
2 menit membaca

Omzet sektor ritel yang menurun belakangan ini disimpulkan banyak kalangan pengamat ekonomi sebagai tanda daya beli masyarakat sedang lesu.

Namun, hal tersebut ternyata tak berlaku di Sulawesi Utara. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya minat warga Sulut untuk terjun dalam pasar modal.

Dari data yang dirilis PT Bursa Efek Indonesia (BEI ) awal Agustus 2017, saat ini investor Pasar modal Sulut sebanyak 6.054. Jumlah tersebut mengindikasikan kenaikan sebesar 190 persen sejak 10 Tahun terakhir.

Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sulawesi Utara, Fonny The kepada manadopedia mengatakan, peningkatan jumlah investor, secara langsung mengindikasikan adanya peningkatan minat dari masyarakat Sulawesi Utara untuk mengambil untung dari pasar Modal.

“Sampai dengan saat ini di tahun 2017 transaksi pasar Modal di Sulut mencapai  Rp649 miliar,” katanya, Jumat (10/8/2017).

The manjelaskan, untuk meningkatkan peran masyarakat terkait pasar modal., pihaknya terus memberikan informasi yang terkait dengan dunia investasi, serta senantiasa berupaya meningkatkan jumlah investor pasar modal Indonesia.

“Kami bekerjasama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal (SPM) dan Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS),” ujarnya .

Sementara itu, transaksi Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut terus menciptakan transaksi yang signifikan.

Kepala Seksi Pengawasan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Arnold Kindangen mengatakan, pada PLKA ke-6, transaksi yang didapat mencapai  Rp7,74 Miliar. Jumlah ini terbilang tinggi jika dibandingkan dengan pelaksanaan PLKA Sebelum-sebelumnya.

“Transaksi ini didapat dari transaksi beberapa komoditi seperti,  Salak, Jagung, Kacang, Gula merah, Minyak, Kacang disco dan  daun seledri, “ katanya.  LEbih dalam dirinya menjelaskan, pelaksanaan pasar lelang memberikan keuntungan yang signifikan terhadap para petani.

“Dibandingkan dengan transaksi di pasar konvensional, di PLKA antara petani dan pembeli jelas mendapat keuntungan yang besar, “tegasnya.

PLKA, jelasnya merupakan wadah yang mampu mempertemukan pembeli dan penjual secara langsung tanpa ada perantara.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution tidak sepakat kondisi ekonomi sekarang dianggap lesu lantaran perlambatan konsumsi masyarakat Indonesia.

Menurut Darmin, penurunan daya konsumsi masyarakat pada pasar ini terjadi sejak akhir Juni 2017 karena masyarakat lebih memilih save keuangan karena masa lebaran, liburan dan tahun ajaran baru untuk anak sekolah datang bersamaan.

Penulis: Jawara S

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *