Cepat atau Lambat, Owo dan Owi akan Berselisih

F. G. Tangkudung
3 Feb 2024 04:43
Opini 0 177
4 menit membaca

Konstelasi politik Indonesia 10 hari jelang hari pemungutan suara makin memanas. Usai Mahfud MD resmi mundur dari jabatan Menko Polhukam, kini muncul reaksi keras dari elemen akademisi. Joko terlihat jelas memihak Bowo dan Gibran.

Terhitung sejumlah kampus, mulai dari UGM, UII, UII, Unand dan juga sejumlah institusi akademisi menyuarakan keprihatinannya atas kondisi bangsa saat ini. Intinya, mereka meminta Jokowi kembali ke jalan yang benar, menjalankan demokrasi sesuai khitahnya.

Semua sepakat, Jokowi dan sejumlah pejabat pemerintahan positif terkonfirmasi melakukan praktik merusak demokrasi. Joko selaku presiden dan sejumlah menterinya kini tak malu lagi menunjukkan keberpihakan kepada salah satu calon, tentu saja Prabowo-Gibran.

Ada anomali yang terbaca dalam semua pergerakan terstruktur, sistematis dan massif yang melibatkan pejabat pemerintahan. Apalagi, indikasi framing untuk bandwagon effect dari sejumlah lembaga survei.

Tampaknya memang ada kepanikan jika pasangan Prabowo-Gibran tak menang satu putaran. Mulai berkoalisinya dua pasangan calon lain, tampaknya menjadi kecemasan serius Joko sebagai masinis gerbong paslon 2.

Mari kita bahas lebih detail.

Dengan logika sederhana, seharusnya persentase suara pasangan Prabowo-Gibran sudah melewati 50 persen. Kekuatan tingkat kepuasan Joko dan elektabilitas Bowo, plus semua sumber daya berbasis kekuasaan, secara matematis sudah bisa memenuhi angka itu.

Cukup menjadi aktor di belakang layar, Joko harusnya bisa bermain Jogo Bonito. Lempar batu sembunyi tangan. Di depan publik Joko bisa tampil santun ala negarawan sejati sesekali melemparkan lirikan kode.

Namun, yang terjadi sebaliknya. Joko justru seperti tak bisa berpikir jernih lagi. Aura wajahnya juga kini berubah. Dia harus turun langsung menyerahkan beras dan amplop untuk mengemis suara, sebuah hal yang sungguh memprihatinkan.

Semua dimulai Putusan Anwar Usman di MK terkait Gibran dan Kaesang menjadi ketum PSI. Seolah Indonesia milik keluarga Jokowi.

Belum lagi, ulah para oknum menteri yang terlihat gamblang bermental penjilat. Pratikno, Airlangga, Zulhas, Bahlil, Erick dan Yaqut sejauh ini adalah enam nama yang terlalu mencolok. Tentu saja itu terbaca jelas para akademisi di sejumlah kampus.

Mungkin, jika kondisi seperti ini tak berubah sampai hari H, Prabowo-Gibran akan unggul. Tapi, kemungkinan besar TIDAK SATU PUTARAN. Jika toh berhasil menggapai suara di atas 50 persen, lihat saja akan berseliweran laporan dugaan pelanggaran Pemilu di man-mana.

Apa dampaknya?

Tentu ini akan menyerang psikis dan mental Prabowo. Secara fair, publik tahu tingkat nasionalisme dan patriotisme Bowo untuk Indonesia. Berlatar militer serta garis keturunan cucu dan anak tokoh yang berjasa bagi negeri, membuatnya Prabowo begitu berkharisma.

Selain itu, dia sportif dan gentle. Meski begitu ada sisi negatif Bowo, soal HAM, pengendalian emosi dan faktor kesehatan.

Kira-kira apa perasaan Bowo jika dia menang namun secara kasat mata terjadi banyak kecurangan?

Apa yang dia pikirkan jika harus kembali mengarungi pertarungan berat di putaran II?  Pasti pikiran dan perasaannya akan berkecamuk. Lelah, bingung dan pasti khawatir.

Tentu saja nama Joko akan mulai jadi perbincangan internal sebagai trouble maker. Seandainya saja, Bowo tidak berpasangan dengan Gibran, kondisi tidak akan serunyam ini. Bowo juga berpeluang bisa menang elegan dan bermartabat.

Ada fakta menarik yang terjadi di negara tetangga Filipina, beriringan dengan kondisi politik Indonesia jelang Pemilu. Memang ada banyak kesamaan yang terjadi.

Wakil Presiden Filipina sekarang adalah Sarah Duterte, anak mantan Presiden Rodrigo Duterte. Presiden Filipina sekarang adalah Ferdinand Marcos Jr (Bongbong) anak dari mantan presiden Filipina (1965-1986).

Sebelum Bongbong-Sarah terpilih tahun 2022, suasana sangat kondusif. Namun, akhir Januari 204 semuanya berubah. Kini keluarga Duterte berniat menggulingkan Bongbong.

Pasalnya, Bongbong tak melanjutkan sejumlah program Rodrigo. Makin parah, Rodrigo menuduh Bongbong bersekutu dengan legislatif akan mengamandemen konstitusi terkait masa jabatan. Kini keduanya saling kecam dan hina di depan jurnalis internasional. Memang tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan.

Hal ini sangat mungkin terjadi jika Prabowo menjadi Presiden. Dengan watak dan karakter Prabowo, tak sulit untuk menyingkirkan Joko. Sama halnya ketika Joko mengabaikan SBY sesaat setelah pelantikan dengan kereta andongnya di Monas.

Memang benar Bowo sekarang terus memberi hormat dan membungkuk di hadapan Joko karena merasa dirinya adalah bawahan. Wajar, jiwa militer dengan hierarki kepangkatan.

Takdir Berpihak kepada Anies 8aswedan

Tapi, bagaimana jika Bowo sudah menjadi Presiden? Masihkah dia mengiyakan mendengar perintah Joko?? Saat itu terjadi, orang mulai akan membicarakan tentang karma. Biar waktu yang menjawab… (fgt).

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *