Amnesia dan Playing Victim

F. G. Tangkudung
9 Jan 2024 23:10
Opini 0 189
3 menit membaca

Imbas debat kedua calon presiden RI 2024, masih terus berlanjut bahkan makin membara. Kini muncul tudingan amnesia dan playing victim. Kenapa?

Presiden Joko Widodo mengomentari debat tersebut. Mungkin, tak akan jadi masalah jika Joko berkomentar soal substansi kebijakan Kemenhan yang jadi objek serangan Anies dan Ganjar. Wajar, karena Bowo adalah menterinya dan kebijakan itu arahan dari Joko.

Namun, secara tak terduga Joko menilai debat tersebut hanya menampilkan saling serang personal dan tidak mendidik masyarakat. Joko bahkan menyebut perlu mengubah format debat Capres-Cawapres KPU.

Belakangan, KPU kukuh tak akan mengubah format debat karena sudah melalui kajian matang dan panjang.

Seketika di media sosial, pendukung pasangan 1 dan 3 kompak membully Joko. Banyak yang menyebut Joko amnesia, karena data Anies soal penguasaan 340 ribu Ha justru hanya sebuah pengulangan apa yang pernah Joko katakan kepada Bowo pada debat Capres tahun 2019. Soal lainnya, Joko juga disebut lupa soal etik tentang skandal di MK soal munculnya Gibran sebagai cawapres.

Pendukung pasangan 1 dan 3 balik menuding, Joko hanya membela Bowo karena kalah telak dalam debat tersebut. Mereka mempertanyakan juga posisi Joko sebagai kepala negara yang terlalu berpihak. Mulai dari turun bagi-bagi bantuan jelang Pemilu, makan bersama ketua partai pengusung Bowo dan ke luar negeri ketika HUT PDIP.

Secara kasat mata, publik mungkin sudah tahu arah dukungan Joko. Terlebih di paslon 2 ada anak kandungnya yang jadi Cawapres. Namun, yang membuat geram ketika bantuan milik negara justru menjadi alat politik untuk kepentingan paslon. Belum lagi terungkapnya banyak kecurangan dan keterlibatan oknum.

Selanjutnya, dua hari pasca debat kedua Capres kini banyak muncul di media sosial konten Bowo ketika tak berdaya meladeni Anies Ganjar dalam debat, dengan tampilan video wajah sedihnya.

Narasinya beragam, mulai dari Anies yang tak tahu berterima kasih hingga nilai negatif Anies Ganjar ketika menjabat Gubernur. Belum lagi,  soal etika dua orang muda yang tak tahu menghargai orang tua.

Strategi playing victim ini mengingatkan publik ketika elektabilitas SBY naik signifikan karena meminta simpati publik pada tahun 2004 jelang Pilpres.

Waktu itu, terbaca publik SBY dizalimi Megawati Sokarnoputri . SBY sebagai menteri Mega, kemudian mundur dari kabinet dan menantang Mega di kontestasi Pilpres pertama yang langsung dipilih rakyat.

Strategi playing victim SBY akhirnya berhasil meraup simpati mayoritas masyarakat Indonesia. Masyarakat kadung mencintai SBY karena berada di posisi inferior. Dia menjadi presiden RI VI (2004-2014).

Menarik menunggu sejauh mana keefektifan strategi playing victim untuk menutupi kekalahan telak Bowo dalam debat bisa meraih simpati publik mayoritas. Apalagi, penemu strategi playing victim itu berada di pihak Bowo.

Kita lihat nanti… (fgt).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *