oleh

Jangan Panggil Kami Gila

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia (10 Oktober) tahun 2022, mengambil tema cukup serius.

“Make Mental Health and Well Being for All a Global Priority”

Yup, Kesehatan Mental sebagai prioritas seluruh dunia. World Federation of Mental Health (WFMH) mengusung tema ini bukan tanpa alasan. Berdasar hasil pemungutan suara dan riset selama masa pandemi Covid-19, ada hasil mencengangkan.

75 persen penderita depresi di negara berpenghasilan tinggi, tidak mendapat perawatan memadai. Untuk negara berpenghasilan menengah dan rendah, malah lebih parah, tak mendapat penanganan sama sekali.

Sebenarnya, ada beberapa tingkatan gangguan kesehatan mental.

Mulai dari stres, Anxiety Disorder, Major depressive disorder (MDD), Post-traumatic stress disorder (PTSD), Bipolar dan Skizofrenia. Ada juga Attention Deficit Hperactivity Disorder pada anak-anak.

Itu belum temasuk kebiasaan aneh seperti Demensia, Obsessive Compulsive Disorder (OCD), Anoreksia nervosa, Bulimia nervosa, Binge eating disorder, dan lainnya.

Setali tiga uang, Organisasi Kesehatan Dunia/ WHO membeberkan, masa pandemi Covid-19 memicu tekanan jangka panjang dan mengganggu kesehatan mental banyak orang.

Tahun pertama Pandemi terjadi peningkatan gangguan kecemasan dan depresi sekita 25 persen. Faktor utamanya tentu saja masalah ekonomi, kesehatan dan kehilangan orang terkasih.

Data dua organisasi berkompeten itu jelas bemuara pada satu kesimpulan. Penderita gangguan kesehatan mental akan makin parah dan bertambah banyak.

Padahal, gangguan kesehatan mental kini menjadi penyumbang angka kematian terbanyak untuk penyakit tak menular, di belakang penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, gangguan pernapasan kronis dan ginjal.

Umumnya, penderita gangguan mental akan lari ke narkotika dan obat-obatan atau bunuh diri.

Apalagi, kecemasan utama dunia tahun 2023 adalah resesi global. Pandemi Covid-19, konflik Rusia-Ukraina, krisis energi, krisis pangan, serta inflasi yang terjadi bersamaan jadi penyebabnya.

Bisa terbayangkan berapa banyak penduduk yang akan kehilangan pekerjaan dan mencoba bertahan hidup dalam kesengsaraan.

Berapa persen dari mereka yang akhirnya stres dan depresi?

Penambahan fasilitas pelayanan kesehatan gangguan mental dan jumlah tenaga Pskiater/ Psikolog jadi sesuatu yang urgen. Juga anggaran untuk kesehatan mental yang selama ini hanya satu persen dari total anggaran kesehatan.

Baca Juga:  1 Juta Orang di GBK, Tanda Kekalahan Prabowo-Sandi

Namun, ada hal yang lebih penting dari ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Pendidikan kepada masyarakat tentang detail penyakit gangguan mental.

Yup, masalah terbesar soal penyakit ini adalah pengetahuan, tingkat literasi dan toleransi masyarakat yang sangat buruk.

Penderita gangguan kesehatan mental selalu bersinonim dengan Orang Gila. Akibatnya, terjadi diskiminasi dan muncul stigma negatif. Nantinya, itu akan berujung kepada perundungan, risak dan penindasan kepada penderita.

Baca: Resesi Global Mengancam 2023, Apa Sebab dan Akibatnya?

Hal tersebut membuat penderita gangguan kesehatan mental enggan jujur, risih bahkan malu mengakui soal kondisinya.

“Jangan Panggil Kami Gila”

Begitu kalimat memelas sekaligus permohonan, sebagian besar penderita gangguan kesehatan mental. Mereka hanya ingin lebih banyak orang mengerti soal kondisinya. Pun begitu, gangguan kesehatan mental bukan keinginan mereka. Mereka juga ingin sembuh, menjadi orang normal. (fgt)