oleh

Dewa Kipas Kalah Telak, Siapa Berbohong?

-Berita, Opini-950 kali dibaca

Dadang Subur alias Dewa Kipas kalah telak dari Irene Kharisma Sukandar. Lalu, siapa yang berbohong? Dewa Kipas atau anaknya?.

Pertandingan catur antara Dadang Subur alias Dewa Kipas melawan Master Internasional (MI) Irene Kharisma Sukandar, Senin (22/03/2021) berlangsung berat sebelah.

Dewa Kipas yang namanya melambung ketika mengalahkan MI Levy Rozman (GothamChess) asal USA, tak bisa mengimbangi permainan Irene. Dewa Kipas kalah telak. Skor 3-0 jadi bukti superioritas Irena Kharisma Sukandar.

Hasil pertandingan tersebut, membuat publik kecewa. Maklum, banyak pecinta catur dalam negeri yang ingin Dewa Kipas Menang.

Baca: Microsoft Sebut Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan, Lihat Imbasnya

Alasannya, Dewa Kipas mewakili pecatur yang lahir dari ‘pos ronda’. Sementara lawannya, sejak kecil sudah dijejali teori dari buku catur berjilid-jilid.

Belum lagi tontonan video dari zaman Paul Morphy, Emmanuel Lasker, Anatoly Karpov, hingga Magnus Carlsen.  

Kecuali itu, publik juga ingin membela kehormatan pecatur online asal Indonesia dari tudingan berlaku curang ketika menang melawan Rozman.

Tapi apa daya, dari tiga partai yang tersaji, tak ada langkah atau perlawanan berarti. Beda dengan keakuratan langkah nyaris sempurna di atas 90 persen milik Dewa kipas, ketika main di chess.com.

Publik pecinta catur sudah bisa membaca daya analisa dan langkah Dewa Kipas. Terlalu berbeda jauh. Dalam pertandingan itu tak ada langkah ala Alphazero atau Stockfish dari Dewa Kipas.


Dari pertandingan itu, jelas banyak pertanyaan mengapung. Hal itu seakan menjawab dan mengindikasikan Dewa Kipas menggunakan bantuan komputer, saat bermain online.

Publik mulai sepakat dengan hasil analisa tim fair play chess.com ketika mengevaluasi permainan Dewa Kipas, yang berujung akunnya kena blokir.

Dari pertandingan ini, netizen wkwk land atau warga +62, bisa memetik pelajaran berharga. Membela sesama warga Indonesia atas nama nasionalisme itu sangat penting.

Tapi, ada baiknya meneliti dan memahami masalah yang ada.

Baca Juga:  Sisir Sungai dan Sapu Laut, Cara FKPA Sulut Menyapa Alam

Pertandingan sudah selesai, Dewa Kipas sudah mengakui kehebatan Irene. Dia juga membawa hadiah dadakan Rp100 juta. Kasus yang jadi perhatian publik catur internasional kini selesai.

Namun, seharusnya tak cukup sampai di sini. Harus ada pengakuan, Dewa Kipas atau anaknya Ali Akbar, yang melakukan kebohongan. Sportif mengakui kesalahan.

Kehebohan ini sempat memantik emosi dan nasionalisme buta warganet asal Indonesia.

Terlepas dari hal tersebut, kasus ini memberi manfaat positif bagi dunia catur Indonesia. Baru kali ini, publik menunggu pertandingan catur, bahkan sebagian penontonnya tak tahu bermain catur.

Catur menjadi konten nonton bareng ala liga champion sepak bola.

Baru sekarang, ada pertandingan catur yang ditonton live lebih dari 1 juta penonton.

Salut juga atas inisiatif Deddy Corbuzier, yang bisa membuat pertandingan catur bisa menarik.

Semoga ini menjadi momentum, Indonesia bisa melahirkan juara dunia legendaris seperti Michael Tal, Bobby Fischer atau Garry Kasparov.

Minimal, bisa melahirkan pengganti Cerdas Barus, Utut Adianto atau Susanti Megaranto.

Jayalah Catur Indonesia. Gens Una Sumus. (fgt).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed