oleh

JWS, Matador Andalan Golkar Hadapi Amukan Banteng

-Berita, Opini-1.660 kali dibaca

“Jika ada PAW, (saya) tinggal dilantik. Tapi biarlah, saya lebih memilih bersama rakyat, daripada mengurus sesuatu yang tidak ada gunanya,” Jantje Wowiling Sajow

Tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut 2020, nyaris menyentuh garis akhir.

9 Desember 2020, masyarakat dari ujung Miangas hingga batas Pinagoluman akan menjadi pengadil, memilih pasangan yang akan menjadi nakhoda Sulut ke depan.

Dua pekan jelang hari pencoblosan, tanpa mengecilkan pasangan lain, praktis kini tertinggal dua pasang yang bakal bersaing ketat.

Usungan PDIP dan gerbongnya melawan koalisi Partai Golkar.

Head to head dua partai ini selalu menjadi pambahasan menarik tiada akhir.

Latar belakang dan sejarah panjang sejak masa orde baru, membuat perseteruan abadi tak terelakkan.

Pun begitu, yang terjadi di Pilgub Sulut 2020.

Situasi menarik, bermula dari eksodus beberapa elite partai Golkar Sulut mendukung pasangan usungan PDIP, Olly Dondokambey- Steven Kandouw (ODSK).

Sebut saja Jimmy Rimba Rogi (mantan Walikota Manado) dan Stevanus Vreeke Runtu (mantan Bupati Minahasa).

Keduanya juga pernah menjabat Ketua DPD Golkar Sulawesi Utara.

Beberapa figur terlihat mengambil langkah sama, meski nama mereka tak setenar Rogi dan Runtu.

Jelas, ini menjadi motivasi dan kekuatan baru bagi pasangan usungan PDIP. Pendukung pasangan ODSK makin jemawa dan semringah.

“Kemenangan tinggal tunggu waktu,” koar para militan dari akar rumput PDIP.

Yang jadi makin menarik, ada sosok yang memilih langkah kontras dengan situasi di atas.

Dia adalah Jantje Wowiling Sajow (JWS), mantan Bupati Minahasa yang juga pernah menjabat Ketua DPC PDIP Minahasa.  

Baca juga:  Kembali Pimpin Golkar, THL Calon Bupati Mitra 2024
Seakan merasa terpanggil, JWS akhirnya mendeklarasikan diri memilih pasangan usungan Golkar sebagai sikap politiknya.

Tak tanggung-tanggung, Sajow bahkan menerima pinangan untuk menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar di Pilgub Sulut 2020.

Mengulas tentang Sajow memang cukup menarik. Dari seorang guru, takdir mengantarkannya menjadi seorang bupati.  

Karir politiknya juga cukup mengundang telaah logika bagi mereka yang cermat.

Ketika menjabat Bupati kabupaten Minahasa 2013, Sajow menyeberang dari partai Golkar dan menjadi Ketua DPC PDIP Minahasa. Partai yang mengusungnya menjadi bupati kala itu.

Semasa Sajow menjabat Ketua DPC PDIP Minahasa, andilnya cukup signifikan. Dia berhasil meningkatkan kursi PDIP di DPRD Minahasa dalam dua kali Pileg.  

Namun yang paling krusial, adalah memenangkan pasangan ODSK di Minahasa dalam kontestasi Pilgub Sulut 2015 dengan persentase 66 persen suara.

Sayang, pada ajang Pilbup Minahasa 2018, PDIP ‘mengkhianati’ JWS.

Dia tidak diusung sebagai calon bupati, meski berstatus sebagai bupati petahana sekaligus ketua DPC PDIP Minahasa.

Sajow tak dendam, walau sempat berlinang air mata.

Waktu itu, ribuan masyarakat yang simpati kepadanya menyalakan ‘Lilin untuk JWS’ sebagai ungkapan kekecewaan sekaligus tonjokan satire kepada PDIP.

Sajow berusaha terlihat tegar. Dia tetap mengambil tanggung jawab dan turut mengantarkan pasangan usungan PDIP, Roy Octavianus Roring-Robby Dondokambey menjadi top eksekutif Kabupaten Minahasa 2018.

Ketika Pileg 2019, Sajow menjadi andalan PDIP mendulang suara. Tapi, 69.508 suara tak cukup membawanya duduk di DPR RI.

Dia berada di posisi 4, sementara PDIP hanya bisa mengirimkan 3 wakilnya.

Baca juga:  Mereka Merusak Hakikat Puasa

Jadilah JWS berada di posisi teratas dalam daftar tunggu jika ada Pergantian Antar Waktu (PAW) PDIP di DPR RI.

Usai kontestasi Pileg 2019, Sajow sejenak rehat.

Namun, jelang ajang Pilgub 2020, JWS kembali ke pentas politik dan mengambil sikap.

Dia menyatakan diri keluar dari PDIP, partai yang selama lima tahun dibesarkan dan membesarkannya.   

Dalam sebuah pernyataan, Sajow melontarkan kalimat penuh makna yang bisa diintepretasi beragam.  

“Jika ada PAW, (saya) tinggal dilantik. Tapi biarlah, saya lebih memilih bersama rakyat, daripada mengurus sesuatu yang tidak ada gunanya,” kata JWS.

Bagi yang mafhum politik, pernyataan itu jelas merujuk posisinya di PDIP. Tapi, tak ada yang tahu pasti makna kalimat terakhir dari pernyataannya itu.

Sajow kini diandalkan pasangan usungan partai Golkar di Pilgub 2020. Dia akan menjadi ‘matador’ mencoba meredam ‘amukan’ banteng di Minahasa.

Bukan kebetulan, Minahasa dengan DPT 248.003 suara, menjadi daerah dengan jumlah pemilih terbanyak kedua di Sulut setelah Kota Manado.

Kabupaten Minahasa bahkan menjadi target sebagai lumbung suara terbesar pasangan usungan PDIP dalam Pilgub 2020.

Diketahui, JWS adalah kader partai Golkar sejak tahun 1982. Dia terpilih menjadi anggota DPRD Minahasa tiga periode (1992-2003).

Partai Golkar juga mengusungnya ketika menjadi Wakil Bupati Minahasa mendampingi Stevanus Vreeke Runtu (2008-2013).

Pasangan CEP-Sehan dan seluruh pendukungnya saat ini menggantung harapan besar di pundaknya.

Mampukah JWS menahan kemenangan mutlak PDIP di Minahasa?

9 Desember 2020, jawabannya akan tersaji jelas.(redaksi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed