oleh

Menolak Lupa, ODSK Pernah Dihujat Publik karena Ahok

Pasangan Olly Dondokambey-Steven Kandouw (ODSK) maju lagi dalam kontestasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur 2020.

ODSK kembali diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan dukungan beberapa partai.

Mereka coba ditantang pasangan Christiany Eugenia Paruntu- Sehan Landjar yang diusung partai Golkar dan PAN, serta pasangan Vonny Panambunan -Hendry Runtuwene jagoan dari Partai Nasdem.

Baca: ODSK Menang Pilkada 2015 karena Faktor Jokowi, Sekarang?

Sebagai pasangan petahana, ODSK cukup banyak berbuat untuk kemajuan Sulawesi Utara.

Jelas, banyak suka dan duka yang telah dilewati pasangan ini. Sering mendapat pujian namun tak jarang juga mendapat cacian.

Mungkin, yang masih terngiang di benak ODSK adalah ketika pasangan ini dihujat habis-habisan masyarakat Sulut.

Hal ini bermula ketika Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw dimintai tanggapan soal putusan majelis hakim terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama.

“Ahok divonis dua tahun, setuju, bagus,” katanya Selasa (9/5/2017) di Manado.

Akibatnya, mayoritas warga Sulut yang saat itu bersimpati dengan Ahok, langsung menyerang pasangan top eksekutif Sulut tersebut.

Potongan videonya yang viral menjadi dasar bullyan kepada Olly-Steven.

Tak terhitung jumlah cacian, makian dan sumpah serapah yang ditujukan kepada keduanya di media sosial.

Publik Sulut waktu itu, merasa Kandouw tak mempunyai empati dan tidak bersimpati dengan apa yang dialami Ahok.

Tanggapan Kandouw waktu mungkin cukup menyakitkan, namun bagi mereka yang objektif, sebenarnya pernyataan itu cukup beralasan.

Pada penjelasannya, Kandouw mengatakan hal tersebut merupakan pembelajaran, agar semua orang tidak memperalat agama apalagi menistakan agama.

Baca juga:  Jangan Geer dan Baper dengan Dukungan UAS

“Ini sisi baik dari vonis Ahok, supaya jadi warning untuk semua, agar tidak memperalat agama. Jangan main-main dengan agama, memperalat apalagi menistakan. Tangkap orangnya,” kata Kandouw.

Kandouw juga waktu itu menyesalkan ada pihak yang sengaja memperkeruh keadaan dengan menyebarkan video tak utuh.

“Pernyataan saya yang utuh kemudian dipotong dan disebarkan. Ada juga muncul FB atas nama saya, padahal saya tidak punya akun FB. Namun saya anggap itu risiko politik,” jelasnya.

Kandouw menjelaskan kata bagus dalam pernyataannya, bukan untuk mensyukuri vonis itu apalagi tidak berempati dengan Ahok.

“Bagus, yang pertama Presiden Jokowi tidak mengintervensi. Kedua itu mengakhiri huru-hara terkait Pilkada DKI Jakarta yang bisa mempolarisasi masyarakat di daerah. Jangan sampai mengarah ke konflik horizontal,” jelasnya.

Dia juga meminta warga Sulut untuk jernih, jangan berlebihan membawa keriuhan di luar daerah masuk ke Sulawesi Utara.

“Sulut adalah laboratorium kerukunan Indonesia, bahkan dunia. Jangan simpati berlebihan malah merusak kerukunan di daerah,” pintanya.

Baca: Catatan Ringan Usai Debat I Pilgub Sulut

Kandouw berharap agar semua orang yang menghina atau menistakan agama lain dihukum berat tanpa tebang pilih. (redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed