oleh

ODSK Menang Pilkada 2015 karena Jokowi, Sekarang Bagaimana?

Pasangan Olly Dondokambey-Steven Kandouw (ODSK) maju lagi dalam kontestasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara 2020.

Baca : Catatan Ringan Usai Debat I Pilgub Sulut

Dwitunggal Sulut ini kembali dipercaya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan dukungan beberapa partai.

Mereka coba ditantang pasangan Christiany Eugenia Paruntu- Sehan Landjar yang diusung partai Golkar dan PAN, serta pasangan Vonny Panambunan –Hendry Runtuwene jagoan dari Partai Nasdem.

Kala 2015, saat pertama kali terpilih, pasangan ODSK meraih kemenangan telak atas dua kompetitornya. ODSK meraih 647.252 atau 51,41% suara. Mereka menang di 11 kab/kota se-Sulawesi Utara.

Jumlah suara ini jauh meninggalkan capaian jagoan Partai Golkar, Benny Mamoto-David Babihoe yang hanya meraih 389.463 suara atau 30,94%.

Tercecer di peringkat tiga, usungan Partai Gerindra Maya Rumantir-Glen Kairupan cuma meraih 222.233 suara atau 17,65%.

Namun, hasil tersebut banyak disebut sebagai Coat Tail Effect figur Presiden Joko Widodo.

Bukan hanya di Sulut, pada Pilkada 2015, PDIP tampil perkasa dengan memenangkan 114 usungannya, 93 Bupati/wakil, 18 walikota/wakil dan 3 Gubernur/wakil.

Banyak kepala daerah se-Indonesia yang terpilih di Pilkada 2015 karena kebagian simpati publik untuk Jokowi.

Diketahui, dalam Pemilihan Presiden 2014, Joko Widodo-Jusuf Kalla tak terbendung menjadi pucuk eksekutif RI.

Waktu itu, publik begitu kagum bahkan mengarah pengkultusan, dengan penampilan Jokowi yang sederhana, merakyat dan pekerja keras.

Hal itu juga berimbas kemenangan untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Pemilihan Umum 2014.

Baca juga:  Maestro Politik Indonesia itu Bernama SBY

Saat itu, Partai moncong putih ini meraih 23.681.471 suara atau 18,95 persen.

PDIP menjadi pendulang suara terbanyak meninggalkan akumulasi suara Partai Golkar (18.432.312 suara atau 14,75%) dan Partai Gerindra. (14.760.371 suara atau 11,81%).

Pada Pemilu 2019, lagi-lagi PDIP tampil sebagai pemenang. Partai ini meraup 27.053.961 suara atau 19,33 persen.

Jumlah suara ini mengalahkan suara yang diraih Partai Gerindra (17.594.839 atau 12,57 %) dan Jumlah suara Partai Golkar (17.229.789 atau 12,31 persen).

Dari hasil itu, hampir bisa digeneralisir, pemilih Jokowi secara bersamaan bersimpati dengan calon anggota legislatif dari PDIP.

Namun, pada Pilkada 2020 banyak pihak meyakini, PDIP tidak akan superior. Jokowi Effect sudah tak berlaku.

PDIP dan Jokowi kini tak lagi terkesan identik.

Apalagi banyak sikap dan pernyataan elite PDIP yang kontroversial yang memantik resistensi publik.

Sebut saja, Puan Maharani soal Sumbar yang tidak pancasilais dan kasus mati mic, Adian Napitupulu yang menyerang Erik Thohir Menteri Jokowi, dan terakhir sang Ketum, Megawati Soekarnoputri yang mempertanyakan sumbangsih milenial.

Belum cukup, masih ada Arteria Dahlan dan Dewi Tanjung yang super kontroversial.

Hal-hal tersebut jelas akan mempengaruhi sekaligus menggerus suara PDIP di Daerah.

Kini, pilihan publik jelas akan lebih rasional dengan mempertimbangkan rekam jejak para calon.

Namun, harus diakui mesin partai PDIP, masih jauh militan dan unggul dibanding partai lain.

Jawabannya akan terbentang 9 Desember 2020 nanti. (redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed