oleh

Maradona, Dewa Sepakbola si Tangan Tuhan

-Bola-1.363 kali dibaca

Pada Piala Dunia 1986, semua publik sepakat jika turnamen tersebut merupakan pertunjukan kehebatan Maradona.

Pada Piala Dunia 1990, Italia menjadi tuan rumah piala dunia.

Ketika babak semifinal, tuan rumah bersua dengan Argentina. Partai tersebut digelar di stadion kebangggan masyarakat Napoli, San Paolo, Naples.

Bukannya mendukung Italia, suporter italia lebih memberikan semangat kepada tim lawan, Argentina. Alhasil, Argentina akhirnya melaju ke babak final piala dunia 1990 setelah menang drama adu penalti atas Italia.

Ternyata alasan pendukung tuan rumah ‘membelot ‘ adalah sosok boncel bernomor punggung 10, dialah Diego Armando Maradona.

Dia memang begitu dicintai publik Napoli bahkan Italia. Maradona memberikan gelar Scudetto kepada Napoli dua kali.

Dua kali juga Napoli tampil sebagai runner up. Selain itu, dia mengantarkan Napoli juara piala UEFA.

Di Napoli Maradona menemui puncak kesuksesan karirnya setelah piala Dunia 1986, bahkan dia dianggap seperti dewa sepakbola oleh publik Napoli. Dia juga kini diangkat menjadi duta tim Napoli.

Selain itu dia dibuatkan patung pada perayaan 30 tahun mengenang Scudetto Napoli tahun 2017. Maradona pun akan diberikan penghargaan sebagai warga negara kehormatan di Napoli dan Italia.

Hingga kini Maradona selalu dibandingkan dengan bintang besar Brazil, Pele.

Selalu ada perdebatan mengenai siapa yang terbaik antara keduanya.

Dalam penganugerahan pemain terbaik abad 20, FIFA akhirnya memberikan gelar bersama kepada keduanya. Namun, dari hasil polling lewat internet, Maradona terpilih sebagai pemain terbaik  pilihan publik.

Bakat besarnya sudah terlihat sejak usia 10 tahun, saat itu pemandu bakat tim Agentinos Juniors menemukannya.

Karena bakat besarnya, Argentinos Junior menjadikannya mascot klub, yang bertugas menghibur penonton lewat aksi juggling saat jeda pertandingan Argentinos Junior di divisi utama Argentina.

Setelah itu dia akhirnya bergabung dengan klub Boca Juniors, yang berhasil dibawanya menjuarai liga.

Tahun 1979, Maradona muda berhasil membawa Argentina menjadi juara piala dunia U-20 di Jepang.

Baca juga:  Timnas U16, Jangan Emosional dan Boros Peluang (lagi)

Saat itu dia makin menunjukkan bakat besarnya. Tiga tahun berikutnya, Maradona dipanggil ke timnas Argentina senior  untuk mengikuti piala Dunia 1982.

Tapi pemain mungil ini masih labil emosinya, dia pun terkena kartu merah saat melayangkan tendangan kungfu kepada lawannya.

Pasca Piala Dunia 1982, dia kemudian menuju FC Barcelona dengan harga 5 juta pounsterling, yang merupakan rekor dunia pada saat itu.

Dengan pelatih  pelatih César Luis Menotti, Barcelona bersama Maradonanya menjuarai Copa del Rey mengalahkan Real Madrid di final serta memenangkan Piala Super Spanyol, mengalahkan Athletic de Bilbao.

Dari Spanyol, Maradona kemudian hijrah ke Italia menuju Napoli tahun 1984.

Pada Piala Dunia 1986, semua publik sepakat jika turnamen tersebut merupakan pertunjukan kehebatan Maradona.

Tim Argentina yang diarsiteki pelatih Carlos Bilardo seperti bermain untuk Maradona semata.

Yang paling diingat, adalah ketika babak perempat final, Maradona mencetak gol yang sangat indah.

Dari tengah lapangan, dia melakukan drible menyisir sayap kiri pertahanan inggris melewati melewati lima pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) kemudian menaklukkan kiper nomor satu Inggris, Peter Shilton dalam rentang waktu hanya 10 detik.

Gol ini kemudian dinobatkan menjadi gol terbaik sepanjang masa oleh FIFA.

Tak berapa lama, dia kembali mencetak gol yang tak kalah terkenal dengan gol pertamanya. Sebuah kemelut di depan gawang inggris, membuat Maradona dan Shilton harus berduel.

Meski kalah tinggi Maradona berhasil membuat bola bersarang ke gawang Inggris menggunakan kepalannya tanpa terlihat oleh wasit.

Gol ini terkenal dengan sebutan gol “Tangan Tuhan”. Wajar hingga saat ini publik Inggris masih membenci Maradona karena gol tersebut.

Di partai Final, dia menjadi inspirator kemenangan Argentina atas Jerman Barat.

Atas pertunjukkan luar biasanya di piala dunia Meksiko, hingga saat ini patung Maradona masih berdiri tegak di depan pintu stadion Azteca, Meksiko.

Baca juga:  Generasi Emas Belgia Ingatkan Prancis 98

Pada piala dunia 1990, sempat membawa Argentina ke babak puncak, Argentina harus takluk oleh Jerman Barat lewat gol tunggal Andreas Brehme dari titik penalti.

Selama pertandingan ini, dia tidak bisa berbuat banyak karena terus dikawal ketat ala perangko oleh Guido “Diego” Buchwald.

Usai partai Final, Maradona menangis terisak karena kegagalan tersebut.

Pada Piala dunia 1994, meski sempat bermain apik dalam partai pertama melawan Yunani, Maradona akhirnya gagal dalam tes doping.

Argentina yang berjuang tanpa sang kapten akhirnya harus angkat koper lebih awal. Piala dunia 1994 menjadi akhir cerita Maradona sebagai pemain di arena piala Dunia.

Atas semua prestasinya, PSSInya Argentina, AFA mengusulkan kepada FIFA untuk mempensiunkan nomor 10 untuk menghormati jasa dan kehebatannys.

Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan FIFA. Argentina juga membuatkan patung Maradona di Buenos Aires untuk mengenang kehebatannya. Namanya juga kini diabadikan sebagai nama stadion milik Argentinos Juniors, klub pertama Maradona.

Tahun 2010, dia kembali mengikuti Piala Dunia. Namun kini dia datang dengan status pelatih Argentina.

Sempat tampil menjanjikan di awal turnamen, dia kembali harus merasakan kesedihan yang diciptakan timnas Jerman. Argentina dihancurleburkan empat gol tanpa balas.

Kisahnya memang bukan hanya di dalam lapangan, di luar sepak bola kehidupannya begitu menyita perhataian.

Selain terjerumus ke dalam penyalahgunaan Narkoba, dia juga bermasalah dengan berat badannya yang sempat naik hingga di atas 100 Kg.

Selain itu dia juga terkenal gonta-ganti pasangan dan beberapa kali menikah.

Namun, bagaimanapun kontroversial kehidupannya, Maradona telah membuat sepak bola ini menjadi lebih indah.

Semua anak di belahan dunia ingin mengikuti jejaknya ketika bermain sepak bola.

Dia memang menjadi dewa dalam sepak bola. Meninggalkan semua kisah indah dan kontroversi yang membuat banyak orang mencintai sepak bola.

Maradona memang terlahir sebagai pesepakbola sepanjang masa.

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed