oleh

Ketika Orang Tua tak Sempat Beri Salam Perpisahan

Makin nestapa, ketika penyakit memburuk. Tak sempat orang tua berpesan atau sekadar mengucap salam perpisahan.

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) belum berakhir. Semua daya ikhtiar sudah dilakukan namun kurva jumlah para terjangkit tak kunjung melandai. Korban jiwa terus bertambah.

Saat bersamaan, masyarakat mulai pasrah. Terus berdiam diri di rumah punya konsekwensi lain. Kebutuhan keluarga tak bisa lagi terpenuhi. Bantuan pemerintah jauh dari kata cukup, itu pun kalau kebagian.

Lahirlah solusi sekaligus jalan tengah. Kembali ke kehidupan normal namun dengan cara yang baru, dengan Social and physical distancing. New Normal sebutan lain untuk kehidupan abnormal, jauh dari kenormalan biasa.

Kehidupan New Normal, berbeda jauh dari hidup sebelumnya. Banyak hal yang akan berubah. Yang mencolok, tak ada lagi jabat tangan, apalagi pelukan dan cipika- cipiki. Meski antar sahabat dan sang karib.

Yang menyedihkan, adalah ketika para orang tua, kakek-nenek, para lansia mulai menarik diri dari kehidupan sosial. Dengan anak, cucu apalagi dengan para tetangga.

Mereka sadar, mereka masuk kategori paling rentan. Dengan rasa kasih sayang, mereka mengalah, tak ingin menjadi penyebar. Membentengi diri sekuat mungkin, agar tak sakit dan menjadi beban. Sedih…

Pada akhirnya, usaha optimal itu harus jebol karena faktor imunitas yang sudah lemah dan daftar riwayat penyakit bawaan seperti Diabetes, Ginjal, PPOK, atau yang lainnya.

Banyak juga adegan sedih bak kisah sinetron ketika para pasien lansia yang terpaksa masuk RS. Demam tinggi atau sesak nafas, meski bukan positif Covid19, mereka harus dirawat sesuai protap Covid19.

Ketika masuk ruang perawatan, itulah saat terakhir para anggota keluarga bisa mendekat. Selebihnya, hanya bisa melihat lewat kaca, CCTV atau lewat telepon dengan perantara petugas medis.

Makin nestapa, ketika penyakit memburuk. Tak sempat orang tua berpesan atau sekadar mengucap salam perpisahan.

Pun keluarga, tak ada lagi kesempatan melihatnya juga. Hingga jenazah masuk liang lahat, hanya tatapan dari kejauhan yang dibolehkan.

Baca Juga:  Jokowi Salah Memilih Diksi, Publik Teringat Ahok

MUNGKIN inilah cara Tuhan, memberi penjelasan gamblang soal singkatnya kehidupan fana ini. Kehidupan normal yang dulu, tak akan pernah kembali seperti sedia kala.

Kebersamaan dengan orang tua berlalu terlalu cepat. Padahal rasanya baru kemarin, dalam ninabobo pelukan mereka. Atau dengan orang terkasih lainnya.

Baca juga: Ramadan dan Lebaran Paling Membekas

Entah kapan cobaan, teguran dan hukuman ini akan berlalu, hanya DIA yang tahu. Tuhan, Ampuni kami… (kay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed