oleh

Pembukaan Sekolah Terlalu Cepat, Perjudian Terbesar Pemerintah

-Opini-442 kali dibaca

Akhir Mei 2020, Pemerintah Indonesia nampaknya sudah bulat tekad berdamai dengan Corona Virus Disease 2019 (Covid19). Melihat amunisi tersisa, tak ada harapan menang jika terus melakukan karantina mandiri #DiRumahAja.

Penyebaran virus mahkota ini, dari sejumlah riset, memang tak akan berakhir dalam waktu dekat ini. Tak ada yang bisa memastikan. Vaksin dan obatnya pun masih dalam tahap penelitian.

Berkaca langkah sejumlah negara, pemerintah Indonesia sudah melakukan persiapan memasuki fase kehidupan baru. Kehidupan yang berbeda (Different life) tapi direkayasa dengan istilah ‘kehidupan normal yang baru’ (New Normal).

Roda penggerak ekonomi nasional kembali akan bergerak. Coba bangkit dari keterpurukan, usai dua bulan pincang, bahkan vakum. Keluar dari krisis dan karut marut. Harus diakui, itu adalah pilihan terbaik. Mengambil risiko untuk menghindari akibat yang lebih buruk.

Pun dengan pembukaan tempat ibadah. Sudah lama tak ada salat berjamaah atau salat jumat. Bahkan, ramadan dan Idul Fitri tahun ini, tanpa tarwih dan salat Id. Juga ibadah di gereja, pura dan vihara. Masih ada pro kontra tentang pembukaan tempat ibadah.

Baca juga: Ramadan dan Lebaran Paling Membekas

Dengan kurva yang tak kunjung melandai, entah sampai kapan umat terus terkungkung dengan kerinduan beribadah di ‘Rumah Tuhan’. Sudah saatnya melihat dengan paradigma dan sudut pandang berbeda. Dengan kacamata teologi dan spiritual.

Virus ini berasal dari Sang Maha Pencipta. Ada maksud dan kebaikan untuk umat manusia di balik bencana ini. Kini waktunya meresapi makna paradoks dan antitesis pandemi ini, sebagai teguran atau hukuman.

Tempat ibadah harus dibuka, kembali mengagungkan nama Ilahi. Ibadah yang sebenarnya, hubungan hamba dan Pencipta, murni dari kalbu dan sukma. Jangan lagi rumah ibadah bergeser fungsi sebagai tempat ghibah, riya atau modus politik.   

Selanjutnya, yang paling ramai disorot adalah pembukaan sekolah yang dijadwalkan sesuai tahun ajaran baru. Itu berarti proses penerimaan akan dibuka bulan Juni.

Baca Juga:  Publik Akan Nilai SBY Ada di Belakang Andi Arief

Berbeda dengan ekonomi dan religi, pembukaan sekolah untuk anak-anak, terlebih usia pendidikan dasar, masih terlalu berisiko. Pola pikir usia anak-anak, jelas tak bisa disamakan dengan dewasa.

Dalam dunia anak-anak, bermain adalah kesenangan hakiki. Jelas SOP jaga jarak pasti akan terlupakan begitu saja, ketika anak sudah berkumpul. Sangat sangat riskan dan rentan saling menularkan. Kejadian di Perancis bisa menjadi pelajaran berharga.

Jika masih kukuh membuka sekolah terlalu tergesa, bisa jadi ini menjadi perjudian terbesar pemerintahan Jokowi-Amin. Banyak beredar juga penolakan masif dan sejumlah petisi dari para orang tua.

Tak cukup, data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia bisa membuat para orang tua makin bergidik.

Ternyata lebih dari 500 anak positif Covid19 dengan 14 yang meninggal dunia. Itu belum dihitung dengan 3000-an anak yang menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan 129 kasus yang berujung kematian.  

Tak ada salah dan rugi menunda tahun ajaran baru, hingga semuanya benar-benar terkendali.

Pemerintah tak bisa berjudi untuk hal ini. Karena ketika semuanya sudah terlambat, penyesalan tak lagi berguna.   

Anak-anak itu masih terlalu polos, untuk memahami situasi ini. Apalagi jika harus menjadi korban sia-sia akibat kebijakan yang salah. 

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed