oleh

Suara Jokowi Bisa Kena Tikung ala Syahrini

Hari pemungutan suara Pemilihan Presiden RI 2019 praktis tinggal tersisa kurang lebih sebulan.

Berbagai lembaga survey masih mengunggulkan pasangan 01, Jokowi-Ma’ruf Amin dengan keunggulan di kisaran 15-20 persen.

Namun, hal ini bisa menjadi bumerang bagi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi –Ma’ruf yang kelihatan mulai berleha-leha. Mereka mulai terlena dengan keunggulan dari sejumlah survei.

Mereka bahkan mulai mengalihkan konsentrasi kepada pemenangan partai masing-masing dalam pemilihan Calon Anggota Legislatif (Caleg).

Di lain pihak, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga terus melancarkan berbagai strategi demi meraup suara.

Terbaru, kampanye Prabowo di Madura, Jawa Timur mulai bikin tim sukses pasangan 01 bergidik. Puluhan ribu orang menyemut menyambut kedatangan mantan Danjen Kopassus tersebut.

Padahal, wilayah ini diklaim sudah diamankan La Nyalla Mattalitti bahkan dengan jaminan potong leher.

Dalam waktu hampir bersamaan puluhan purnawiran TNI dan polisi serta politisi kembali memberikan dukungan untuk pasangan 02 di Jawa Tengah.

Jawa Timur dan Jawa Tengah diketahui merupakan basis utama suara Jokowi-Ma’ruf Amin. Melihat perkembangan, suara Prabowo-Sandi di dua daerah ini makin menguat dan terus menggerus suara Jokowi-Ma’ruf.

Jika hal ini tak diantisipasi lebih dini, Prabowo-Sandiaga kemungkinan akan menipiskan kekalahan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan perhitungan, menang  di Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan Sumatera, Prabowo-Sandiaga berpotensi menang Pilpres di tikungan terakhir.

Mari kita tilik lebih dalam. Dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, harus diakui struktur dan strateginya lebih tepat sasaran. Prabowo dan Sandiaga sudah berbagi segmen yang akan dituju.

Lihat saja, Prabowo selalu menyasar tokoh agama dan para elite. Sementara Sandiaga lebih banyak menyapa para emak-emak serta pelaku ekonomi.

Entah merupakan bagian resmi, dalam tim pemenangan Prabowo-Sandi juga melibatkan para pemain ‘isu receh’ termasuk penyebar black campaign dan hoax. Teranyar, Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandiaga Uno (PEPES) yang masif menyebarkan ketakutan terhadap masyarakat kalangan bawah soal larangan azan, dan pelegalan LGBT.

Baca Juga:  Setya Novanto yang Layak Dapat Oscar

Gerakan ini memang bertujuan untuk mengulur waktu, agar tim Jokowi-Ma’ruf lebih sibuk meng-counter isu receh,ketimbang memetakan konstelasi suara terbaru.

Dari data sejumlah lembaga survei, memang suara Jokowi-Ma’ruf masih cukup unggul. Namun hal yang perlu digarisbawahi adalah peningkatan suara di antara dua pasangan calon.

Pasangan 01 relatif stagnan bahkan cenderung menurun, sementara pasangan 02 terus mengalami kenaikan terlebih dalam segmen kaum terpelajar.

Harus diakui, banyak emak-emak Baper dan mulai bersimpati terhadap pergerakan Sandiaga yang memainkan peran ‘Si konyol’ baik hati dan merakyat.

Pernyataan tentang tempe ATM atau foto berambut petai itu memang sengaja dilemparkan untuk mempengaruhi afeksi para pemilih.

Kini publik akan menanti, ‘perang total’ dua kubu yang akan bertarung hingga 17 April mendatang.

Jika Kubu Jokowi-Ma’ruf tak waspada dan menganggap itu sebagai ancaman, bisa jadi suara yang dulunya leading akan kena tikung ala Syahrini.

We’ll Wait and See…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.