oleh

Patriotisme ala Jenderal Visioner, Pemegang 7 Rekor Dunia

Hari masih gelap, namun sekelompok anak muda sudah bersiap dengan bekal masing-masing. Pagi itu mereka akan akan mendaki gunung Soputan di Manahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Sebagian malah sudah bermalam dan membuka tenda lebih dahulu.

Melewati tantangan dan halangan yang tidak mudah, mereka akhirnya berhasil menaklukkan jalan terjal. Sampai di puncak, segala persiapan langsung dilakukan. Sebuah bambu seujung berdiri di antara pohon-pohon besar, yang akan menjadi  tiang bendera.

Usai semuanya siap, tampak puluhan anak muda Sulawesi Utara berbaris rapi dalam barisan. Mereka ternyata akan melakukan upacara pengibaran sang merah putih dari puncak Gunung Soputan.

Ya, hari itu adalah peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2018.

Tak berapa lama, masuk seorang pria berkacamata dengan rompi hitam sebagai Inspektur upacara. Meski sudah purnatugas dari institusi kepolisian RI, perawakannya tetap tegap dan berwibawa.

Sosok itu adalah Irjen (Purn) Benny Josua Mamoto. Dulu, dia dikenal sebagai polisi yang malang melintang dalam pemberantasan narkoba, teroris dan kejahatan lintas negara.

Usai upacara, sejumlah peserta sumringah menjadi bagian dari upacara unik tersebut. Tak ada guratan capek di wajah mereka, yang ada rasa bangga menjadi pemuda Indonesia.

Upacara di atas Gunung Soputan ternyata ide sang jenderal kalem itu. Motivasinya, ingin mengajak anak-anaknya untuk merasakan tantangan dan kesulitan para pejuang, saat merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam amanatnya, Mamoto mengajak generasi muda untuk berjuang versi kekinian. Caranya, belajar dan bekerja dengan serius agar bisa berdaya saing, menjadi generasi handal untuk bangsa.

Baca juga:  Operasi Zebra Bergulir, Pelayanan SIM di Mantos Ramai

Ide unik yang mengundang sikap patriotisme seperti itu ternyata bukan hanya sekali keluar dari otak brilian sang jenderal.

Sewaktu masih aktif di BNN, Mamoto juga pernah membuat ide dengan membentangkan bendera Merah Putih mengelilingi pulau terluar Indonesia di bagian utara, Pulau Miangas.

Saat itu, ribuan pemuda di daerah terluar membentangkan bendera Merah Putih mengitari Pulau Miangas dengan garis pantai sepanjang lebih dari enam ribu meter.

Sebagai Direktur BNN, Mamoto ingin menanamkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Hal itu juga perlambang perhatian negara untuk Pulau Miangas sebagai jalur terluar, yang rawan penyelundupan narkotika dan obat-obat terlarang.

Pernah juga, ketika ramai isu musik kolintang dan musik bambu diklaim negara lain. Benny Mamoto yang terkenal begitu memperhatikan budaya Sulut, langsung bereaksi.

Dia menggelar permainan kolintang dan musik bambu massal di Sulawesi Utara. Sekitar lima ribu orang memainkan dua musik asal kawanua itu.

Pergelaran itu bahkan diganjar Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Rekor dunia Guinness. Langkah visioner itu langsung menjadi penegas kolintang dan musik bambu budaya asli Sulawesi Utara. Hal itu final, mengikat dan tak terbantahkan.

Mamoto bahkan mengoleksi 30 rekor MURI dan 7 Rekor Dunia Guinness, lintas bidang mulai dari seni budaya, kuliner, pendidikan, produk Sulawesi Utara. Jumlah itu mungkin menjadikannya penerima/pemrakarsa rekor terbanyak di Indonesia.

Sejumlah penghargaan tersebut tak membuatnya besar kepala. Baginya itu merupakan tanggung jawab dan amanah sebagai putra daerah, untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed