oleh

Pengucapan, Tradisi Minahasa yang Mirip Thanksgiving Day

Pengucapan adalah penyebutan singkat untuk ‘Hari Pengucapan Syukur’ yang merupakan budaya warga Kabupaten Minahasa sejak lama.

Awalnya, budaya ini sebagai bentuk ungkapan syukur pemerintah dan masyarakat desa atas keberhasilan panen padi dan hasil pertanian lain.

Baca: Tulude, Warisan Leluhur Nusa Utara yang Sarat Makna

Seluruh warga desa akan membawa makanan atau hasil pertanian mereka ke gereja, lalu masyarkat akan makan bersama.

Hal ini sebagai bentuk ucapan syukur kepada Sang Pemberi Rezeki yang telah memelihara lahan pertanian dan memberikan hasil pertanian berlimpah.

Ini menggantikan kepercayaan masyarakat masa lampau sebagai ucapan syukur untuk para dewa.

Makanan olahan dari masyarakat akan bersatu pada meja panjang di halaman gereja. Hal ini melambangkan, pengucapan syukur kepada Tuhan. Masyakarakat akan makan bersama, termasuk tamu yang datang dari jauh.

Meja panjang mengingatkan hakikat persatuan, hal yang tetua adat ajarkan sedari dulu. Aneka macam masakan yang berada di meja, menjadi simbol penegas agar masyarakat desa selalu berbagi rezeki dengan orang lain.

Usai acara di gereja selesai, warga desa akan kembali ke rumah, untuk bersiap menjamu tamu yang datang.

Para saudara dan handai tolan dari luar daerah menjadi undangan untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan tuan rumah.

Yang membanggakan, meski tamu tak saling kenal, bisa berkunjung dan mencicipi apa yang sudah disediakan tuan rumah.

Tradisi Pengucapan Minahasa ini mirip dengan perayaan Thanksgiving Day di Amerika Serikat, perayaan yang dilakukan hari Kamis, minggu keempat bulan November.

Perayaan Pengucapan sudah mulai beberapa hari jelang hari H. Hari perayaan selalu bertepatan dengan hari Minggu, yang juga menjadi hari ibadah umat Kristiani, agama mayoritas warga Minahasa.

Makanan khas tanah Minahasa menjadi menu wajib dalam perjamuan sosial persaudaraan tersebut.

Perayaan Pengucapan ini bahkan hampir setara dengan hari Natal bagi warga Minahasa. Ini adalah ‘Hari wajib’ berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, mirip budaya mudik di Pulau Jawa.

Baca Juga:  Makam Imam Bonjol, Cagar Budaya Peringkat Nasional

Tak heran jika sepanjang jalan di Kabupaten Minahasa akan padat merayap. Para tamu pasti akan terjebak kemacetan yang bisa memakan waktu 4-8 jam perjalanan.

Sementara itu, Perayaan pengucapan menjadi momentum dan sarana sebagai ajang pertemuan keluarga dan teman untuk berbagi cerita.

Quality time tersebut akan memperkuat ikatan kekerabatan. Nilai suci yang selalu para leluhur dan tetua Minahasa ajarkan, persatuan dan semangat berbagi.

Jenis masakan yang tersaji juga begitu beragam. Ada berbagai jenis daging dan sayuran. Karena mayoritas penduduk Minahasa beragama Kristen, wajar jika banyak makanan tidak halal bagi tamu beragama Islam.

Namun bagi tamu yang muslim, tuan rumah pasti akan menyediakan masakan yang halal. Hal itu sudah lumrah sebagai bentuk saling menghargai dan menghormati antar pemeluk agama di Sulawesi Utara.

Ada juga dua penganan khas, yang identik dengan perayaan pengucapan ini yakni dodol dan nasi jaha.

Setiap tamu yang pamitan pulang pasti akan mendapat bungkusan makanan termasuk kue khas pengucapan dodol dan nasi jaha.

Kini, perayaan pengucapan hadir di beberapa daerah di Sulawesi Utara seperti Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kota Bitung, Kota Tomohon dan Kota Manado.

Perayaan pengucapan juga selalu menjadi sarana mempererat persatuan warga antar daerah dan antar agama.

Pengucapan memang sebuah tradisi peninggalan leluhur minahasa yang kaya pesan terutama dalam nilai kemanusiaan, persaudaraan dan toleransi.

Penulis: F. G. Tangkudung

News Feed